Tampilkan postingan dengan label Masuk Kristen - Atheis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masuk Kristen - Atheis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 April 2015

Kirsten Powers Atheis Yang Bertobat

Kirsten Powers, seorang jurnalis dari kantor berita Fox News dan bekerja untuk partai Demokrat Amerika Serikat, bersaksi bagaimana ia seorang yang alergi dengan hal-hal yang berbau “Kristen” namun sekarang dia memeluknya dengan gembira bahkan ia terang-terangan menyatakan dirinya “Kristen lahir baru” dan menjadi pengikut Yeshua.

Joe Kovacs, adalah seorang penulis kesaksian Kirsten, berikut ini bagian besar laporannya. Joe adalah penulis dari buku “Shocked by the Bible: The Most Astonishing Facts You’ve Never Been Told” dan, “The Divine Secret: The Awesome and Untold Truth About Your Phenomenal Destiny.”

Kirsten Powers wanita yang cerdas, cantik, komentator Demokrat pada Fox News, yang adalah seorang atheis hampir dalam seluruh kehidupannya sampai akhirnya dia berkata bahwa dia telah mengalami pertemuan pribadi dengan Yeshua.

Latar belakang Kirsten

Kirsten telah bertumbuh di Gereja Episcopal di Alaska, namun mengakui bahwa imannya saat itu “dangkal” dan “tipis.” Tetapi ketika ia memasuki perguran tinggi, kenyataan kehadiran Elohim telah lenyap dari dirinya khususnya ketika ayahnya sendiri mulai luntur imannya.

“Mulai awal usia dua puluh dan seterunya, saya terombang-ambing antara atheism (tidak percaya adanya Elohim) dan agnosticism (keyakinan yang sama sekali menolak adanya kebenaran yang mutlak), tidak pernah datang mendekat untuk berpikir bahwa Elohim dapatlah ada nyata.”

Setelah lulus dari bangku kuliah, Powers bekerja dengan team Clinton (politikus) dari tahun 1992 sampai 1998, menyadari politik-politik Demokrat “adalah agama kami, untuk sebuah batas tertentu.”

“Semua teman saya adalah sekuler, liberal,” ia bercerita kepada Radio Focus on the Family. “Jadi, saya sungguh pergi semakin masuk ke dalam sebuah dunia sekuler secara luar biasa. Sekarang semua teman saya pada dasarnya adalah orang-orang atheist, atau jika mereka ada memiliki sejenis hal yang bersifat rohani, mereka sangatlah tidak bersahabat terhadap keagamaan, khususnya Kristianiti. Jadi saya saat itu sungguh tidak ada ketertarikan sama sekali tentang itu.” [Anda lihat betapa media Barat telah berhasil menipu banyak orang dengan memutar balik citra Kristianiti - ajaran Yeshua, Anak Manusia yang tanpa noda dan dosa dan ajarannya sangat mulia]

”Jadi ketika saya mulai pacaran dengan seorang pria yang percaya Yeshua,” ia menulis, ”saya tidak mencari Elohim. Jelasnya, seminggu sebelum saya bertemu pria ini, seorang teman saya bertanya pada ku jika memiliki hal tertentu untuk pacaran. Respon saya : ’Siapa saja asal ia tidak beragama.’”

Bulan-bulan pertama dalam masa pacaran mereka, pacar prianya bertanya pada Kirsten, “Apakah kamu percaya Yeshua adalah Juruselamatmu?”
“Perutku tenggelam. Saya mulai panic,”
ia mengingat, “Oh tidak, pikiran pertamaku. Pria ini gila.”

Ketika Kirsten respond bernada negative, maka pacar prianya mulai bertanya, ”Apakah kamu berpikir kamu dapatlah pernah mempercayai itu?” Pria ini mungkin berkehendak menikahi Kirsten, namun menandaskan bahwa ia tidaklah dapat menjalin hubungan dengan seorang yang bukan Kristen.

Kirsten menjawab dengan jujur, “Saya berkata, saya tidak ingin menyesatkan pacarnya – saya tidak akan pernah percaya kepada Yeshua,” ia bercerita. Lalu pria ini berkata perkataan ‘magic’ kepada wanita liberal ini: ‘Apakah kamu pikir kamu dapat tetap berpkiran terbuka tentang hal itu?’ Well, tentu saja. ‘saya orang yang sangat berpikiran terbuka! Meskipun saya saat itu tidak sama sekali berpikiran terbuka.’”

“Jika ada satu hal yang saya benar-benar aman, itu adalah bahwa saya tidak akan pernah mematuhi agama apapun – terutama kepada Kristen Injili, yang saya pernah mengadakan penghinaan khususnya,” ia menulis di Chritianity Today.

Bagaimanapun ia memutuskan untuk sekali saja berkunjung ke gereja pacarnya.

Mulai melihat terang

Saat Kirsten pertama kalinya berkunjung ke gereja, ia menjadi tertarik dengan kotbah pendetanya. “Pendeta ini menerangkan pesannya dengan pengetahuan yang dalam, berpindah dari seni, sejarah dan filsafat. Saya memutuskan untuk kembali mendengarnya kembali. Segera, mendengarkan pendeta Keller berkotbah menjadi inpirasi dari minggu saya.” – namun satu hal yang Kirsten tidak suka: pendeta ini selalu menutup kotbahnya dengan mengaitkan semua hal tersebut dengan Yeshua, Kirsten berkata, ”Untuk bulan-bulan pertama, saya merasa frustasi: Mengapa ia harus menghancurkan percakapan yang bagus sempurna dengan Yeshua nonsense ini?”

Minggu ke minggu, pendeta Keller membicarakan suatu perkara tentang Kristianiti dan perkara melawan atheism dan agnosticism. Itu menantang Kirsten Powers untuk mulai membaca Alkitab dan pacar prianya berdoa dengan dia untuk Elohim menyatakan Diri-Nya sendiri kepada jurnalis tersebut.

Setelah sekitar delapan bulan mendengarkan Keller, journalist ini menyimpulkan “bukti memberatkan pada sisi Kristianiti. Namun saya belum merasakan hubungan dengan Elohim, dan seriusnya, saya tidak bermasalah dengan hal itu. Saya saat itu masih tetap berpikir bahwa orang-orang yang berbicara tentang mendengarkan suara dari Elohim atau mengalami Elohim adalah delusi atau berbohong.”

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. (Yoh 10:27-28)

Yeshua menampakkan diri-Nya kepada Kirsten melalui mimpi

Pada kondisi jiwa seperti di atas ia pergi ke Taiwan, tujuh tahun lalu. Kirsten bertemu dengan Penciptanya. tahun 2006 di Taiwan, Kirsten Powers berkata, “Saya terbangun dalam perasaan seperti dalam persimpangan antara sebuah mimpi dan kenyataan. Yeshua datang kepada ku dan berkata, ‘Inilah Aku (Here I am).’”

Ia bercerita kepada majalah Christianity Today, “Itu terasa sungguh nyata. Saya tidak tahu harus berbuat apa,” Kirsten bercerita, “saya telpon pacar saya, namun sebelum saya punya waktu untuk menjelaskan padanya tentang hal itu, ia bercerita pada ku bahwa ia telah berdoa satu malam sebelumnya dan merasa kami seharusnya putus hubungan. Jadi kami lakukan. Jujurnya, sementara saya kecewa, saya lebih trauma oleh kunjungan Yeshua kepada ku.”

“Saya telah mencoba untuk menghapus pengalaman tersebut sebagai synapses (pembuahan dua jenis sel tubuh) yang salah tembak, tetapi saya tidak dapat menguncangkannya. Ketika saya kembali ke New York beberapa hari kemudian, saya terhilang, Saya tiba-tiba merasakan Elohim ada dimana-mana dan itu sungguh mengerikan. Lebih penting, itu tidak diundang. Itu terasa seperti suatu invasi. Saya mulai takut saya menjadi gila.”

Dalam sebuah wawancara TV di Saluran Fox News dengan Howard Kurtz, “REPORTER’S RELIGIOUS AWAKENING; Becoming a Devout Evangelical Christian,” Kirsten berkata, “Dan saya telah memiliki pengalaman ini dimana saya telah mendapat mimpi layaknya mengakhiri duniaku sedikit, bahwa saya, pada mulanya, hanya berpikir itu hanyalah mimpi, sebab saya sebelumnya sungguh tidak percaya hal-hal seperti itu. Dan mungkin itu hanyalah sebuah mimpi, saya tidak tahu, namun itu menaruh saya pada jalan-jalan setapak pencarian untuk belajar tentang itu. Saya berakhir di dalam pelajaran Alkitab dan sisanya adalah semacam sejarah.” Puluhan kesaksian orang-orang Muslim berjumpa Yeshua di MuslimJourneToHope.com

Itu mengambil sekitar dua tahun untuk Kirsten dapat menerima apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia menghadiri pelajaran Alkitab yang dipimpin oleh Kathy Keller.

Ia teringat ketika pertama kalinya berjalan masuk ke pertemuan tersebut, perutnya terasa terikat oleh sebuah tali. ”Dalam pikiran saya, hanyalah orang-orang aneh dan fanatik yang pergi ke pelajaran-pelajaran Alkitab,” ia menulis. ”Saya tidak ingat apa yang dikatakan hari itu. Namun semua yang saya tahu ketika saya meninggalkan tempat itu, segala sesuatu telah berubah. Saya tidak akan pernah lupa berdiri diluar apartment the Upper East Side itu dan berkata kepada diriku sendiri, ’Itu benar. Itu benar semuanya.’ Dunia terlihat berbeda seluruhnya, seperti sebuah kerudung telah diangkat keluar. Saya tidak memiliki satu kata keraguan. Saya dipenuhi dengan kesukaan yang tidak dapat diterangkan.”

“Ketakutan masa depan (dunia karir) menjadi seorang Kristen yang sungguhan merayap mundur hampir tiba-tiba. Beberapa bulan saya telah menghabiskan waktu melakukan yang terbaik saya bisa untuk bergumul keluar dari Elohim. Tidak ada artinya. Kesetiap tempat saya berpaling, disana Dia berada. Pelan-pelan ketakutan berkurang dan sukacita bertambah. Suara Aungan Sorga telah mengejar saya dan menangkap saya – entah saya suka itu atau tidak.”

Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Mata-Mu melihat, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. Mazmur Daud 139:1-16

Hidup di New York, dimana uang dan material adalah Mamon dan kebebasan hidup adalah Beetzebul dan worldview tentang kehidupan jauh dari nilai-nilai moral Alkitab, Kirsten menghadapi banyak tantangan, banyak dari mereka mempertanyakan keputusan sebagai pengikut Yeshua, ia gambarkan hal dengan ”Itu tidak seperti hidup di Selatan (Amerika Serikat) atau ditempat lain dimana setiap orang Kristen. Saya hidup di sebuah dunia dimana tidak seorangpun orang percaya. Jika saya mendapati satu dollar untuk setipa kali seseorang berkata, ’Saya tidak mengerti: bagaimana kamu dapat ada seorang Demokrat dan ada sebagai seorang Kristen?’ Saya tentunya sudah jadi seorang millioner.” Kirsten bercerita sambil tersenyum.

Komentar saya: Orang Kristen perlu berdoa lebih banyak agar lebih banyak lagi jurnalis mengenal Adonai Yeshua Ha Mashiah !! Kirsten memerlukan dukungan doa orang-orang percaya di dalam menghadapi tantangan di dunia sekitar dia hidup. Iblis sering kali menipu orang percaya dengan lebel-lebel palsu, fakta sesungguhnya ialah Yeshua adalah seorang yang ‘Murni Demokrat’- Dia bergaul dengan Zakeus (pemungut cukai), satu dari murid setian-Nya adalah Maria Magdalena (pelacur yang tertangkap basah, dan diselamatkan). Bedanya Yeshua tidak kompromi dengan dosa seperti kebanyakan para Demokrat Amerika!

 Label palsu Iblis lainnya ialah ”bagaimana kamu bisa jadi seorang Scientist dan tetap seorang Kristen?” atau ”seorang Filsafat dan tetap seorang Kristen?” Fakta bertumpuk menunjukkan bahwa banyak penemuan teknologi yang kita sekarang pakai ditemukan oleh orang-orang Kristen seperti Sir Isaac Newton (ahli matematika dan penemu telescope); professor filsafat abad 20 dari universitas terkenal (seperti CS Lewis, Derek Prince) adalah para Kristen sejati. Tokoh Gereja Barat yang merubah paganism dan barbarian di Eropa menjadi benua ‘Demokrasi’ dan Pembela HAM adalah ahli Alkitab Perjanjian Lama, bernama Saulus orang Tarsus.

Kita harus bangga menjadi pengikut-pengikut Yeshua Ha Mashiah sebab kita adalah ”Garam dan Terang Dunia” lebih lagi kita disebut ”the children of The Most High,” seperti Yeshua berkata kepada para pengikut-Nya: Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Elohim Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Luk 6:35-36)

2 Korintus 5:17 - Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Seorang manusia yang menjadi pengikut Yesus tidak serta merta menjadi militan didalam mental rohaninya. Proses demi proses harus dialami oleh orang itu supaya menjadi seorang yang benar-benar stabil didalam level iman kekristenan-nya. Proses demi proses itu tidaklah mudah, belum lagi proses untuk mempertahankan level keimanan, semua proses itu memerlukan waktu yang tidak singkat juga tidak mudah. Oleh karena itu ada benarnya kita meminta kepada Tuhan Yesus untuk membuat stabil iman kita.

Tetap meminta semangat kepada Tuhan Yesus Kristus untuk menjalani hari-demi hari. Selalu mempunyai prinsip untuk menjadi manusia yang lebih baik dan benar dimata Tuhan. Tetap mengasihi sesama manusia apapun keyakinannya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Richard Morgan Mantan Atheis Menerima Yesus

Richard Morgan, mantan atheis yang kini menjadi seorang Kristen yang lahir baru, baru-baru ini berbicara kepada Apologetics315 tentang hidupnya yang telah berubah justru setelah bergabung dalam komunitas atheis di situs terkenal Richard Dawkins .


Dia menuturkan bahwa pada masa mudanya dia adalah seorang “Kristen biasa-biasa saja” yang secara konstan mencoba melakukan pencarian terhadap sesuatu apapun bentuknya, entah itu spiritual atau bukan. Mencoba menemukan jawaban pada suatu titik kehidupannya dia menemukannya pada gerakan Mormon yang mengubahnya menjadi seorang misionaris. Setelah menjadi misionaris, dia mulai mempertanyakan keyakinannya, yang akhirnya membuatnya meninggalkan kepercayaan Mormonnya.

Morgan terus mencari-cari sesuatu untuk menjadi pegangan hidupnya. Morgan berkata, "Saya menyadari bahwa mungkin sesungguhnya saya sedang mencari suatu konteks sosial di mana saya bisa diterima. Saya pikir pada dasarnya jauh di lubuk hati kita, kita semua ingin diterima dengan cara apa saja. "

Morgan satu hari mulai membaca buku Dawkins, The Blind Watchmaker yang merevolusi hidupnya dan membuat masuk akal semua yang telah dialaminya. Buku ini membuatnya mengalami pencerahan: Tidak ada yang perlu dicari, jadi berhentilah mencari dan lanjutkanlah hidup Anda.
Morgan kemudian berefleksi dari pengalamannya, "Saya punya perasaan bahwa saya tidak pernah benar-benar percaya pada TUHAN tapi saya mencari beberapa alasan psikologis yang tidak sehat [percaya] ... akhirnya keluar sebagai ateis benar-benar adalah pengalaman Haleluya bagi saya."

Minatnya dalam evolusi yang menyebabkan dia mengikuti Richard Dawkins. Setelah menemukan situs sebenarnya dari penulis, Morgan bersemangat untuk berkomunikasi dengan para ilmuwan dan filsuf yang menawarkan wawasan yang lebih dalam mengenai evolusi.

Namun, bukannya membahas sifat evolusi dalam "oasis pemikiran yang jernih," Morgan merasa ngeri saat mendapati di forum Atheist pertama bahwa lebih dari separuh orang menghabiskan waktu mereka untuk mengatakan hal-hal kasar tentang orang Kristen dan menggunakan bahasa yang sangat kotor.

Setelah menyaksikan secara langsung diskusi itu, Morgan setuju bahwa internet itu lebih merupakan tempat di mana orang bisa bersembunyi di balik anonimitas mereka dan mengatakan hal-hal kasar sebagai semacam terapi. Masih mencari jawaban, Morgan terus menjadi bagian dari komunitas itu, dan mengikut sebuah diskusi tentang surat terbuka Pendeta David Robertson yang membahas bab pertama buku Dawkins 'The God Delusion”.

Diminta untuk menulis respon untuk masing-masing bab Dawkins dalam buku ini, pendeta Skotlandia ini akhirnya mengkompilasi semua posting menjadi sebuah buku berjudul The Dawkins Letters.

Para anggota forum mulai mengkritik dan berkata-kata kasar terhadap tulisan Pendeta Robertson. Hal yang membuat Morgan terkesan adalah cara Pendeta Robertson merespons : Dia menjawab dengan ramah dan sopan. "Saya tidak tahu berapa jam ia harus habiskan hanya untuk menjawab dengan sangat tenang dan sopan untuk orang-orang yang mengirim penghinaan yang jahat dan kritik yang kasar," kenang Morgan.

"Dia terus datang kembali dan kadang-kadang dengan beberapa kata dari Kitab Suci."

Selama beberapa hari serangan berlanjut, sampai suatu hari seseorang mengatakan bahwa David Robertson adalah pembohong. Tapi Morgan di semua thread tidak melihat adanya kebohongan dan menanyakan di mana pendeta itu berbohong, membuatnya mendapatkan serangan kritik juga.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai melihat semakin banyak kebrutalan dan kekerasan dari chatting di forum itu. Ia mengingat satu posting mengejutkan di mana administrator situs telah menerbitkan sebuah artikel tentang nabi ekstremis Rusia yang mencoba bunuh diri ketika prediksinya untuk tanggal akhir dunia gagal menjadi kenyataan.

Beberapa post menanggapi kisah itu dengan turut berdukacita tetapi di sisi lain Morgan bertanya-tanya bagaimana setiap orang yang beradab bisa mengatakan mereka ingin melihat jasadnya. Dia menulis protesnya sebagai ekspresi kekecewaannya di forum, salah satu anggota dihormati di situs hanya menjawabnya dengan LOL-tertawa terbahak-bahak.

Saat itulah Morgan menyadari bahwa dia tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang ini. "Aku tidak mengutuk semua ateis," ia menjelaskan dalam wawancara."Saya sedang berbicara tentang ateis anonim pada board diskusi internet dan pesan-pesan mereka mengekspresikan yang sangat negatif, kekanak-kanakan, [dan] penuh kebencian ..."

Kembali ke forum Atheist, Morgan membaca ulang perdebatan dan terkesan pada beberapa aspek partisipasi Robertson.

Pertama, kegigihan dan kehadiran terus-menerus dalam diskusi mengejutkan Morgan . Pendeta Robertson selalu datang kembali dan kadang-kadang bangun dua jam lebih awal di pagi hari untuk memberikan waktu dan tanggapan yang memadai terhadap kritik.

Kedua ia membela dirinya dengan cara dan prinsip yang kuat. Ia bukan tipe Kristen yang mengatakan "Aku cinta kalian semua dan kalian semua baik," tetapi dia adalah jenis orang Kristen yang berdiri untuk apa yang dia yakini .

Morgan mencetak lima puluh lebih halaman postingan Pendeta Robertson lalu membaca semuanya dan dia tidak menemukan adanya kebohongan. Justru yang ia temukan adalah kerendahan hati, kecerdasan, kepekaan, dan beberapa referensi Alkitab.

Dalam keadaan bingung, tanpa Tuhan, Morgan mulai memposting di forum Gereja Free Skotlandia, bagian pelayanan pendeta Robertsoni.

Morgan menulis untuk Robertson tentang bagaimana dia menghargai setiap tanggapan dan komentar, Morgan juga berbagi bagaimana dia tidak bisa percaya pada TUHAN. "Saya bukan seorang atheis karena saya ingin menjadi seorang ateis. Aku bukan ateis bahagia. Aku seorang atheis karena aku tidak bisa percaya kepada TUHAN. "

Menanggapi posting Morgan, Robertson, bertanya dua pertanyaan yang kemudian mengubah hidupnya:

1) Mengapa kamu tidak percaya kepada TUHAN?

2) Apa yang bisa membuat Anda percaya kepada TUHAN?

Mengabaikan pertanyaan pertama sebagai pertanyaan bodoh, reaksi awal Robertson untuk pertanyaan kedua adalah "Tentu tidak ada bukti-bukti."

Pada saat itu, respon naluriah Morgan adalah pada sebuah ayat ini, "Kita mengasihi karena ALLAH lebih dahulu mengasihi kita." Dan di saat itu, Morgan memahami istilah "anugerah yang luar biasa."

"Aku yakin tanpa penjelasan rasional bahwa TUHAN ada, bahwa ia mencintai saya tanpa menunggu saya untuk mencintainya, bahwa dia mencintaiku tanpa syarat tanpa menunggu saya untuk layak mendapatkannya."

"Sains dan filsafat adalah manifestasi indah kapasitas besar dari pikiran manusia, tetapi Firman Allah adalah kebenaran, dan kebenaran adalah apa yang diperlukan untuk membebaskan saya," ujar Morgan. "Hanya hubungan pribadi dengan TUHAN dapat membawa kita untuk apapun yang berarti, kebenaran pribadi, transendental."

Dalam pengalaman baru dengan TUHAN, ia kembali di situs Dawkins dan memposting tentang iman barunya itu. Respon yang dia dapat adalah penghinaan keji dan komentar, "Anda membutuhkan konseling" dan "Ini adalah gangguan otak sementara."

Tetapi sekarang, tiga tahun kemudian, "gangguan otak sementara" yang mempengaruhi Morgan terus bertahan dan berlanjut. Morgan masih kagum dan merasakan kasih Allah setiap hari.

"Saya tidak berhenti untuk tahu semua yang saya tahu sebelumnya dan saya tidak lupa semua yang saya pelajari tentang evolusi atau tiba-tiba kehilangan minat. Aku [hanya] menyadari betapa terbatasnya itu, bagaimana hal itu tidak bisa menjawab kebutuhan manusia yang terdalam.
"Ada kutipan Prancis terkenal yang mengatakan," Dalam hati setiap orang ada kekosongan. Saya menyadari kehadiran kekosongan itu dan bahwa hanya kasih Allah dapat mengisinya."

Morgan menasihati orang percaya untuk berbicara kepada orang-orang dalam bahasa mereka dan memelihara jalur komunikasi yang terbuka seperti yang dilakukan Robertson sebelumnya di forum Atheist, Morgan mengingatkan, "Tidak ada gunanya berbicara kebenaran jika Anda berbicara dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti orang di hadapan Anda. "

Berbicara kepada ateis, Morgan mengatakan, "Sains dan filsafat tidak punya jawaban untuk segalanya. Jika Anda bersedia untuk mendengarkan dengan pikiran terbuka dan hati yang terbuka dan hanya mengatakan 'mungkin saya tidak memiliki semua kebenaran,' yang merupakan tindakan kerendahan hati dan aku tahu bahwa TUHAN tidak pernah menolak atau mengabaikan tindakan kerendahan hati. "

Mengacu pada Wahyu 3 di mana TUHAN YESUS berbicara, "Aku berdiri di pintu dan mengetuk," Morgan menyimpulkan, "TUHAN YESUS mengundang Anda untuk datang dan mengetuk pintu. Dia mengatakan, "AKU di sini, saya berdiri di pintu, dan mengetuk." Yang harus Anda lakukan adalah membuka pintu dan mengundang DIA masuk " ...

Kesaksian Morgan sekarang menjadi bagian dari edisi revisi The Dawkins Letters, oleh David Robertson.

Minggu, 09 November 2008

Ateis Masuk Kristen (C.S. Lewis)

Selama bertahun-tahun, C.S Lewis penulis karya Narnia, merupakan seorang ateis yang sangat sulit untuk diyakinkan tentang keberadaan Tuhan. Dibutuhkan pergumulan intelektual yang panjang sebelum Lewis akhirnya menerima keberadaan Tuhan. Lewis seringkali membombardir teman-temannya di Oxford, tempatnya belajar dan tempat dimana akhirnya ia mengajar, dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan yang baginya memang tidak ada jawabannya.

"Mengapa Tuhan Anda menciptakan alam semesta yang begitu kejam?"
"Mengapa Tuhan Anda mengizinkan seorang bayi meninggal?"
"Mengapa Tuhan Anda mengizinkan hewan yang tidak berdaya menderita sakit?"
"Mengapa Tuhan Anda menciptakan alam semesta yang begitu besar tapi hanya satu planet yang dapat didiami?"

"Mengapa alam semesta ciptaan Tuhan Anda ini berjalan sesuai dengan perkiraan para ilmuwan?"
"Jika Tuhan Anda itu baik dan maha kuasa, mengapa begitu banyak dari makhluk ciptaan-Nya yang tidak gembira? Bukankah Ia maha pengasih?"
"Mengapa manusia selalu terlibat dalam perang dan saling membunuh?"

Salah satu teman diskusinya adalah J.R.R Tolkien, penulis trilogi "Lord of the Ring" yang sangat dihormati Lewis sebagai lawannya dalam berdebat. Salah satu hal yang membuat Lewis mempertimbangkan keberadaan Tuhan yaitu dikarenakan hampir semua teman-temannya yang brillian di Oxford merupakan orang yang percaya pada Tuhan, termasuk Tolkien. Di benaknya, ia sering dibayangi pertanyaan, "Mengapa?"

Lewis adalah sosok yang sangat gemar membaca. Semua karya tulisan dari penulis barat yang terkenal dipelajari dan diteliti olehnya. Chesterton, Samuel Johnson, Spenser, Milton, Dante, John Donne, George Herbert dan Bunyan. Ia menemukan bahwa tulisan mereka sangat mendalam, kaya dan begitu nyata dalam menggambarkan kehidupan sehari-hari. Dan penulis-penulis ini semuanya merupakan orang Kristen. Bagaimana dengan penulis-penulis humanis yang terbesar, yang kebanyakannya adalah ateis? George Bernard Shaw, H.G Wells, John Stuart Mill dan Voltaire - mengapa karya mereka terkesan begitu dangkal, tidak kaya ataupun berisi makna bagi kehidupan sehari-hari?

Pada waktu itu Lewis hanya percaya pada rasionalisme dan materialisme. Tetapi di dalam pencariannya yang panjang, ia akhirnya harus mengakui bahwa materi dan rasio tidak dapat menjelaskan pengalaman manusia. Setelah begitu banyak membaca, ia semakin menyakini akan eksisnya satu pengaruh supranatural. Tetapi masih sulit baginya untuk menerima bahwa rasio yang berada di balik alam semesta ini atau pengaruh supranatural itu adalah Tuhan.

Malam demi malam ia bergumul sendirian di kamarnya di Magdalen Kolej, ia terus menolak untuk menerima identitas dan realitas Sang Mutlak. Di musim semi 1929, saat ia sedang berada di dalam sebuah bus di Oxford, tanpa kata-kata dan sesuatu apapun, tiba-tiba ia merasa terbebani dan dingin, seperti manusia es yang tidak terjangkau. Sesaat ia merasa harus membuat suatu keputusan. Lalu, hatinya yang sekeras batu, sedikit demi sedikit mulai mencair. Ia kemudian percaya. Di dalam kesendiriannya di atas bus, ia akhirnya mengakui bahwa Yang Mutlak adalah Roh. Roh adalah Tuhan. Dan Lewis menjadi seorang percaya (theis).

Ia menulis pada temannya, "Aku menyerah. Aku mengaku Tuhan adalah Tuhan." Ia menggambarkan dirinya sebagai orang percaya yang paling enggan dan patah hati. Ia menulis kepada teman baiknya, "Hal-hal yang mengerikan sedang terjadi kepada saya, sebaiknya Anda segera datang untuk menemui saya, jika tidak saya mungkin akan masuk biara…"

Walaupun Lewis akhirnya menerima eksisnya Tuhan tetapi ia masih belum dapat memahami seluruh konsep tentang Kristus. Ia tidak dapat memahami bagaimana kehidupan dan kematian seseorang yang hidup 2000 tahun yang lalu dapat membantunya sekarang. Ia cukup mengenal Kekristenan untuk mengetahui bahwa teladan Kristus bukanlah jantung dari Kekristenan.

 Ia tahu bahwa ia harus menyakini bahwa darah Domba Allah itu telah menebusnya sekarang.
Lewis mendiskusikan dilemanya dengan Tolkien. Di suatu malam saat mereka berjalan-jalan di antara rusa dan pohon-pohon besar di taman, Lewis mengutarakan dilema yang dialaminya.
Tolkien berkata, "Kekristenan adalah kebenaran, satu fakta historis."

"Jika saya tidak memahami makna penyaliban atau kebangkitan atau penebusan, bagaimana saya dapat percaya pada Kristus?" Lewis berdiskusi.
Tolkien yang tahu Lewis sangat menyukai naskah bukunya tentang Hobbit dan mitos, yang akhirnya diterbitkan sebagai trilogi, "Lord of the Ring", bertanya, "Anda sangat menyukai mitos, bukan?

"Tentu saja" jawab Lewis.
"Apakah Anda senang dengan unsur seorang tuhan yang mati namun hidup kembali?"
"Ya", aku Lewis, "tapi saya tidak tahu mengapa".
"Saya juga tidak," jawab Tolkien. "Mengapa Anda begitu menuntut kejelasan tentang Kekristenan? Terima saja fakta bahwa Kekristenan adalah mitos yang sesungguhnya terjadi."
"Tetapi mitos itu bohong," Lewis berargumentasi, "tidak ada nilainya, walaupun mitos begitu menyenangkan."

"Tidak," Tolkien berpendapat, "mitos yang Anda katakan bohong itu adalah mitos manusia, walaupun mereka mengandung sedikit kebenaran. Mitos yang sepenuhnya benar – kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus – adalah mitos Allah."

"Mungkin saya terlalu menuntut dari suatu misteri, tetapi bukankah percaya itu pada akhirnya adalah kasih karunia dari Allah?" Lewis menalar.

Seminggu setelah percakapan itu, Lewis dibonceng oleh kakaknya, Warnie untuk mengunjungi kebun binatang. Perjalanan ke kebun binatang itu hanya berjarak 50 km, tetapi bagi Lewis perjalanan itu menempuh jarak 2000 tahun. Lewis sendiri tidak dapat merumuskan proses atau alasan yang dapat menjelaskan tentang apa yang terjadi. Ia berkata, bahwa seolah-olah selama ini ia sedang tertidur lena dan tiba-tiba ia sadar dan bangun. Saat ia turun dari sepeda motor itu, ia percaya pada Kristus. Lewis dengan rendah hati menyimpulkan, "Itulah kasih karunia Tuhan". Pada waktu itu Lewis berusia 33 tahun.

Buku pertama yang ditulisnya setelah ia percaya adalah Pilgrim Regress yang mendapat sambutan yang baik dari publik. Lewat buku-buku dan program-program radionya yang popular, Lewis banyak menyakinkan orang awam akan kebenaran Kekristenan. Tetapi Lewis juga sangat menyadari bahwa banyak orang tertarik dengan Kekristenan pada awalnya tetapi, setelah mereka mempelajarinya lebih dalam, mereka akan menolak dengan keras. 

Karena Kekristenan itu tidak mudah. Tuhan menuntut penyerahan yang total dan memperlihatkan kepada manusia akan jurang yang begitu besar antara daging dan yang supranatural.

Untuk menyadarkan orang Kristen akan bahaya yang mengiringi perjalanan spiritual orang percaya, Lewis menulis 31 artikel yang akhirnya dibukukan menjadi The Screwtape Letters. The Screwtape Letters merupakan surat-surat dari seorang setan senior kepada setan junior, yang sedang belajar bagaimana untuk menghancurkan iman orang Kristen. Buku ini diterbitkan pada tahun 1942 dan Lewis mendedikasikan buku itu kepada Tolkien.

Pergumulan intelektual Lewis dari seorang ateis menjadi seorang percaya membuatnya calon yang tepat untuk menulis tentang apologetika atau mempertahankan iman Kekristenan. Lewis akhirnya menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang sering dipakainya untuk menantang orang-orang percaya. Buku yang berjudul The Problems of Pain yang bertujuan untuk menjelaskan penderitaan kemudian menerima sambutan yang hangat di kalangan orang awam. Ia berkata kepada kakaknya, "Saya harus menyakinkan pembaca bahwa saya menganjurkan Kekristenan bukan karena saya menyukainya atau karena itu baik bagi masyarakat, tetapi karena Kekristenan adalah kebenaran. Hal ini memang terjadi. 

Suatu fakta sentral dalam keberadaan kita!" Dari seseorang yang keras menolak kebenaran, Lewis kemudian menjadi seseorang yang tidak tergoyahkan dalam keyakinannya akan kebenaran dan eksistensi Tuhan.

(Artikel berdasarkan buku berjudul "C.S. Lewis, Creator of Narnia" oleh Sam Wellman, 1997)