Tampilkan postingan dengan label Bao The Messenger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bao The Messenger. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2016

BERITA KEDATANGAN TUHAN: MELIHATLAH DARI SISI YANG DIKEHENDAKI INJIL


Saudara-saudariku di dalam Yesus Tuhan,

Hari-hari ini, kita semakin terbiasa membaca artikel-artikel di internet tentang kedatangan Tuhan Yesus yang semakin dekat, berisi nubuat-nubuat, penglihatan-pengihatan, pesan demi pesan.

Dari semua pernyataan itu, ditambah lagi fakta-fakta geopolitik dunia yang memang selaras, kita menjadi percaya, bahwa memang waktunya semakin dekat. YESUS AKAN SEGERA DATANG.

Beberapa hal yang paling sering disampaikan artikel-artikel rohani itu antara lain:
- Mikrochip akan dipaksakan kepada semua orang, dan hanya yang mau menerimanya yang akan bisa membeli atau menjual. Mereka yang menolak akan dikejar-kejar dan dianiaya. Adapun mereka yang menerima, dipastikan akan berakhir di neraka.
- Segera akan terjadi peperangan besar, di seluruh dunia, lebih lagi di Timur Tengah.
-Kelaparan, bencana alam, wabah penyakit menular
-Seruan pertobatan dan hidup kudus
-Bahwa Tuhan hanya mengangkat mereka yang hidup kudus
-Dan lain sebagainya.

Ketika anda membaca salah satu atau beberapa artikel itu, apa yang anda rasakan? Kebanyakan ialah perasaan teror. Kita ketakutan. Dan kita mencoba mengikuti semua pesan-pesan penulis itu untuk bertobat dan konsentrasi penuh hidup kudus. Sebentar-sebentar kita bertobat di hadapan Tuhan, meminta dengan sangat supaya Ia jangan meninggalkan kita. Batin kita gemetar ketakutan.

Kita menjadi sibuk untuk diri kita sendiri. Tak ada lagi gairah sukacita untuk mengabarkan Injil pada orang lain --karena batin kita sendiri sibuk dalam rintihan: O Tuhan, tolong aku, mampukan aku untuk layak terangkat..o Tuhan Yesus...-- tak ada waktu lagi untuk merenungkan kasih seperti "orang Samaria yang baik hati". Saat kita bicara tentang Tuhan pada orang lain, yang kita transferkan pun teror rohani yang sama, yang keluar dari roh kita yang "menggigil" .

Tetapi saya kembali merenungkan semua "hasil" itu dan merasakan ada yang salah. Ada yang hilang disini: damai sejahtera, senyuman sukacita, iman akan kepastian keselamatan. Mengapa seperti ini hasilnya...?

(Baca selengkapnya di  BERITA KEDATANGAN TUHAN: MELIHATLAH DARI SISI YANG DIKEHENDAKI INJIL

Jumat, 22 Januari 2016

MEMAHAMI KASIH KARUNIA ALLAH



Sudahkan anda memahami kasih karunia Allah? Betapa pentingnya anda memahaminya, karena keselamatan kita adalah semata-mata karena kasih karunia Allah oleh iman. Tanpa pemahaman yang benar akan kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus, iman anda tidak kokoh dan mudah digoyahkan oleh rupa-rupa pengajaran dari dunia ini. Ringkasnya, anda mudah untuk disesatkan. Tapi setelah anda memahami benar kasih karunia Allah, mata rohani anda akan terbuka, iman anda akan dikuatkan, dan anda akan dapat menikmati hubungan yang intim dengan Kristus Yesus.

Untuk itu, dapatkan buku saya berjudul "MEMAHAMI KASIH KARUNIA ALLAH" selengkapnya, gratis,
di blog saya. Buku ini telah dibaca ribuan orang berbahasa Indonesia dari seluruh dunia dan telah mewarnai gairah umat Allah akan pemahaman kasih karunia Tuhan Yesus di tahun-tahun terakhir ini, sejak diterbitkan pada tahun 2012 silam, bagi kemuliaan Tuhan kita. Jangan ketinggalan untuk membacanya dan sesudahnya anda akan menyaksikan bahwa roh anda menyala-nyala. Anda tidak akan sama lagi. Anda akan tergerak oleh kasih yang berkobar dan dorongan Roh Kudus untuk menjadi pengerja di ladang Injil.

Silakan klik:

Memahami Kasih Karunia Allah

MENGIKIS ROH AGAMAWI DARI GEREJA TUHAN



Dapatkan buku saya berjudul "MENGIKIS ROH AGAMAWI DARI GEREJA TUHAN" selengkapnya, gratis, dalam bentuk pdf dan anda akan diberkati dengan pewahyuan-pewahyuan untuk pemulihan gereja Kristus, dalam persiapan kita menyongsong Tuhan Yesus yang akan segera datang. Buku ini akan menyingkapkan hal-hal keliru yang umum terjadi di dalam gereja-gereja kita selama ini, meluruskannya kembali ke dalam Injil, dan pada akhirnya menguatkan iman kita akan keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Buku ini sangat perlu dibaca oleh para pengerja di ladang Tuhan.


Karena itu, sangat diharapkan agar saudara pembaca bersedia membagikan buku ini, baik secara online maupun dalam bentuk copy fisik (print) sebanyak-banyaknya, lebih lagi kepada para pendeta, penginjil-penginjil dan pengajar firman Tuhan, yang saudara kenal, untuk mendorong kebangunan rohani di akhir zaman ini di Indonesia maupun seluruh dunia. Tuhan Yesus segera datang. Ia mengasihi kita. Amin.

Untuk mendapatkan buku dimaksud, silakan klik:

Mengikis roh Agamawi dari Gereja Tuhan

Kamis, 23 Oktober 2014

MELURUSKAN PEMAHAMAN YANG SALAH TENTANG BAPTISAN


Tentang Harus Lahir Baru: Injil Tidak Konsisten atau...?
Satu atau dua generasi sebelum kita mungkin tidak terlalu akrab dengan istilah “lahir baru”. Hal berbeda terjadi di generasi kita, dimana istilah ini begitu populer, khususnya di aliran-aliran baru. Kita membedakan umat kristen ke dalam dua kategori, yaitu kristen lahir baru dan kristen tidak lahir baru, dan percaya –sebagaimana Alkitab ajarkan-  bahwa kristen yang tidak lahir baru tidak akan selamat.


Tetapi saya harus mengingatkan saudara, bahwa secara huruf per huruf, sebenarnya tidak ada istilah lahir baru dalam Alkitab. Yohanes 3 : 3 yang menjadi acuan kita dalam memakai istilah ini, tidak pula memakai frasa itu, melainkan dilahirkan kembali. Dalam surat para rasul sendiri, istilah yang dipakai ada beberapa, yaitu ciptaan baru, manusia baru, manusia rohani dan beberapa yang lain.

Jadi secara hurufiah, istilah lahir baru itu tidak populer di kalangan jemaat mula-mula, melainkan memakai istilah-istilah yang dipakai para rasul. Istilah lahir baru secara hurufiah adalah kreatifitas kita saja. Akan tetapi karena esensinya cenderung sama saja dengan dilahirkan kembali atau manusia baru sebagaimana yang dipakai Alkitab, maka istilah lahir baru itu sah-sah saja. Hanya saja, istilah dilahirkan kembali lebih simpel atau spesifik daripada istilah lahir baru. Kata Dilahirkan membuat kita mudah mengerti bahwa itu bukan hasil perbuatan kita, sebab tidak ada orang yang dilahirkan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh pihak lain. Jadi dalam frasa dilahirkan kembali, pahamnya jelas, yakni perbuatan Allah sendiri, sebuah kasih karunia. Kata lahir dalam lahir baru, kadang-kadang terjebak pada pola paham berusaha untuk lahir baru, sehingga rentan dimasuki "injil perbuatan".

Tuhan Yesus berkata, jika kita tidak dilahirkan kembali, kita tidak bisa selamat. Pernyataan tersebut Ia sampaikan di suatu kesempatan, ketika Ia berbincang-bincang dengan Nikodemus -salah seorang tokoh besar Farisi masa itu-, waktu Nikodemusdatang malam-malam menjumpai Yesus.

Yohanes 3 : 3
Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa ini adalah sebuah syarat mutlak. Jika Yesus telah berkata bahwa orang yang tidak lahir baru tidak dapat selamat, kita harus berkata ya dan amen. Kita tidak mungkin mendebat-Nya. Anda mau selamat? Jika ya, anda harus dilahirkan kembali. Tidak bisa tidak.

Tapi selanjutnya, kita akan melihat berbagai kesalahan yang dianut banyak anak-anak Tuhan di seluruh dunia, yang sudah berlangsung bertahun-tahun, mengenai doktrin lahir baru ini. Doktrin ini telah dipakai sering kali oleh iblis untuk memperlebar perpecahan di dalam gereja Tuhan. Banyak gereja melabeli dirinya gereja lahir baru, dan sebagai konsekuensinya, mereka melabeli yang lain sebagai gereja bukan lahir baru. Ini adalah kalimat lain dari berkata: “mereka semua akan ke neraka”, sebab kita tahu dari perkataan Tuhan Yesus di atas, hanya orang yang lahir baru yang beroleh selamat.

Tetapi saya harus singkapkan ini demi kemurnian tubuh Kristus, bahwa pernyataan itu keluar dari kesalahan memahami arti lahir baru, dari hati yang agamawi dan sombong. Tidak ada sedikit pun kerendahan hati di hadapan Kristus terkandung dalam perkataan seperti itu. Aroma ragi Farisi yang menusuk hidung justru tercium jelas darinya.

Salah satu roh agamawi terbesar yang masuk dan berakar kuat di dalam seluruh gereja, termasuk kita yang menamai diri “gereja lahir baru” adalah roh seremonialisme. Kesalahan itu terletak pada definisi dari lahir baru itu sendiri, dimana banyak orang menjadi seremonialis, atau berpatokan pada upacara lahiriah.
Mari kita dengarkan Nikodemus sejenak. Ketika mendengar perkataan Yesus itu, Nikodemus mengerutkan dahinya sepenuh tidak mengerti. “Dilahirkan kembali? Apakah mungkin kita yang sudah tua ini bisa masuk kembali ke rahim bunda untuk dilahirkan sekali lagi?”

Sebagai pribadi yang lemah lembut dan rendah hati, tentulah Yesus tersenyum, lalu menjelaskan:

Yohanes 3 : 5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Oleh pernyataan Tuhan tersebut, maka kebanyakan orang akan secepat kilat menghubungkannya dengan baptisan selam. Di titik inilah roh seremonialisme seperti  mendapat pijakan kebenaran, sehingga dengan lantang mereka menyimpulkan: “Jadi, barangsiapa tidak dibaptis, dia tidak selamat!”.

Saya tidak mengerti mengapa sangat banyak orang kristen zaman sekarang berkesimpulan seperti ini. Mereka berpijak pada pikiran mereka sendiri dan tidak menyelidiki pikiran Tuhan. Jika mereka memang benar, maka itu berarti Perjanjian Baru adalah sebuah buku yang kacau balau, yang penuh pertentangan satu sama lain.

Mari kita lihat beberapa kasus. Dalam Lukas 7, dikisahkan seorang perempuan berdosa –diyakini para penafsir bahwa dia seorang pelacur terkenal- datang mengurapi kaki Yesus, hal mana membangkitkan rasa risih di hati si orang Farisi yang menjadi tuan rumah. Jelas orang Farisi ini tahu bahwa perempuan itu terkenal sebagai pelacur kenamaan. Tetapi Yesus berkata pada perempuan itu:

Lukas 7 : 50
Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu (kepada-Ku pen.) telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"
Lihat, dalam kasus ini, Yesus memastikan pada perempuan itu bahwa dia sudah selamat, karena dia datang dan percaya kepada-Nya. Mungkinkah Yesus membohongi perempuan itu? Tidak, tidak. Perempuan itu jelas-terang sudah selamat, karena Yesus yang memastikannya. Apapun perkataan Tuhan, kita harus tetap berkata ya dan amen.

Tapi, tunggu dulu: Hei, dia tidak dibaptis…?! Hei, perempuan itu belum lahir baru!
Bukankah kepada Nikodemus, Yesus menegaskan: orang yang tidak dilahirkan kembali tidak dapat selamat, dan sesuai pemahaman kita, kaum “gereja lahir baru” ini, itu artinya tidak dibaptis selam, tidak selamat? Ah, kacau. Injil penuh pertentangan!

Kita lihat kasus lainnya. Orang yang tersalib di sebelah kanan Yesus, mungkin sempat turut menyindir Yesus karena Ia lihat tidak melepaskan diri dari salib-Nya, sementara orang ramai yang ada di bawah penuh siutan mengejek dan menantang supaya Ia turun dari salib itu. Tetapi menjelang detik-detik kematiannya, ia menyadari bahwa Yesus tidak memiliki kesalahan apa-apa. Ia mengubah hatinya. Dan kepada Yesus ia berkata: ingatlah aku ketika Engkau datang sebagai Raja. Apa jawab Yesus?

Lukas 23 : 43
Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Ah, apa-apaan sih Tuhan Yesus ini? Mengapa Ia berkata pada Nikodemus bahwa orang hanya bisa selamat jika ia lahir baru -artinya dibaptis selam? Padahal kepada penjahat di sebelah kanan-Nya itu Ia berkata bahwa dia sudah selamat? Juga kepada pelacur yang mengurapi kaki-Nya di Lukas 7 : 50?Ah, mengapa Tuhan Yesus tidak konsisten?

Anda mungkin akan mulai menebak-nebak jangan-jangan perempuan pelacur dan orang tersalib di kanan Yesus itu pasti sudah lahir baru atau sudah dibaptis yang jatuh lagi dalam dosa. Hei, anda tidak memiliki bukti dengan pikiran itu. Itu pikiran daging yang menimbulkan kesesatan.

Juga lihat apa yang Paulus tuliskan:

Roma 10 : 13
Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.
Ini juga tidak konsisten dengan pendapat kita “si kaum gereja lahir baru” mengenai arti kelahiran baru, tetapi justru konsisten dengan kedua kasus orang berdosa di atas.

Jadi bagaimana yang sesungguhnya? Benarkah Injil yang tidak konsisten atau pikiran kita yang tersesat? Kita ini selamat karena lahir baru –maksudnya sudah baptis selam- atau karena percaya Yesus?

Suatu hari saya terlibat perbincangan terbuka di internet dengan seorang saudara, seorang penginjil, dimana perbincangan kami itu dibaca dan dikomentari banyak orang. Kami berdiskusi mengenai perbincangan Yesus dan Nikodemus tentang kelahiran baru. Ia menuliskan beberapa hal yang benar pada saya, tetapi saya terpaksa mengoreksi sepotong pernyataannya. Apa yang saya koreksi itu ialah ini:
Karena Roh Kudus itu adalah ROH BAPA dan ROH Tuhan Yeshua sendiri yang HAKEKATNYA adalah KUDUS (dipisahkan dari hal duniawi) dan SUCI (tidak bernoda-murni adanya), maka TIDAK MUNGKIN ROH itu masuk dan tinggal dalam manusia-manusia yang TIDAK mau dan tidak melakukan perintah-NYA untuk Lahir Baru (Yoh. 3 : 4-6).
Lalu saya menjelaskan kepada beliau apa yang salah dari potongan itu, yaitu potongan terakhir: tidak melakukan perintahNYA untuk Lahir Baru. Yang saudara kita itu maksudkan tentu saja ialah perintah untuk memberi diri dibaptis selam, sebab kemudian kami dan semua pemirsa justru berkutat di seputar doktrin baptisan. Saya harus berkata, tanpa mengurangi rasa kasih saya kepada beliau, bahwa jelas potongan itu berasal dari roh agamawi yang bernama seremonialisme. Jika anda jeli dan cermat, roh ini adalah cabang dari roh induk: “Kita selamat oleh perbuatan.” Ragi Farisi. Dan ada begitu banyak umat Allah di gereja-gereja kita yang menganut paham yang sama, yang telah kita buktikan di atas bahwa paham itu membuat Perjanjian Baru terlihat kacau balau atau saling bertentangan.

Pelbagai Pembaptisan
Baptisan adalah salah satu isu yang paling sensitif di antara gereja, sehingga topik ini akan ditutup-tutupi apabila ada pertemuan antar gereja, untuk menjaga toleransi atau perasaan pendeta sebelah. Ironisnya, di dalam gereja masing-masing, tetap saja ada pencibiran atas cara baptisan gereja lain, sehingga tetap memelihara  jurang di dalam hati masing-masing serta membuat segala senyuman persaudaraan dalam pertemuan interdenominasi menjadi seolah-olah hanya senyum kepura-puraan.

Kita terlalu lama diperbodoh oleh pikiran-pikiran daging, yang diilhami oleh si penipu, mengenai baptisan. Topik baptisan telah menjadi salah satu pintu bagi si jahat untuk mencegah terjadinya kesatuan umat Allah. Itu semua harus dihentikan. Pengertian-pengertian baptisan yang salah dan agamawi, yang  menjadi tembok pemisah antar saudara dalam Kristus harus dirubuhkan, dengan cara kembali kepada Injil yang benar. Kita tidak menciptakan sebuah kompromi, tapi mengembalikan baptisan itu sesuai dengan Injil Kristus.

Pertama-tama mengenai cara baptisan, gereja terbelah ke dalam dua cara, yakni cara percik dan cara dibenamkan. Mungkin ada cara curah atau guyur seperti ternyata acap dilakukan di masa awal gereja, tetapi saya belum pernah mendengar di zaman sekarang masih ada lagi praktek seperti itu.

Diyakini, bahwa pada zaman jemaat mula-mula saja, paling tidak satu generasi sesudah para rasul, telah ada cara curah selain cara penenggelaman dalam pembaptisan. Itulah sebabnya penulis Kitab Ibrani menulis frasa “pelbagai pembaptisan” (Ibrani 6 : 2), hal mana menimbulkan kesan kuat bahwa pada waktu itu telah terdapat lebih dari satu macam cara baptis. Kita bisa meyakini itu sebagai fakta karena tertulis pula di dalam sebuah kitab bernama Didache.

Didache adalah sebuah buku katekismus atau petunjuk teknis peribadatan –mungkin yang pertama sekali dibuat- yang sekalipun tidak dimasukkan sebagai kitab suci kanonik, tetapi penulisnya dipercaya adalah seorang yang berasal dari kalangan pemimpin gereja purba. Para peneliti berpendapat kitab itu ditulis antara tahun 70 – 120 masehi, atau sezaman dengan para rasul akhir atau generasi setelah mereka.  Belum dapat diketahui siapa penulisnya, tetapi karena ia banyak memakai kata “Wahai anakku”, dipercaya penulis kitab Didache tentulah seorang yang sudah berumur cukup sepuh serta dihormati. Bisa saja dia murid dari salah seorang rasul, yang telah menjadi tua.

Kitab ini tidak dianggap suci sehingga tidak dimasukkan sebagai bagian Alkitab, karena isi buku itu lebih sebagai petunjuk teknis tatacara ibadah atau liturgi, daripada pengajaran tentang kebenaran Kristus. Dalam pasal 7 mengenai baptisan, penulis Kitab Didache berkata begini:

Didache 7: 1-3
Berkenaan dengan pembaptisan, baptislah dengan cara seperti ini: setelah apa-apa yang kami katakan terdahulu, baptislah dengan nama Tuhan Bapa, Anak dan Roh Kudus, dengan air yang mengalir. Apabila kamu tidak mendapatkan air yang mengalir, baptislah dengan air yang lain. Bila memungkinkan, dengan air dingin (sejuk), jika tidak, dengan air panas. Jika keduanya tidak kamu dapati, maka guyurkanlah air ke kepala tiga kali dengan menyebut nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Pernyataan Kitab Didache ini memberi petunjuk kepada kita bahwa pada generasi-generasi pertama gereja sendiri, sudah ada cara lain untuk pembaptisan, yaitu cara diguyurkan.
Metode curah atau guyur dilakukan tentu untuk mengakali situasi-situasi atau keadaan kawasan-kawasan tertentu dimana sulit sekali ditemukan air yang cukup untuk merendam. Gambarannya seperti cara orang Indonesia mandi, yaitu mengguyur badan dengan memakai gayung. Meski cara mandi masyarakat Timur Tengah dan Eropa zaman itu lebih umum dengan berendam di kolam atau bak pemandian, sangat masuk akal bila pada saat-saat tertentu orang mandi dengan cara guyur, seperti di negeri kita.

Cara curah masih mudah diterima akal sehat sebagai salah satu cara permandian atau pembaptisan, sebab meski cara itu tidak mengesankan simbolisasi penenggelaman manusia lama, cara itu masih mengesankan pemandian atau pencucian manusia lama. Sementara cara percik, agaknya sulit untuk menggolongkannya masih termasuk dalam makna kata mandi apalagi penenggelaman.

Jadi, mengacu pada kata aslinya, baptizo,yang artinya membenamkan dalam air, maka metode pembaptisan yang paling tepat dengan itu jelas cara ditenggelamkan atau dibenamkan ke dalam air. Lagi pula baptisan adalah gambaran penguburan manusia lama di dalam kematian Kristus, untuk bangkit menjadi manusia baru -dilahirkan kembali- di dalam kebangkitan-Nya.

Roma 6 : 4
Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisandalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.
Tetapi memang benar bahwa kata baptizomengalami perluasan arti sehingga bisa pula diterjemahkan memandikan, membasuh atau menyucikan dengan air. Makna intinya ialah membersihkan kotoran-kotoran dari objek dengan air sehingga benda itu menjadi bersih. Ibarat piring kotor atau bekas pakai yang dicuci dengan air sehingga kembali bersih dan siap pakai. Itulah makna yang terkandung dalam kata  baptizo.Akan tetapi seturut dengan arti yang dilambangkannya, yaitu turut dikuburkan dalam kematian Yesus Kristus, maka metode baptis yang paling tepat ialah dengan menenggelamkan, atau baptisan selam. Cara ini pula yang diteladankan Yohanes Pembaptis maupun para rasul. Yohanes Pembaptis melakukan pelayanan pembaptisannya di sungai Yordan. Tentu jika ia membaptis dengan cara guyur apalagi percik, ia bisa melakukannya di halaman rumah, tidak perlu jauh-jauh ke sungai Yordan.

Seremonialisme: Kesesatan Agamawi Mengenai Baptisan
Sekarang kita kembali kepada pernyataan Tuhan Yesus kepada Nikodemus tentang definisi “dilahirkan kembali khususnya mengenai arti lahir dari air. Kita semua percaya dan sepakat bahwa yang dimaksud oleh-Nya dengan “air” disitu adalah baptisan.

Di ayat lain, Tuhan juga mengungkapkan siapa yang selamat, siapa yang tidak.

Markus 16:16
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Saudara,
Ayat di atas, maupun pernyataan pada Nikodemus, telah menjadi sumber dari segala kesalahan kita –yang memakai pikiran manusia-, generasi demi generasi, mengenai baptisan. Seluruhnya berangkat dari pemahaman seremonialisme, yang mengatakan bahwa kelahiran kembali baru terjadi sejak pembaptisan, sementara di sisi lain, kita semua percaya bahwa orang yang tidak lahir baru tidak akan selamat.

Sudahkah anda tahu sejarah awal munculnya praktek pembaptisan bayi?

Beberapa generasi setelah para rasul berlalu, ketika gereja dimana-mana mulai dikuasai roh agamawi, muncullah pandangan seremonialisme ini.

Mengacu pada Markus 16 : 16 dan Yohanes 3 : 5, semua orang saat itu berkata bahwa jika tidak dibaptis, tidak akan selamat, karena tidak lahir baru.

Berhubung dengan doktrin tentang dosa turunan, maka bangkitlah kegelisahan di antara jemaat, khususnya mereka yang masih memiliki anak bayi. Mereka takut bila bayi-bayi mereka tiba-tiba mati, sudah pasti masuk neraka karena tidak sempat dibaptis. Alangkah jahatnya orang tua yang mengetahui “cara untuk selamat” tetapi tidak berbuat apa-apa bagi keselamatan bayi mereka.

Jemaat-jemaat tersebut akhirnya mendesak pemimpin gereja untuk membaptis bayi-bayi mereka. Setelah usulan itu dikaji dengan mempertimbangkan Markus 16 : 16, dimana dianut pandangan bahwa tanpa baptisan tidak ada kelahiran baru (keselamatan), akhirnya gereja setuju. Sejak itu, bayi mulai dibaptis. Praktek itu segera meluas ke seluruh dunia Kristen, turun temurun, demikianlah berlangsung sampai hari ini. Tentang mengapa metode baptisnya kemudian menjadi percik dan bukan lagi selam, itu persoalan lain lagi.

Saya berbicara kepada anda yang menolak baptisan bayi sambil berkata: tanpa baptisan, tidak ada kelahiran baru.

Kita, yang mempraktekkan baptisan selam dan mempercayai bahwa baptisan adalah tanda pertobatan, menolak praktek baptisan bayi. Bayi tidak memiliki kehendak apa-apa, sementara pertobatan itu haruslah selalu datang dari kehendak sendiri. Dengan demikian, kita tidak menganggap baptisan bayi sebagai baptisan, sehingga sesungguhnya mereka belum pernah dibaptis, menurut definisi baptisan dalam Alkitab.

Tetapi karena kita juga menganut roh agamawi yang bernama seremonialisme itu, tak dapat dihindarkan, kita pun terperosok ke dalam lubang yang sama. Sama seperti merekayang membaptiskan bayi karena percaya bahwa siapapun yang tidak dibaptis tidak bisa selamat, kita juga berkata bahwa setiap orang yang tidak dibaptis, tidak lahir baru sehingga pasti tidak selamat. Sama seperti mereka, kita menganut paham bahwa kelahiran baru (keselamatan) hanya terjadi lewat baptisan.Bila ditanya apa alasannya, sama seperti mereka, kita juga akan menunjuk Yohanes 3 : 5 dan Markus 16 : 16.

Sama saja bukan? Bahkan mereka yang membaptis bayi lebih masuk akal, karena mereka tidak ingin bayi-bayi mereka masuk neraka bila tiba-tiba mati. Bagaimana dengan bayi-bayi anda yang tidak anda baptis? Konsekuensi dari pendapat kita yang berkata: tidak dibaptis, tidak selamat, maka itu artinya bayi-bayi kita yang mati sekarang ada di neraka! Wah, wah, wah...
Jadi sekarang jelas semuanya. Orang zaman dulu membaptis bayi karena percaya bahwa siapa saja yang tidak dibaptis tidak akan selamat. Mereka menganut seremonialisme –bahwa kelahiran baru terjadi sejak manusia itu menjalani upacara baptisan. Ironisnya, para penganut baptisan selam  juga berkata hal yang sama.
Oleh doktrin Tanpa Baptisan Tiada Kelahiran Baru, ditambah dengan pengetahuan bahwa seremoni baptisan yang benar ialah baptisan selam atas keputusan sendiri, kita menyatakan bahwa hanya gereja kita yang selamat, sekaligus memastikan bahwa orang-orang seperti Martin Luther, John Wesley, Nommensen dan ratusan juta orang Kristen yang mati mendahului kita, termasuk mereka yang mati martir bagi nama Yesus, semuanya berakhir di neraka hanya karena satu alasan: mereka tidak dibaptis selam. Betapa sesatnya penghakiman itu!
  
Lihatlah betapa soal seremoni baptisan ini telah mencabik-cabik roh persaudaraan di antara kita, sesama orang percaya kepada Kristus Yesus.

Seremonialisme kelahiran baru, dimana dipercaya bahwa kelahiran baru diawali dengan upacara baptisan, juga menjadi dasar teologi seorang penyesat raksasa dari Korea Selatan, Sun Myung Moon, pendiri gereja Unification Church yang pengikutnya ada di seluruh dunia. Ia mengajarkan bahwa penyucian manusia dari dosa terjadi oleh pembaptisan. Hanya mereka yang dibaptis yang beroleh keselamatan. Konsekuensi dari ajarannya itu, seolah Allah telah mengubahkan air baptisan itu sebagai sungai surgawi yang menguduskan manusia dari segala kecemaran.

Ini adalah ajaran yang berakar pada mistik Timur. Mungkin anda tahu, dalam banyak agama mistik Timur, selalu ada yang disebut tempat-tempat suci, entah itu gunung suci, termasuk juga sungai suci. Di dalam agama Hindu, sungai suci mereka adalah Gangga, dan siapa mandi atau dibasuh di air sungai Gangga, ia dikuduskan dari segala dosa. Penyesat dari Korea itu telah dilhami akar mistik yang sama. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa kematian Yesus di atas kayu salib hanya memberi separuh keselamatan saja (tidak sempurna), yang harus disempurnakan dengan perbuatan-perbuatan tertentu. Ia sendiri mengklaim dirinya adalah Kristus selanjutnya, yang menyempurnakan karya penyelamatan Yesus.

Bandingkan ajaran sesat di atas dengan doktrin kita yang berkata bahwa upacara baptisan adalah awal dari kelahiran baru, atau Tanpa Baptisan Tiada Kelahiran Baru. Mengapa kita terjebak di dalam roh seremonialisme yang agamawi mengenai baptisan ini? Itu karena kita lupa arti dari baptisan, atau kalaupun kita ingat, kita tidak sungguh-sungguh menerapkannya.


Baptisan Tanda Pertobatan
Yesus memang berkata: lahir dari air. Kita semua sepakat bahwa itu artinya baptisan. Tapi setiap orang yang gagal mempertahankan arti baptisan sebagai tanda pertobatan di dalam pikirannya, tak paham bahwa itu adalah pernyataan alegoris atau perlambangan.

Baptisan itu sesungguhnya adalah simbolisasi dari pertobatan. Jadi setiap kali Yesus atau rasul menyebut kata “baptisan”, itu haruslah artinya pertobatan. Kita tidak boleh lebih dari situ, tak boleh kurang pula dari situ. Ini anda garis bawahi dulu: bahwa di masa Yesus, tanda orang bertobat adalah memberi diri dibaptis. Itulah arti sesungguhnya dari baptisan.

Jadi, ketika Yesus berkata: “lahir dari air”, Ia sebenarnya sedang mengatakan “bertobat”, secara simbolis. Ketika Ia berkata: “percaya dan dibaptis” di Markus 16:16, Ia sebenarnya sedang memaksudkan “percaya dan bertobat”. Kenapa? Sebab di zaman itu, juga zaman para rasul, sekali lagi saya nyatakan, baptisan adalah murni artinya tanda pertobatan. Mari kita lihat beberapa buktinya:

Matius 3 : 6
Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.
Pelayanan baptisan bermula dari Yohanes Pembaptis, yang membaptis orang di sungai Yordan. Yohanes Pembaptis menyerukan orang Israel untuk bertobat, dan setiap orang yang mendengar seruan itu, pergi kepada Yohanes untuk bertobat dengan cara memberi diri dibaptis.

PERHATIKAN: mereka tidak bertobat hari ini, lalu dibaptis Yohanes dua atau tiga bulan kemudian setelah mereka selesai mendapat konseling atau kursus pemuridan. Bukan. Mereka datang untuk bertobat di hadapan Yohanes, dan Yohanes membaptis mereka detik itu juga. Bertobat sekarang, dibaptis sekarang!
Sekarang coba anda jawab sendiri, sebenarnya Yohanes ini penyeru baptisan atau penyeru pertobatan? Jelas, Yohanes Pembaptis penyeru pertobatan atau penyesalan dari segala dosa. Itulah yang menjadi inti sari pelayanannya. Jadi kita tidak boleh keliru dalam memahami pelayanan Yohanes seolah-olah dia adalah penyeru sakramen baptisan. Dia penyeru pertobatan!

Sekarang kita memeriksa apa yag dilakukan para rasul Yesus Kristus.

Kisah Para Rasul 2 : 41
Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 
Ini adalah KKR pertama yang pernah terjadi, persis di Hari Pentakosta. Petrus berkhotbah pada kerumunan massa yang berkumpul untuk menyaksikan keanehan yang terjadi -dimana para pengikut Kristus terlihat seperti orang-orang mabuk- oleh pencurahan Roh Kudus.

Oleh urapan Roh, Petrus berhasil menggetarkan seluruh orang dengan khotbah Injil Kristus yang ia sampaikan. Dengan hati yang sangat terharu, kerumunan itu bertanya pada Petrus apa yang harus mereka lakukan untuk beroleh anugerah keselamatan tersebut. Dan Petrus menjawab: “Bertobatlah dan beri dirimu dibaptis di dalam nama Yesus Kristus”. Kerumunan itu menurut, lalu hari itu juga mereka dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka, dan jumlah petobat itu sebanyak tiga ribu jiwa. Hari itu juga. Bertobat sekarang, dibaptis sekarang!
Berapa lama kira-kira durasi khotbah Petrus? Melihat dari rangkuman khotbahnya, sepertinya paling lama ia berkhotbah satu jam. Sehabis berkhotbah itu, para hadirin langsung merespon untuk bertobat, dan dibaptis saat itu juga. Mengingat jumlah yang turut dibaptis sebanyak tiga ribu orang, tampaknya justru upacara baptisan itu yang makan waktu lebih dari satu jam –mungkin sampai sore, sebab lokasi Petrus berkhotbah tidak berada di tepi sungai besar, melainkan di suatu tempat di dalam kota Yerusalem. Kemungkinan besar, seremoni pembaptisan itu dilakukan di dalam kolam pemandian, sehingga barisan antrian tentu panjang. Itulah sebabnya Alkitab menerangkan dan pada hari itu juga.

Selanjutnya kita lihat apa yang dilakukan oleh Filipus.
Kisah Para Rasul 8 : 38
Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.

Anda sudah tahu kisah ini. Ada seorang sida-sida dari Etiopia sedang dalam perjalanan naik kereta, sambil membaca Kitab Nabi Yesaya. Filipus –kemungkinan besar berjalan kaki- mendekati kereta itu. Sambil ia berjalan di samping kereta itu, sambil ia menceritakan Injil Yesus. Sida-sida itu begitu memperhatikan dan akhirnya percaya, lalu ia meminta dibaptis (bertobat kepada Kristus Yesus) saat itu juga. Dan Filipus melakukannya. Berapa lama Filipus memberi penjelasan? Melihat dari rangkuman khotbahnya, katakanlah satu atau dua jam. Yang pasti, upacara baptisan itu terjadi saat itu juga. Bertobat sekarang, dibaptis sekarang!
Sekarang kita lihat juga apa yang dilakukan oleh Paulus:

Kisah Para Rasul 16 : 33
Pada jam itu juga kepala penjara ituk membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.
Ini adalah kisah dimana Paulus dan Silas malam itu sedang terpenjara karena Injil. Malam itu mereka menyanyi memuji Tuhan, lalu terjadilah gempa bumi yang hebat, yang membuat sendi-sendi penjara itu goyah hingga semua pintu dan semua belenggu para tahanan terlepas. Kepala penjara yang terbangun oleh gempa, saat itu juga menilik keadaan penjara. Ia demikian takut melihat semuanya sudah terbuka. Ketika ia hendak bunuh diri, Paulus mencegahnya, lalu menceritakan Injil Yesus kepadanya. Dan lihat, ayat di atas berkata pada jam itu juga – yaitu jam dimana Paulus menginjilinya, dan seketika itu juga –usai Paulus selesai berbicara, ia dan keluarganya dibaptis. Bertobat sekarang, dibaptis sekarang!
Demikianlah di zaman Yesus dan para rasul, baptisan benar-benar perlambang lahiriah dari pertobatan, yang dilakukan seketika itu juga, yaitu pada saat orang memutuskan bertobat. Hal itu membuat setiap kali orang di zaman itu berkata: “Kemarin sore dia memutuskan untuk bertobat”, secara otomatis terbentuk gambaran di benak pendengar bahwa kemarin sore orang itu dibaptis. Atau sebaliknya, setiap kali orang di zaman itu berkata: “Berilah dirimu dibaptis,” secara otomatis pendengar tahu arti rohaniahnya yaitu “Bertobatlah.”

Bandingkanlah itu dengan pernyataan berikut: “Dia sudah diwisuda”, maka sudah pasti akan terbentuk definisi di benak pendengar yaitu: “Dia sudah lulus kuliahnya.” Juga ketika orang berkata: “Dia sudah lulus kuliahnya,” maka sudah pasti orang membayangkan orang itu telah diwisuda. Wisuda adalah tanda lahiriah dari lulus kuliah.

Sekarang anda sudah mengerti, bahwa setiap kali di dalam Injil, Yesus berkata: dibaptis, itu artinya bertobat, dan setiap kali dikatakan: bertobat, itu artinya adalah dibaptis (pada saat yang bersamaan). Mari kita buat semuanya menjadi terang:

Yohanes 3 : 5
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Dengan kata lain:
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak bertobat dan (dilahirkan dari) Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Markus 16 : 16
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Dengan kata lain:
Siapa yang percaya dan bertobat akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Akan tetapi saya harus memberitahukan sekali lagi, tanpa anda mengerti bahwa di zaman Yesus, bertobat = dibaptis, dibaptis = bertobat, yang dilakukan pada detik yang bersamaan, maka anda tidak akan sanggup menerima kenyataan itu. Kenapa? Sebab pikiran anda selama ini dikuasai oleh doktrin SEREMONIALISME.
Kesesatan  Kita: Baptisan Adalah Langkah Berikutnya Setelah Bertobat
Di masa sekarang, dimana kekristenan telah dirantai oleh sistem-sistem liturgi agamawi, yang mendegradasi ajaran Terang Kristus menjadi Sistem Agama Kristen, pertobatan telah terpisah dari baptisan. Kita menyebut baptisan itu sakramen, yang artinya seremoni sakral, entah dari kitab mana kita mengambil istilah itu. Sungguh itu hanya bisa-bisanya manusia, guru-guru Sistem Agama Kristen (ahli teologi) dari zaman yang disebut Zaman Kegelapan Gereja yang agamawi itu, dan kita mengamininya tanpa dasar, sehingga tanpa sadar kita telah menciptakan kitab suci tambahan.

Di satu kubu, khususnya yang mempraktekkan baptisan bayi, baptisan sudah mirip sebagai tanda inagurasi, tanda pelantikan, untuk menjadi anggota gereja, tak peduli orangnya bertobat atau tidak. Baptisan telah berubah dari pernyataan pertobatan menjadi upacara seremonial agama -dan ini menyedihkan.

Di kubu yang mempraktekkan baptisan selam, juga umumnya salah kaprah. Demi mempertahankan status sakramen tadi, baptisan bukan lagi tanda pertobatan namun telah menjadi langkah berikutnya dari pertobatan.

Baptisan kita sebut sakramen sedangkan pertobatan bukan
, sehingga dengan demikian,  kita memisahkan keduanya dan memberi definisi yang tidak alkitabiah pada baptisan. Hari ini kita mempertobatkan orang kepada Yesus, tapi baru membaptisnya beberapa bulan kemudian, menurut jadwal gereja, setelah mereka mengikuti suatu rangkaian pemuridan. Kita membuat prasyarat tambahan bagi para peserta baptisan, bukan lagi sebatas keputusan bulat untuk bertobat.

Itulah sebabnya saya katakan bahwa dalam prakteknya, baptisan selam yang kita praktekkan pun sesungguhnya bukan lagi tanda pertobatan sebagaimana Alkitab ajarkan, tetapi adalah langkah berikutnya setelah pertobatan. Bertobat sekarang, dibaptis belakangan.
Kenapa dibaptis belakangan? Karena harus menunggu jadwal kesibukan gereja dan Pak Pendeta, juga para peserta harus lebih dulu mengikuti semacam kursus pemuridan yang berminggu-minggu. Tidak dapat tidak, ini juga “alkitab tambahan”. Agamawi!

Kita membiarkan semua orang percaya menginjil dan mempetobatkan orang berdosa, tetapi tidak membiarkan mereka untuk membaptis, karena itu tadi: baptisan itu sakramen, bertobat bukan sakramen. Dari situ saja sudah jelas bahwa kita menganggap kedua peristiwa itu berbeda. Soal menginjili dan mempertobatkan orang, siapa saja boleh, karena itu bukan sakramen. Soal pembaptisan, kita berkata: harus oleh pendeta, yang sudah punya lisensi, punya sertifikat sebagai pendeta, karena itu sakramen.

Ironisnya, ketika kita telah memisahkan peristiwa bertobat dan dibaptis, kita masih saja berkata: Tanpa Baptisan, Tiada Kelahiran Baru. Tidak lahir baru, tidak selamat.

Kesimpulan kita, yang dibutakan roh agamawi seremonialisme ini: Jika anda tidak mengikuti seremoni baptisan selam, anda tidak akan selamat. Tanpa sadar, kita mengajarkan bahwa sumber keselamatan manusia ialah perbuatan sendiri, bukan kasih karunia dari peristiwa salib di Golgota.

Kadang kala, gereja kita hanya menjadwalkan upacara baptisan itu dua kali dalam satu tahun, supaya ramai-ramai maksudnya, sedangkan penginjilan untuk mempertobatkan silakan dilakukan jemaat-jemaat yang terpanggil setiap hari. Sementara itu mereka yang telah bertobat tadi, karena belum dibaptis, tetap kita sebut belum lahir baru.

Aneh sekali. Kita mempertobatkan manusia kepada Kristus, tapi bilang: "Tunggu dulu lahir barunya lima bulan lagi, karena Pak Pendeta sibuk banget,nggak sempat membaptis." Lalu jemaat polos itu bertanya: "Tapi Pak, kalau saya keburu mati, padahal saya belum dibaptis untuk lahir baru, gimana dong? Batal dong saya masuk sorga, masuk neraka dong saya...??" Dengan gaya yang agamawi, kita bilang: "Ya makanya sebelum dibaptis jaga kesehatan dulu baik-baik, jangan sampai mati dulu. Minta Tuhan jagai!" Doktrin yang begini sudah sangat mengacaukan sekali.

Dan itu semakin kacau oleh penambahan birokrasiuntuk pembaptisan ini. Ada begitu banyak gereja pada hari-hari ini mempersyaratkan orang yang ingin dibaptis supaya melampirkan surat ijin dari orang tua bahkan pula surat pengantar pindah gereja dari gerejanya yang lama. Itu sangat sulit, lebih-lebih bagi para perantau maupun mereka yang berasal dari agama seberang. Sudah begitu, gereja ini tetap saja berkata: jika tidak dibaptis selam, tidak lahir baru = tidak selamat.

Lihat, untuk beroleh keselamatan dari Kristus saja, harus memenuhi syarat-syarat birokrasi manusia. Benarkah ini yang diajarkan oleh Tuhan kita..??
Semua kesalahan itu sungguh menyedihkan dan memuakkan. Saya tidak tahu akan berakhir dimana semua orang yang agamawi di kehidupan kekal nanti. Jika anda selama ini salah satu dari mereka, dengan kasih yang sungguh saya mengharapkan anda rela bertobat.


Mari Kembalikan Pada Teladan Injil Kristus

Mestinya ketika orang bertobat, saat itu juga ia harus dibaptis, seperti yang dicontohkan para rasul, supaya tetap terpelihara makna baptisan itu sebagai tanda pertobatan. Dan ijinkan setiap orang yang menginjili petobat itu untuk membaptisnya. Artinya, kalau anda mempertobatkan seseorang, anda mestinya harus membaptisnya saat itu juga. Sayangnya, tidak akan ada gereja di Indonesia -birokrasi agamawi yang payah itu- yang akan mengakui baptisan yang anda lakukan itu. Mereka akan menuntut anda: "Atas nama gereja mana kamu baptis dia? Kamu pendeta denominasi mana, mana surat kuasamu dari pendetamu? Mana sertifikat baptisan orang ini? Baptisanmu ini baptisan liar! Kamu sesat!".

Akibatnya, banyak anak-anak Tuhan yang telah mati tidak dibaptis dengan benar di segala zaman, termasuk zaman Martin Luther, John Wesley, Nommensen, dan ratusan juta lainnya, sejak kekristenan telah berubah dari Kerajaan Allah menjadi birokrasi agama.

Oleh sebab itu, sudah semestinya pejabat-pejabat resmi gereja mulai memurnikan kembali ajaran mereka mengenai baptisan. Semua gereja harus kembali kepada makna baptisan yang alkitabiah, yakni sebagai tanda pertobatan, dan bukan ritual yang disebut sakramen, atau pun langkah berikutnya dari pertobatan, yang sama sekali tidak alkitabiah. Baptisan bayi boleh saja tetap dijalankan, tetapi namanya harus diganti, bukan lagi baptisan melainkan acara penyerahan anak, sebagaimana kebiasaan orang Israel di masa dulu. Lagi pula, bukankah Tuhan juga berkata supaya kita membawa anak-anak itu kepada-Nya?

Mari membongkar rantai-rantai agamawi dari dalam gereja. Tuhan Yesus akan segera datang. Buang istilah sakramen dari benak gereja, supaya kita tidak membuat syarat-syarat agamawi tertentu menurut pangkat-pangkat manusia untuk mengakui seseorang layak membaptis atau tidak. Fokus mata Tuhan tertuju pada si petobat (peserta baptis), apakah ada hati yang sungguh atau tidak, bukan kepada layak tidaknya si pembaptis dari segi umur atau jabatan.

Jadi, biarkan setiap orang yang menginjili membaptis si petobat. Atau jika hal itu dinilai terlalu radikal dan rawan kekacauan, kenapa tidak tunjuk saja penatua lingkungan atau koordinator kelompok sel, atau pelayan-pelayan terlatih, sebagai pengerja resmi yang diakui untuk membaptis, sehingga si orang yang menginjili bisa segera menghubungi mereka tatkala berhasil mempetobatkan seorang jiwa secepatnya, tanpa harus menunggu penjadwalan agenda kerja gembala sidang lagi. Sekalipun sulit untuk dilakukan pada jam yang sama, berupayalah membangun kinerja gereja anda sedemikian rupa sehingga peristiwa pembaptisan sedapat-dapatnya dilangsungkan pada hari yang sama dengan pertobatan orang itu kepada Kristus Yesus.

Buanglah diskusi-diskusi mengenai sakramenbaptisan. Istilah yang tidak ada dalam Alkitab ini membuat kita terjebak pada bayangan obsesi seolah-olah baptisan adalah sebuah seremoni yang harus dilakukan dengan tatacara yang sangat agung, penuh lambang-lambang agama, penuh khusuk, jubah-jubah putih, serta urutan-urutan liturgi protokoler yang mencekam. Semua itu kesakralan palsu.

Jika anda saya minta membayangkan bagaimana suasananya saat Yohanes Pembaptis membaptis ratusan orang di sungai Yordan setiap hari, atau saat Petrus dkk. membaptis ketiga ribu petobat baru di Yerusalem itu, seperti apa anda membayangkannya?

Saya membayangkannya sangat hiruk pikuk, penuh senyuman sukacita, penuh pelukan kasih, penuh tegur sapa dan sendau gurau. Petrus pasti banyak tertawa atau tersenyum saat membenamkan orang-orang itu ke dalam air, dan orang-orang itu mungkin ada juga yang menggodai Petrus lalu berpelukan penuh kasih sukacita, dan tentu saja air mata haru. Tidak ada liturgi atau protokoler yang kaku disana, tidak ada jubah-jubah seragam –melainkan pakaian yang melekat di badan saja.

Meski keteraturan itu perlu, kesakralan tidak diukur Tuhan dari keteraturan liturgi yang dibuat manusia, melainkan dari kesungguhan hati yang Allah temukan di tempat itu. Di dalam Tuhan, segala aktivitas yang kita lakukan adalah sakramen atau aktivitas kudus. Makan adalah kudus, bersendau gurau adalah kudus, tidur adalah kudus, bernyanyi adalah kudus, berdoa adalah kudus. Sebab bukan karena kita melakukannya dengan “agung dan khikmat” menurut citarasa estetika manusia yang membuatnya menjadi kudus, tetapi karena kita melakukannya dari hati dalam hadirat Yang Maha Kudus. Hadirat Tuhanlah yang menguduskan, bukan kekhikmatan liturgi. 

Jadi segala kegiatan kita di dalam Tuhan adalah sakramen, adalah sakral. Karena itu, istilah sakramen ini tidak perlu dihubung-hubungkan lagi dengan seremoni tertentu. Buang saja istilah itu sebab istilah itu menggoda jiwa agamawi kita.
Baptisan Adalah Langkah Pertama Kekristenan


Sekarang tentang kebiasaan agamawi banyak gereja, yang membaptis orang setelah orang itu menjalani masa pemuridan beberapa bulan.

Sebagaimana Alkitab katakan, baptisan itu tanda pertobatan atau penyerahan hidup kepada Tuhan Yesus, Juruselamat dunia, yang telah mengorbankan diri-Nya di kayu salib untuk pengampunan dosa manusia. Tidak lebih. Tidak kurang. Jadi jangan menganggap bahwa baptisan itu adalah anak tangga tertinggi dari kekristenan, sehingga orang harus benar-benar dipersiapkan dulu secara matang, termasuk pengetahuan Alkitabnya, barulah orang itu boleh dibaptis.

Kita sudah melihat apa yang terjadi di zaman para rasul. Sesungguh-sungguhnya, baptisan itu justru adalah anak tangga terbawah atau dasar. Baptisan, yaitu pertobatan, semestinya adalah langkah pertama orang-orang memulai perjalanan hidupnya bersama Yesus. Langkah berikutnya adalah pengajaran, pemuridan, pendewasaan, pengujian iman, ketekunan, dan seterusnya.

Para pendeta di zaman agamawi ini menahan dirinya untuk membaptis seseorang karena ia ingin orang itu matang dulu secara pemahaman rohani. Itu salah besar. Lihat apa yang dilakukan para rasul, mereka membaptis orang di saat pertama orang itu menyatakan bersedia terima Yesus, bukan setelah mereka benar-benar telah mengerti agama kristen, atau setelah mereka membuktikan perubahan karakter.

Coba bayangkan lagi KKR Pertama Petrus di Yerusalem, atau saat Paulus membaptis sang kepala penjara dan seisi rumahnya: sedalam apa orang-orang itu telah memahami kebenaran firman Tuhan? Mereka sebelumnya bahkan belum tahu apa-apa tentang Yesus, kecuali mendengar nama dan ketokohan-Nya saja. Ketika mereka dibaptis, mereka hanya mendengar khotbah kurang lebih satu jam, bahkan menjadi khotbah pertama yang mereka pernah dengar tentang arti salib Yesus Kristus. Mereka belum pernah membaca ayat Injil satupun, sebab saat itu Injil belum ditulis. Bisa kita katakan, ketika mereka dibaptis oleh para rasul, pemahaman iman kristen mereka masih NOL. Hanya hati mereka saja yang disentuh oleh khotbah itu. Modal mereka hanya satu, mereka percaya, mereka tergerak, mereka tersentuh, dan mau menyerahkan diri pada Yesus yang telah mengampuni mereka. Soal kedewasaan rohani ataupun pemahaman doktrin Kristen, mereka benar-benar nol.  Tapi lihat, para rasul tidak menunda untuk membaptis mereka.

Kenapa para rasul tidak menunda membaptis mereka? Sebab baptisan itu memang semata-mata hanyalah simbol dari pertobatan. Orang-orang itu sedang dipertobatkan melalui simbolisasi: pembaptisan di dalam nama Yesus. Judul acara mereka adalah: PERTOBATAN, bukan “upacara sakramen baptisan kudus.”


Sekarang, s
ebagai pengurus gereja yang selama ini telah dirantai oleh protokoler liturgi, birokrasi dan paham-paham agamawi seputar upacara baptisan, kita merasa asing dengan apa yang dilakukan para rasul itu. Saya yakin anda sendiri merasa asing dengan tindakan mereka itu. Kita melakukan hal yang jauh berbeda dengan mereka. Kita membuat syarat-syarat sendiri. Kita ditipu oleh imajinasi mistik tatkala mendengar istilah sakramen. Kitakah yang benar atau para rasul itu? Mari kita bertanya pada Tuhan Yesus saja.

Kita tinjau kembali amanat agung Tuhan Yesus, yaitu amanat supaya kita menjangkau segala bangsa menjadi murid-Nya atau pengikut-Nya. Kita akan lihat berada di tahap mana baptisan/pertobatan itu berada.

Matius 28 : 19-20
Karena itu pergilah (= penugasan resmi kepada kita),
jadikanlah semua bangsa murid-Ku (=tujuan kita diutus)
dan baptislah mereka di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (=langkah awal dari rangkaian tugas kita, yang artinya kita sudah tahu yaitu pertobatkanlah mereka),
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu (=langkah seterusnya).
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.


Dari amanat itu, kita sekarang tahu bahwa baptisan (perkara lahiriah dari pertobatan), ternyata ada di tahap dasar dari kehidupan kekristenan. Setelah orang dibaptislah baru dia diajar, bukan sebaliknya.

Dengan demikian, ternyata para rasul itulah yang benar, yaitu membaptis orang sekalipun pemahaman rohani orang itu masih NOL, semata-mata hanya karena orang itu bertobat atau bersedia menerima kasih karunia Yesus Kristus. Para rasul itu membuat segalaya menjadi jelas, bahwa baptisan itu hanyalah tanda pertobatan saja, yaitu tanda diperdamaikannya orang itu dengan Allah, tanda menerima kasih karunia Allah di dalam kematian Yesus Kristus.

Sebaliknya kita, si penganut agamawi yang buta ini, telah membuatnya terbalik: Bertobat dulu, baptis belakangan, setelah si petobat paham dasar-dasar hukum teologi kekristenan.


Gereja yang memuridkan seseorang sebelum membaptisnya selalu beralasan: “Kami tidak ingin baptisan kudus itu menjadi murahan dan sia-sia, karena seorang petobat bisa saja berbalik pada kehidupan lama jika belum dibekali dulu dengan pemahaman yang kokoh sehingga sia-sialah baptisan itu nantinya.”


Alasan itu sama sekali tidak alkitabiah. Benar bahwa petobat baru rentan kembali ke kehidupan lama. Tapi itu bukan alasan untuk menolak membaptisnya pada saat ia bertobat. Pikiran itu justru bukti bahwa anda memisahkan kedua peristiwa itu.

Jauhkan pikiran anda dari imajinasi seolah-olah baptisan adalah sebuah “peristiwa sakral dan mistis”. Orang itu sedang bertobat dan menerima kasih karunia pengampunan Yesus, dan kita melayaninya dengan cara membaptis. Cukupkan pikiran anda sampai di titik itu, supaya anda tidak terjebak pada pola pikir yang membedakan peristiwa pertobatan dengan pembaptisan.

Jangan bebal. Soal dia kelak jatuh dalam dosa lagi, bahkan bukankah kita sendiri –sang pembaptis- masih bisa jatuh dan binasa pada akhirnya? Itulah gunanya pemuridan dan pengajaran, yang menguatkan anak-anak Allah, serta ketekunan di dalam hadirat Tuhan, setelah mereka menerima Yesus. 



Markus 16 : 16


Saya ingin membicarakan sekali lagi ayat ini, karena ayat inilah yang menjadi pegangan bagi mereka yang mempraktekkan baptisan bayi, juga pegangan mereka yang menyerukan baptisan selam. Ketika mereka membaca ayat ini, sementara mereka telah berada pada zaman dimana secara teologis baptisan telah dipisahkan dari pertobatan, mereka tetap percaya bahwa orang yang tidak dibaptis tidak akan selamat, atau baptisan itulah awal kelahiran baru.

Kita baca ayat itu:

Markus 16:16
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

Kalaupun yang dimaksud dengan "dibaptis" dalam ayat itu benar-benar adalah seremoninya, dan bukan alegori dari pertobatan, sekarang coba anda teliti sekali lagi, adakah kelompok kristen yang tidak diterangkan oleh ayat itu?

Lihat, ayat itu hanya berbicara tentang kelompok orang yang percaya dan dibaptis, serta kelompok orang yang tidak percaya.
Masih adakah kelompok lainnya dari orang kristen? Tentu saja masih, dan banyak sekali, yaitu kelompok percaya dan bertobat tapi tidak dibaptis, maupun kelompok dibaptis tapi tidak hidup sebagai orang percaya. Markus 16:16 tidak menjelaskan nasib mereka. Apakah ada bagian lain dari Injil yang menjelaskannya? Ada. Untuk kelompok percaya, bertobat tapi tidak dibaptis, misalnya apa yang kita kutip tentang perempuan berdosa yang mengurapi kaki Yesus, serta orang yang tersalib di sebelah kanan-Nya.

Mengapa seorang percaya dan bertobat bisa tidak dibaptis?
1. Karena keadaan yang tidak memungkinkan lagi. Misalnya, orang yang tersalib di sebelah kanan Yesus.
2. Bertobat menjelang nafasnya yang terakhir tanpa sempat dibaptis. Misalnya: orang-orang sekarat di rumah sakit atau medan perang yang diinjili lalu mati setelah berdoa pertobatan.
3. Tidak ada yang membaptisnya. Misalnya seorang petobat yang tinggal di tengah-tengah kaum yang menolak Yesus, sementara ia tidak mengenal satu pun pendeta kristen di daerahnya.
4. Tidak sempat dibaptis. Misalnya, dia petobat beberapa bulan lalu, tapi tidak segera dibaptis pendeta gerejanya karena jadwal sibuk pak pendeta, lalu dia meninggal dunia.
5. Pendetanya atau pemimpin-pemimpin gerejanya tidak mempraktekkan baptisan (yaitu baptisan yang benar), sehingga ia tidak mengerti atau masih dibingungkan akan doktrin mengenai baptisan, ketika ia mati.


Dilahirkan Kembali oleh Perkara Lahiriah atau Perkara Rohaniah?

Saudara..
Alangkah idealnya jika baptisan itu bersamaan dilakukan pada saat pertobatan, sebagaimana yang Allah kehendaki, yang diamanatkan oleh Kristus, serta yang dicontohkan oleh para rasul. Sebab keduanya adalah satu perkara yang sama, yakni pertobatan, dimana baptisan menjadi tanda lahiriahnya.

Sayangnya, gereja telah lama memisahkan keduanya. Sekarang, karena kita dipaksa oleh sistem agamawi gereja untuk menjalani pemisahan itu, kita harus tegas memahami, manakah yang menyelamatkan: perkara lahiriahnya atau perkara rohaniahnya?

Mari kita dapatkan jawabannya dari pertanyaan ini: ada seorang dibaptis tapi tidak benar-benar bertobat –mengerjakan perkara lahiriah tapi tidak perkara rohaniah; dan ada seorang lagi benar-benar hidup dalam pertobatan tapi tidak pernah dibaptis –mengerjakan perkara rohaniah tapi tidak perkara lahiriah. Menurut iman kristen anda, manakah dari keduanya yang selamat apabila mereka mati pada hari itu juga?

Jadi, jikapun manusia menceraikan keduanya, percayalah bahwa keselamatan kita ialah karena kita bertobat dan percaya kepada Kristus Yesus (Ingat kembali Lukas 7 : 50).

Baptisan hanyalah tandalahiriah pertobatan, tidak lebih dan tidak kurang. Itu artinya, pertobatan adalah perkara utamanya. Seremoni baptisan adalah perkara lahiriah, sedangkan pertobatan adalah perkara rohaniah. Orang bisa dibaptis meskipun tidak sungguh-sungguh bertobat. Tetapi pertobatan, sekalipun tidak disertai tanda lahiriahnya yaitu baptisan, tetaplah sebuah pertobatan.

Penebusan segala dosa kita oleh salib Yesus itu sempurna. Tidak ada perbuatan seremoni apapun yang bisa kita tambahkan untuk melengkapinya. Sehingga barangsiapa berbalik dan berseru kepada Yesus, dia dengan pasti diselamatkan.

Baptisan bukanlah suatu perkara yang berdiri sendiri. Ia hanyalah bahasa lambang dari sesuatu. Jika yang dilambangkannya itu tidak ada, maka itu lambang yang kosong.
Sama seperti batu nisan atau bangunan makam dibuat, adalah lambang bahwa ada orang yang dikuburkan dibawahnya di dalam tanah. Tetapi jika tidak ada mayat yang pernah dikuburkan dibawahnya, benarkah batu nisan dan bangunan makam itu adalah kuburan? Jelas itu hanya sebuah tipuan.

Tetapi, jika di dalam tanah itu benar ada mayat yang dikuburkan, namun tidak dibuatkan batu nisan dan bangunan makam, masih dapatkah tempat itu disebut kuburan? Sebenarnya masih, akan tetapi orang-orang tidak tahu menahu.

Jika demikian, manakah yang paling hakiki dari defenisi sebuah kuburan: ditempat itu ada orang mati dikuburkan meski tanpa batu nisan, atau ada tanda batu nisan di atas tanah tanpa orang mati dikuburkan di bawahnya?

Batu nisan itu adalah gambaran baptisan, tanda lahiriah. Mayat yang terkubur dalam tanah adalah gambaran pertobatan, perkara rohani yang tersembunyi di dalam hati.

Artinya, ketika gereja anda menganut pemisahan pertobatan dengan baptisan, maka ketahuilah, perkara yang menyelamatkan ialah perkara rohaniahnya, yaitu pertobatan. Yesus itulah KESELAMATAN. Barangsiapa datang kepada-Nya, ia datang pada KESELAMATAN. Barangsiapa tinggal di dalam Dia, dia sudah tinggal di dalam KESELAMATAN.

Hanya saja, tanda itu perlu, dan dikehendaki oleh-Nya. Kalaupun selama ini tanda itu belum anda dibuat, belum terlambat untk membuatnya.

Jadi, baptisan hanyalah upacara lahiriah, sebagai tanda bahwa kita menerima kasih karunia Yesus, bahwa kita telah turut dikuburkan dalam kematian-Nya di kayu salib Golgota. Baptisan itu adalah batu nisan dan bangunan makam kita, sebagai tanda pengingat bagi semua orang bahwa kita sudah mati dan dikuburkan (sudah bertobat).

Sekarang, saya menyarankan ini dengan sangat: jikalau anda mendapat kesempatan untuk dibaptis secara benar (selam) –sekalipun anda sudah bertobat- maka janganlah abaikan kesempatan itu, berilah dirimu dibaptis. Baptisan itu dikehendaki oleh Bapa dan  biarlah kita gemar mengerjakan semua kehendak-Nya, entah yang rohaniah entah yang lahiriah.

Jadi orang-orang di gereja yang telah lama bertobat tetapi belum dibaptis, kita dorong mereka untuk turut dibaptis juga. Akan tetapi sejak hari ini kita tidak akan menghakimi saudara-saudara kita lagi dengan naif bahwa mereka pasti tidak selamat hanya karena belum dibaptis, sebab siapa tahu mereka memang benar-benar sudah percaya dan bertobat (lahir baru, atau manusia baru).

Hanya mereka yang tidak memisahkan pertobatan dengan baptisan sebagai dua perkara yang berbeda yang bisa memahami dengan benar firman yang berkata: barangsiapa percaya dan dibaptis, dia selamat. Mereka yang menganut pemisahan kedua hal itu, akan terjerumus pada kesesatan roh agamawi seremonialistik.

Tetapi apabila kita tetap mempraktekkan pemisahan, dimana kita tidak mengijinkan jemaat biasa membaptis orang yang mereka pertobatkan saat itu juga, sebenarnya tidak menjadi persoalan besar lagi apabila kita tidak menganut Tanpa Baptisan Tak Ada Kelahiran Baru. Ini seumpama mengubur mayat dulu tanpa meninggalkan tanda nisan, baru membuat batu nisan dan bangunan makam belakangan hari. Sebab ada juga kasus dalam Kisah Para Rasul dimana orang-orang telah lebih dulu lahir baru oleh Roh Kudus barulah mereka dibaptis belakangan sebagai tanda kelahiran baru itu.

Kisah Para Rasul 10 : 46-48
Sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus: "Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?" Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.


Yesus sendiri tetap datang kepada Yohanes dan memintanya untuk membaptis-Nya, padahal Ia tidak membutuhkan pertobatan atau kelahiran baru –karena Dia sendirilah sumber kelahiran baru itu. Yesus melakukannya semata-mata untuk menunjukkan kepada kita bahwa tanda lahiriah kematian manusia lama itu, yaitu baptisan, memang dikehendaki oleh Bapa-Nya.

Kiranya memberkati dan memulihkan.
Immanuel.

Bao Panigoran
(Kunjungilah juga www.baopanigoran.blogspot.com)

Senin, 03 Maret 2014

DATANGLAH PADA YESUS


KESAKSIAN ROHANIKesaksian Rohani -   Seorang pencemooh dari tanah Arab beberapa waktu lalu menyerang kasih karunia oleh salib Yesus dengan berkata kira-kira begini:

Kalau benar Yesus mati tersalib untuk pengampunan dosa seluruh manusia, berarti tidak akan ada orang ke neraka. Kalau seluruh isi toko telah di bayar lunas, itu berarti semua orang bisa mengambil dengan gratis dan tak perlu membayar apa-apa. Tapi orang-orang kristen tetap saja berkata

orang-orang non kristen masih saja ke neraka padahal mereka sudah diampuni. 
 
Jadi bagi penentang salib Kristus yang satu ini, berita salib adalah omong kosong. Tidak ada pengampunan di atas salib. Orang-orang tetap harus berjuang untuk memperoleh pengampunan Allah.

Ini adalah doktrin dari iblis. Janganlah kiranya ada pengajar kristen yang menganut doktrin seperti ini. Setiap doktrin yang mengabaikan pengampunan oleh salib, atau setiap orang yang melemahkan arti salib Yesus, dia adalah pengikut iblis yang akan binasa. Iblislah yang dari zaman dulu terus menerus menyangkal salib Yesus, juga menyangkal kebangkitan-Nya. Iblis tidak keberatan jika dikatakan Yesus naik ke sorga. Tapi iblis sangat keberatan pada peristiwa salib dan kebangkitan Yesus. Anda tahu kenapa? Karena salib itulah kekuatan kasih Allah.

Peristiwa salib, dimana Yesus rela memberikan nyawa-Nya, adalah peristiwa yang menghancurkan kerajaan iblis. Iblis sangat trauma dengan peristiwa itu. Perhatikan Injil, ketika Yesus sedang tersalib, iblis bekerja keras untuk membujuk-Nya turun dari sana hidup-hidup. Oleh kebingungannya, iblis semula ingin melihat Yesus lenyap dari bumi. 


Tapi di detik-detik terakhir, iblis menyadari bahwa kematian Yesus di atas salib adalah kehancuran besar bagi kerajaannya. Itulah sebabnya iblis berjuang keras membujuk Yesus turun hidup-hidup dari salib. Iblis tidak maha mengerti rencana Allah. Seluruh pengertian akan rencana Allah hanya terdapat di dalam Roh Kudus. Barangsiapa tidak memiliki Roh Kudus, ia tidak akan memiliki pengertian yang benar. Roh Kudus itulah yang mengajar semua orang percaya untuk mengenal dan mengerti rencana Allah.

Godaan untuk turun dari atas salib barangkali adalah godaan terbesar yang pernah dialami Yesus. Perhatikan, Yesus itu Allah. Jika Ia mau, dengan mudah Ia bisa turun dari atas salib itu. Tubuh manusia-Nya merasakan sakit yang luar biasa, dan ketika itu terjadi, godaan untuk turun tentulah sangat besar. Tidak seorang pun saksi mata saat itu yang mengerti apa sebenarnya yang sedang Ia lakukan. 


Roh Kudus belum dicurahkan untuk membuat mereka mengerti. Mereka mengira Ia adalah sekedar korban kekerasan yang tidak bersalah. Pendukung-pendukung-Nya saat itu menangis bukan karena bersyukur, tapi karena kasihan kepada-Nya. Diam-diam, mereka juga berharap mukzijat terakhir-Nya: Yesus turun dari salib. Mungkin mereka berkata begini di hatinya: "Ayo, Yesus. Ayolah, Engkau pasti bisa. Engkau pasti bisa menunjukkan kepada cicunguk-cicunguk ini bahwa Engkau itu dasyat. Ayo, Tuhan... turunlah supaya mereka semua tercengang dan malu!"

Mereka yang memusuhi-Nya di tempat itu terus berteriak-teriak mengejek: "Mana, mana mukzijat-Mu itu hei? Membangkitkan orang mati Kau bisa, tapi menyelamatkan diri-Mu dari atas salib Kau tak bisa! Ayo turun kalau Kau memang bisa! Hahahaha..!"
Yesus mendengar semua suara itu, termasuk juga suara-suara yang di dalam hati para pengikut-Nya. Dan itu semua membuat keadaan-Nya semakin sulit.

Tetapi Ia tetap menyangkal diri-Nya. Ia tetap fokus kepada rencana besar Bapa-Nya yang sedang Ia kerjakan, yaitu rencana untuk mati sebagai anak domba sembelihan bagi dosa dunia. Dan itulah yang terjadi. Yesus menolak turun, memilih menanggung rasa sakit yang terus mendera di dalam tubuh-Nya, sampai Ia mati. Dan akhirnya, ketika Ia melihat sudah tepat, Ia menyerahkan nyawa-Nya. Yesus mati.

Iblis terkejut. Tiba-tiba tabir Bait Allah terkoyak! Dosa dunia telah diampuni! Semua orang sekarang berhak berhadapan muka dengan Allah tanpa harus melalui imam! Kerajaan iblis dihantam tsunami yang maha dasyat. Lucifer tiba-tiba sudah ditelanjangi! Disingkapkan di depan hidungnya bahwa ia tidak punya otoritas lagi untuk menuntut anak-anak manusia yang ada di dalam Yesus! Iblis kehilangan tajinya! Ia dilucuti, taring dan giginya dicabut semua! Ia sekarang ompong memalukan! 


Iblis menjadi tontonan umum! Dalam keadaan ompong dan telanjang! Teman, sejak hari ini, jika engkau menggambar rupa setan, jangan lagi gambarkan monster merah, bertaring dan bertanduk menyeramkan. Gambarkanlah monster memalukan, ditelanjangi, yang dirantai, ompong dan kuyu. Itulah gambaran kerajaan iblis oleh peristiwa salib Yesus. Yang tersisa darinya hanyalah kemarahan dan kebencian padamu. Tapi jika engkau meneriakinya dengan nama Yesus, dia akan tersiksa hebat.

Dan ketika Yesus bangkit, kekalahan iblis makin sempurna. Maut tidak dapat menahan Yesus. Maut kalah. Siapa yang datang kepada Yesus tidak dapat dijangkau lagi oleh maut!

Inilah kengerian besar bagi iblis: peristiwa salib dan kebangkitan Kristus! Iblis trauma akan hal itu. Itulah sebabnya ia berjuang keras melakukan jurusnya yang terakhir: menipu manusia supaya tidak percaya pada salib dan kebangkitan Yesus. Kepada seluruh pasukan penipunya ia berujar: "Okey, tidak apa-apa mereka katakan Yesus terangkat ke sorga. Tapi usahakan mereka jangan percaya bahwa Yesus tersalib dan bangkit! Aku benci peristiwa itu!!"

Kita kembali kepada dalil orang Arab itu:
Apa yang ia lupakan ialah orang harus datang pada Yesus. Maksudnya begini: Yesus telah membeli semua isi toko dengan maksud untuk membagikannya secara gratis kepada semua orang. Pertanyaannya: lalu bagaimana anda mendapatkannya? Jawabannya: ya tinggal datang pada Yesus.

Yesus telah membayar lunas semua dosamu dan Ia ingin memberikannya kepadamu dengan gratis. "Kuitansi" tanda lunas atas dosamu sudah dipegang-Nya. Bagaimana caranya agar itu sampai ke tanganmu? Ya engkau harus datang pada Yesus.

Orang Arab itu mengira bahwa ia tidak perlu datang pada Yesus untuk mengambilnya. Itu jauh sekali dari logika. Bahkan jika pemerintah bagi-bagi beras gratisan, anda harus datang ke kantor mereka. Bukankah begitu? Kalau saya bagi-bagi uang untuk orang miskin, bagaimana caranya mereka mendapatkannya? Sama juga: mereka datang berbondong-bondong pada saya. 


Jika Noah Band bikin konser gratis di stadion, bagaimana caranya anda memperoleh yang gratis itu? Ya sama juga: anda datang kesana. Harus ada perjumpaan dari yang memberi gratis dengan yang ingin memperolehnya. Itu sudah menjadi hukum alam. Jadi logika si pencemooh besar itu entah bagaimana cara bekerjanya.. bingung juga saya.

Saudaraku,
Yesus itulah pengampunan Allah atasmu. Yesus itulah Keselamatan. Anda tidak beroleh apa-apa dari yang telah disediakan bagimu itu jika anda tidak datang pada Yesus.
Siapa tidak datang pada Yesus, dia tidak mendapatkan apa yang mestinya telah menjadi kepunyaannya itu: Keselamatan kekal.


Siapa berseru (datang) pada Yesus, dia diselamatkan.
Siapa yang menjauh dari Yesus, dia menjauh dari keselamatan.
Siapa bersembunyi dari Yesus, dia bersembunyi dari keselamatan.
Siapa yang senantiasa berpegang teguh pada Yesus apapun yang terjadi, dialah itu yang memegang teguh keselamatannya.

Yesus mengasihimu. Dia itulah keselamatanmu. Dan Dia mengundangmu datang pada-Nya. Lihat, Dia menyambutmu dengan penuh senyuman hangat. Dia ingin memelukmu penuh rasa rindu. Sebab engkau ini anaknya yang hilang dulu. Ayo datanglah. Datanglah sekarang!

TENTANG KESELAMATAN KEKAL DI DALAM YESUS

Kesaksian Rohani -   Jika ada sebatang tiang logam dialiri listrik, apa yang akan terjadi jika anda memegangnya? Sudah pasti, anda akan dialiri listrik.

Jika anda melepaskan pegangan anda, apa yang terjadi? Tentu saja, listrik berhenti mengalir ke dalam anda.

YESUS KRISTUS itulah Tiang Pengampunan Allah. Apabila anda memegang-Nya, maka pengampunan yang menyelamatkan itu akan mengalir ke dalam hidupmu.

Dan jika anda melepaskan pegangan anda dari-Nya, keselamatan itu pun berhenti mengalir ke dalam hidupmu.

Keselamatan di dalam Yesus adalah kekal. Keselamatan yang ada di dalam Yesus tidak dapat berhenti, tidak dapat habis, kekal selama-lamanya.

Tetapi ingatlah, anda masih dapat setiap saat berhenti berpegangan kepada Yesus. Saat itu terjadi, anda berada di luar keselamatan kekal. Jadi, keselamatan DI DALAM Yesuslah yang kekal, sementara pegangan kita sewaktu-waktu masih dapat terlepas, tergantung pada kesetiaan dan ketekunan kita melakukannya. 


Saya mohon anda perhatikan ini, karena ada segolongan besar orang kristen yang mengajarkan SEKALI SELAMAT SELAMANYA SELAMAT, yang tidak percaya bahwa seseorang yang telah lahir baru masih bisa kehilangan keselamatannya. Kesalahan dasar mereka ialah karena mengira KESELAMATAN KEKAL itu terdapat di dalam manusia yang percaya. 

Bukan, KESELAMATAN KEKAL itu bukan terletak di dalam manusia, melainkan di dalam YESUS KRISTUS, bagi manusia. Jadi, manusia hanya terhubung kepada KESELAMATAN KEKAL itu ketika mereka menjaga hidup mereka senantiasa terhubung kepada Yesus, oleh iman yang hidup.

Banyak juga orang kristen berakhir di neraka, bukan karena keselamatan DI DALAM Yesus tidak kekal, tapi karena mereka BERHENTI berpegangan kepada keselamatan kekal itu, Yesus Kristus.

Jadi, berpeganglah terus kepada Yesus, yaitu kepada firman-Nya, sampai nafasmu yang terakhir. Bertekunlah. Setialah. Bukan kepada agama kristennya, tetapi kepada YESUS: ALLAH YANG HIDUP.

YESUS TIDAK MEMBENCI SEORANGPUN


Kesaksian Rohani

Kesaksian Rohani -   Saudara dan saudariku,  Jangan berpikir Yesus membenci orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena di dalam Injil, Ia banyak berkata-kata pedas pada mereka. Bukan. Ia hanya membenci sesuatu di kepala mereka, yaitu kebebalan teologis, kesombongan rohani, penolakan mereka akan Dia.  Ia membenci tindakan-tindakan mereka, pikiran-pikiran mereka, ajaran-ajaran mereka. Tetapi manusianya,
yaitu mereka, tidak dibenci-Nya.

Ia tidak mengatakan semua kata-kata pedas itu karena Ia membenci mereka. Bukan. Ia mengasihi mereka, tapi Ia marah pada pikiran mereka yang keras kepala dan sesat. Ia ingin mereka percaya kepada-Nya, supaya mereka beroleh selamat, tetapi mereka dibutakan oleh teologi atau pikiran mereka sendiri.

Apa yang anda rasakan saat adik bungsu anda yang anda sayangi itu tidak mau mendengar nasehat anda dan selalu membantah perkataan anda supaya berhenti bergaul dan mabuk-mabukan dengan teman-teman brandalnya? Tentu saja anda begitu geram. Ingin rasanya anda masuk ke dalam otak bebalnya itu dan menghapus sendiri kebebalan dari kepalanya. Tapi bagaimanapun, di dasar hati anda, anda mengasihi dia. Anda mungkin sering menangis saat mendoakan dia di dalam kamarmu. Supaya dia berubah, supaya hatinya terbuka.

Demikianlah Yesus tetap menangis untuk orang-orang Farisi dan guru-guru agama Yahudi yang menolak-Nya itu. Ketika itu Yesus hendak memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai, dimana Ia dielu-elukan penduduk di sepanjang jalan. Tetapi menjelang masuk ke dalam kota, Yesus menangis untuk Yerusalem.

Lukas 19:41
Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu (Yerusalem), Ia menangisinya

Tentu saja yang Ia tangisi bukanlah fisik kota itu, tetapi orang-orangnya, karena penolakan mereka akan Dia, satu-satunya Juruselamat dunia. Siapakah sponsor penolakan itu? Tentu saja imam-imam yang menguasai sistem agama negeri itu, para Saduki, Farisi, ahli-ahli teologi (Taurat), dan guru-guru agama. 


Yesus menangis karena Ia datang untuk menyelamatkan mereka, tapi hati dan pikiran mereka buta, sombong, mereka menolak-Nya. Intinya, Yesus menangisi begitu sedih para pemuka Yahudi itu. Itu tidaklah berasal dari kebencian, tapi dari kasih yang mendalam.

Jadi jika anda berpikir Yesus membenci orang-orang Farisi dan karenanya anda membenci saudaramu karena perbedaan gereja, atau alasan apapun, anda sama sekali tidak mengenal Tuhan.

Saya tuliskan ini untuk dua kubu dari sebuah gereja besar yang baru-baru ini terbelah dua, yang saling memaki dan menghujat di internet ini. Berhentilah melakukan semua itu dalam pertobatan di hadapan Kristus yang mengasihi anda semua.

Saya juga tuliskan ini kepada saudara-saudara yang barangkali masih kerap bersikap sombong rohani kepada jemaat-jemaat kristen yang kehidupan rohaninya suam-suam kuku. Bertobatlah di hadapan Yesus mengasihi semua manusia.
Yesus tidak membenci seorang pun manusia, bahkan sekalipun itu Yudas Iskariot sendiri.

Saya tuliskan ini kepada saudara-saudara yang kerap terlibat maki memaki dan kutuk mengutuk dengan penganut agama-agama palsu yang sering menghujat Yesus di forum-forum debat internet. Bertobatlah di hadapan Yesus yang rela tersalib untuk dosa seluruh dunia dan menerima mereka apabila mereka datang kepada-Nya.

Anda boleh menggeleng-geleng geram atas kebebalan orang. Tapi jaga batasnya: jangan pernah membenci siapapun. Menangislah untuk mereka di dalam doamu karena kasih. Itulah pengikut Yesus yang sesungguhnya.

JANGAN KEMBALI KEPADA TAURAT


Kesaksian Rohani -   Berhati-hatilah pada ilham-ilham yang berasal dari alam roh yang membawa kita kembali kepada Taurat dan meninggalkan kasih karunia Allah yang telah dinyatakan di dalam Yesus Kristus. Ujilah setiap roh, agar engkau terhindar dari penyesat-penyesat yang menyamar sebagai domba di akhir zaman ini.

Galatia 2:21
Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.

Jangan lagi berharap kepada Taurat, sebab Taurat tidak menyelamatkan seorang pun. Sebab Taurat Musa mengajarkan ibadah-ibadah lahiriah, tatacara-tatacara merayakan ini itu, melakukan ini itu, yang diberikan kepada bangsa Israel, sampai KASIH KARUNIA itu dinyatakan. Bukankah Alkitab sudah menyatakan bahwa Taurat diadakan untuk menuntun/membimbing umat Israel hanya sampai Yesus datang?

Galatia 3:23-25
Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.
Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, (PERHATIKAN FIRMAN TUHAN INI) supaya kita dibenarkan karena iman.
Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun (Taurat).

Lalu mengapa di akhir zaman ini orang menjadi bingung lalu hendak kembali kepada Taurat? Lebih percayakah anda pada pengajar-pengajar di internet ini hanya karena mereka mengaku nabi, daripada kepada Alkitab, Firman Allah Yang Hidup?

Berharaplah kepada kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus, yang telah Ia wujud nyatakan melalui salib di bukit Golgota.


Bertekunlah di dalam persekutuan dengan Roh Kudus Allah kita, memberikan diri dibimbing oleh-Nya ke dalam pertobatan dari segala kecemaran dan dosa, serta memimpin kita di dalam kasih. Berilah hatimu diisi dengan kemurnian dan kerendahan hati, di dalam penyangkalan diri senantiasa.

Darah Yesus itulah yang menghapus dosa kita, bukan kesempurnaan tata prosedur ibadah atau amalan-amalan kita seperti yang dituntutkan oleh Taurat Musa.

Efesus 2 : 8-9
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

PENJELASAN KEPADA PENGEJEK-PENGEJEK YESUS KRISTUS


Kesaksian Rohani -   Belakangan ini, saya banyak sekali menemui orang-orang di facebook dan blog-blog yang tak kunjung habis-habisnya mengutuk, memaki-maki, menghujat dan mengejek-ejek penuh penghinaan pada Juruselamat Dunia, Yesus Kristus, dengan kata-kata kotor, cabul, jahat, dan menjijikkan.
Entah apa dasar kebencian mereka pada Tuhan Pencipta diri mereka sendiri itu, padahal Yesus tidak pernah membenci mereka, tidak pula pernah berbuat jahat pada mereka.

Saya menemukan, umumnya mereka bukanlah orang-orang kristen. Tetapi ada juga yang mengaku mantan kristen, yang lantas berbalik menjadi penghujat Kristus dengan lidah yang sangat keji.

Lalu di seberang mereka, ada pula saya temukan orang-orang kristen, yang balas menghujat, mengutuki, memaki-maki dan menyerapahi orang-orang ini dan agama yang mereka anut, dengan lidah yang tak kalah kotor dan kejinya pula. Entah untuk siapa mereka berbuat demikian, seolah-olah mereka berpikir bahwa mereka sedang membela Kristus Yesus, Tuhan semesta alam, dengan cara sedemikian.

Inilah surat terbuka untuk anda sekalian, ya, anda yang tergabung ke dalam salah satu kelompok yang saya sebutkan itu, yang tiada henti-hentinya berbalas kutuk dan sumpah serapah satu sama lain. Di dalam urapan dan kasih karunia Yesus Kristus, saya menyingkapkan kepada anda beberapa perkara di sini.

Pertama-tama, inilah pesan yang Tuhan Yesus sampaikan untuk anda sekalian: Dia, Yesus Kristus, mengasihimu. 

Pesan kedua, janganlah sia-siakan kesempatan yang Tuhan berikan untuk mengenal-Nya. Sebab jikalau engkau mati dalam keadaan dirimu seperti ini, dan menolak kesempatan untuk berbalik kepada Yesus, maka kebinasaan yang amat mengerikan, kekal selama-lamanya, akan menjadi bagianmu. Engkau tidak tahu kapan nyawamu diambil Tuhan. 


Hari ini, ketika engkau membaca tulisan ini, mungkin engkau masih hidup. Tetapi tidak ada seorang pun di antara kita yang tahu apakah nanti malam nyawa kita masih ada dalam raga. Tuhan memberimu kesempatan untuk mengenal dan datang kepada-Nya, dan beroleh mahkota keselamatan, selagi engkau masih bernafas di bumi ini. Ingatlah pesan kedua ini, jangan sia-siakan.

Saya sendiri tidak membenci engkau. Tidak ada alasan saya membencimu, sebab Yesus sendiri mengasihimu dan menginginkanmu selamat. Berita keselamatan-Nya lah yang belum engkau dengar, dan itulah yang hendak saya sampaikan padamu.

Sekarang, dengarlah. Inilah penjelasan-penjelasan oleh pewahyuan Roh Tuhan kepadamu, agar dengan ini, engkau boleh mengenal siapa Dia, Yesus Kristus, yang terus menerus engkau hina-dinakan itu. Dan setelah engkau mengenal-Nya oleh penjelasan ini, silakan ambil keputusanmu. Jadi biarkan anda mengenal dulu siapa Dia melalui penjelasan ini, barulah nanti anda ambil keputusan, apapun yang hendak anda putuskan.

Kawan,  Sejak semula, ketika Adam belum berbuat dosa di Taman Eden, atau ketika belum satu pun manusia berbuat dosa, Allah telah membuat satu hukum kekal: upah dosa ialah maut. Maut artinya kebinasaan kekal, di dalam neraka jahannam. Itu artinya, setiap dosa harus dibayar dengan maut. Jadi tidak ada bedanya memiliki sejuta dosa dengan sebiji dosa, sama-sama harus mempertanggungjawabkannya di dalam neraka kekal. 


Neraka tidak hanya dipenuhi orang-orang jahat yang banyak dosanya, tapi juga orang-orang baik yang seumur hidupnya barangkali hanya punya satu atau dua dosa saja. Adam misalnya, ia mati untuk satu dosa saja. Kitab Taurat tidak menyebutkan Adam melakukan dosa yang lain. Tetapi ia tetap terkena oleh HUKUM KEKAL tersebut.

Kawan,
Engkau juga sudah tahu, bahwa hanya dua tempat bagi orang-orang yang telah meninggal dunia. Jika tidak di sorga bersama Allah, sudah pasti dia tengah menderita untuk selama-lamanya di neraka.

Neraka itu adalah satu tempat yang sangat dan paling mengerikan. Suatu tempat dimana tidak ada belas kasihan sama sekali. Segagah-gagahnya orang sewaktu hidup, ia hanya akan bisa menjerit melolong-lolong penuh siksaan dan ketakutan ketika berada di neraka, sepanjang hari. Dibakar api yang panasnya amat dasyat, ditambah dengan berbagai siksaan yang amat mengerikan. Dan sekalipun begitu perihnya siksaan itu, orang tidak dapat mati lagi. Ia akan merasakan setiap rincian dari siksaan bengis itu, selama-lamanya... tanpa berakhir... ya, selama-lamanya!

Siapakah di antara anda yang ingin masuk neraka? Saya percaya tentu tidak ada. Bukan cuma anda, bahkan bila kita jelaskan secara lengkap lalu bertanya, semua orang di luar sana pun pasti tidak ingin masuk ke neraka. Semua orang ingin masuk sorga. Anda pasti ingin ada di sorga, demikian pula saya dan semua orang.

Lalu karena itu, orang-orang yang ingin masuk sorga, yang takut akan berakhir di neraka, melakukan upaya-upaya keras, menciptakan agama-agama, ajaran-ajaran saleh, dengan cara beribadah ini itu, sembahyang ini itu, berpuasa satu bulan penuh, bayar ini bayar itu, melakukan ini itu, berusaha hidup baik-baik, hidup alim, atau bertapa di gunung-gunung, dalam kesalehan dan rupa-rupa perbuatan agamawi lainnya. Semua itu dilakukannya karena dia berharap dapat luput dari neraka.

Tapi siapakah yang dapat menjangkau sorga? Adakah yang tahu dimana letak sorga? Bila anda menatap ke langit malam, ke taburan bintang-bintang, di sebelah manakah sorga itu? Adakah yang tahu? Hanya Orang yang datang dari sorga yang dapat membawa orang ke sorga.

Dan juga ketahuilah, sorga itu adalah tempat yang maha kudus, sebab di sanalah Allah Yang Maha Kudus (Suci) bertahta. Tempat yang maha suci artinya tak boleh ada satu pun dosa bisa masuk. Allah kita –yaitu TUHAN yang menciptakan anda dan saya- adalah Allah yang maha suci. Ia sangat jijik dengan dosa, sehingga setiap orang yang memiliki dosa, Ia tolak. Jika anda punya satu dosa saja, anda akan ditolak di sorga, tidak boleh masuk, tidak peduli anda manusia baik-baik, apapun agama anda - Kristen atau Islam atau Yahudi atau yang lain, yang saleh dan tekun beribadah, yang bertimbun-timbun amal baiknya. Betapa maha sucinya sorga itu. Sesuci-sucinya. Nah, jika satu dosa saja ditolak, bagaimana bila dosanya bertimbun-timbun? Faktanya ialah: semua manusia memiliki dosa, dan banyak! Dan buah dosa ialah penolakan sorga: maut.

Anda pernah berbuat dosa, saya juga, begitu pula semua orang. Sebab kita ini, keturunan-keturunan Adam, lahir dengan membawa tabiat-tabiat dosa, membawa kelemahan-kelemahan, yang awalnya dahulu akibat dosa Adam juga. Di dalam diri kita ini ada tabiat amarah, yang sewaktu-waktu dapat lepas kendali menjadi dosa mengutuki, menghujat, menyakiti perasaan orang lain, memfitnah, dan lain sebagainya. Di dalam masing-masing kita ada juga nafsu, yang bisa menjerumuskan kita ke dalam rupa-rupa dosa kecabulan dan kekotoran pikiran. Ada juga benih kekerasan, yang bisa meleadak suatu saat menimbulkan dosa seperti pembunuhan, penganiayaan, dan lain sebagainya. 


Ada juga tabiat memikirkan diri sendiri, yang bisa menjerumuskan kita kepada dosa mencuri, korupsi, mendengki, kepicikan, persekutuan dengan roh-roh setan, dan lain sebagainya. Betapa penuhnya diri kita ini dengan berbagai rupa kelemahan yang kita warisi akibat pemberontakan Adam, dan tiadanya urapan Roh Tuhan di dalam kita membuat kita sedikitpun tidak punya kekuatan rohani untuk menaklukkan diri kita ini sepenuhnya kepada kemahasucian TUHAN. Alhasil, setiap kita pada akhirnya pernah berbuat dosa. Kita mungkin sanggup menolak dosa yang satu, tapi gagal untuk menolak dosa yang lain.

Artinya apa? Artinya, tak seorang pun di antara kita ini yang layak masuk sorga. Kita semua, anak-anak manusia, mestinya akan mati, mestinya akan berakhir di neraka, karena dosa-dosa kita. Kita adalah orang-orang yang berhutang maut kepada Allah, yang tidak mungkin dapat kita lunasi, sebab melunasi utang dosa berarti kita harus masuk ke dalam maut itu.

Sekarang anda sudah tahu, hanya orang yang suci atau kudus yang boleh masuk ke sorga. Suci artinya keadaan yang tanpa dosa sama sekali. Nol dosa! Zero sin! Nah, bisakah manusia menguduskan atau menyucikan dirinya sendiri? Tentu saja tidak bisa! Orang-orang bodoh berpikir, bila ia melakukan amal saleh, tekun ibadah, dan berbuat kebaikan-kebaikan, ia akan menjadi suci lalu masuk ke sorga. Agama apa yang mengajarkan itu? Tidak ada. Islam memang menyuruhmu beramal saleh, tetapi itupun dengan berkata, kalau kau melakukannya, MUDAH-MUDAHAN kau masuk sorga. Mudah-mudahan artinya tidak dijamin.  Jadi Islam sendiri pun mengakui amal salehmu tidak bisa memastikan keselamatanmu.

Mengapa? Sebab amal saleh itu adalah perbuatan kita, perbuatan manusia. Dan kita sudah tahu, perbuatan manusia tidak bisa menguduskan dirinya sendiri. Perbuatan manusia tidak bisa menghanguskan dosa yang terlanjur terjadi di masa lalu. Perbuatan kita tidak bisa membuat diri kita menjadi suci, zero sin!

Tentu amal saleh dan segala perbuatan baik ada pahalanya. Iya, itu benar. Tetapi pahala adalah pahala, dosa tetap dosa. Sekalipun pahala anda banyak, tetapi dosa anda tetap ada, apa gunanya? Jadi pahala, yaitu perbuatan manusia, tidak bisa menyelamatkan. Sederhananya, engkau tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri, apapun cara yang bisa kau tempuh.

Manusia ke sorga bukan berdasarkan jumlah pahala, tapi suci atau tidak dirinya dari dosa. Keselamatan tidak berhubungan dengan jumlah pahala, keselamatan berhubungan dengan berdosa atau tidak berdosa. Anda sendiri tahu itu di dasar hatimu. Coba uji dirimu sendiri, hai engkau yang telah melakukan banyak pahala: menurutmu, apakah engkau ini layak berada di sorga? Hati nuranimu sendiri akan mengakui itu: “Aku tidak layak... aku banyak dosanya...” Ya, hati kita sendiri tidak bisa berkata: “Aku layak... karena aku banyak pahalanya...” Hati nurani manusia terhubung kepada hukum dosa, bukan hukum pahala, dan itulah hati yang paling jujur, yang sering kita tutup-tutupi.

Jadi, adakah harapan bagi kita, bangsa-bangsa manusia ini, untuk lolos dari kebinasaan api neraka? Sementara kita semua, anda dan saya, adalah lemah, mudah meledak, mudah tergoda, dan telah melakukan berbagai dosa di belakang sana?

Akan tetapi puji syukur kepada Allah, Yesus telah mati untuk kita, dengan menanggung segala penghukuman dosa kita, supaya kita boleh hidup terus. Yesus adalah Firman Allah, Kalamullah, Roh Allah, Ruhullah, yaitu Allah itu sendiri yang menjelma menjadi manusia yang dilahirkan dari seorang gadis perawan, tanpa percampuran dengan laki-laki. Jadi karena Manusia Yesus tidak lahir dari percampuran benih daging manusia melalui nafsu sahwat, melainkan lahir atas kehendak Allah itu sendiri untuk suatu rencana agung-Nya, maka Manusia Yesus lahir tidak membawa tabiat-tabiat dosa. Ia suci, dan seumur hidup-Nya di bumi, Ia tidak berbuat dosa.

Mengapa Allah memutuskan diri-Nya harus datang sendiri ke bumi sebagai manusia? Karena Ia memiliki satu Rencana Besar, yaitu menyelamatkan kita, manusia. Manusia hanya dapat mengerti bahasa manusia, dan manusia hanya tahan berdiri di hadapan manusia. Sesungguhnya jika Allah datang dalam rupa asli-Nya yang maha dasyat itu di hadapanmu, tidakkah engkau akan mati seketika itu? Siapakah manusia yang tahan berdiri di hadapan Allah?

Padahal Allah berencana memberitahu manusia panggilan pengampunan-Nya itu. Ia berencana memberitahu manusia kabar kasih karunia-Nya. Jadi bagaimana, apakah yang harus dilakukan Allah? Sudah pasti cuma ada satu cara: Ia harus datang dalam rupa manusia. Itulah Yesus, Allah dalam rupa manusia itu, lahir ke bumi ini dua ribu tahun yang lalu di Betlehem.

Orang-orang yang dikungkungi logika tiga dimensi, sedikit bingung. Kalau Allah sudah menjadi manusia yaitu Yesus, lalu kepada siapa Yesus memanggil Bapa saat Ia berdoa? Tetapi untuk pertanyaan logika itu jawabannya dengan satu logika juga: jika anda adalah maha kuasa, dapatkah anda pergi ke bulan tapi saat bersamaan anda masih ada disini? Jika anda tidak dapat, berarti anda tidak benar maha kuasa. Jadi logika kemahakuasaan sendiri berkata: anda pasti dapat. Kalau begitu, siapakah yang di bulan itu dan siapakah yang tinggal disini itu? Itu adalah anda. Jika yang di bulan itu bukan anda, melainkan jiplakan anda, berarti tidak benar anda dapat pergi ke bulan melainkan hanya ada disini saja.

Anggaplah di bulan ada suatu kaum dalam rupa semut, yang selama ini bersembahyang kepada anda, tetapi mereka tersesat karena tidak mengenal anda dengan benar. Anda ingin menyelamatkan mereka dan ingin supaya mereka mengenali serta mengetahui kehendak-kehendak anda. Itulah tujuan anda. Apa yang akan anda lakukan? Tentu saja jelas, anda harus mengambil rupa dan sosok semut seperti mereka. Mengapa? Supaya mereka bisa menerima sosok anda dan memahami bahasa anda. Bayangkan bila anda datang dalam rupa yang asli, tentu semut-semut itu akan lari ketakutan: “Ada raksasa! Ada raksasa!”

Bila anda sudah ada di tengah-tengah mereka dan mulai mengajar mereka, tentang siapakah anda akan berbicara? Tentang anda yang dalam rupa semut atau tentang anda yang nun jauh di planet bumi yang tidak mereka kenali itu? Tentu saja tentang anda yang ada di bumi, karena untuk tujuan itulah anda datang dalam rupa semut ke tenah-tengah mereka. Itu artinya apa? Itu artinya anda yang dalam rupa semut di bulan itu akan terdengar mempermuliakan anda yang ada di bumi. 


Anda yang ada dalam rupa semut itu bertugas untuk menceritakan anda yang dalam rupa yang asli di bumi itu. Jadi anda yang dalam rupa semut itu terlihat menjadi hamba bagi kepentingan anda dalam rupa yang asli yang di bumi. Tetapi agar semut-semut itu percaya bahwa anda sendirilah itu yang datang ke tengah-tengah mereka, anda pasti akan berkata-kata seperti ini: “Aku dan dia adalah satu. Kamu tidak mungkin melihat dia karena kamu ada di bulan sini, dia ada di bumi. Tapi sebenarnya, ketika kamu melihat aku, kamu sudah melihat dia kok. Mengapa? Ya karena aku ini adalah dia sendiri. Aku dan dia adalah satu. Aku ini datang dari dia.”

Allah kita adalah maha segala-galanya. Ia tak terjangkau sepenuhnya oleh otak manusia yang terbatas ini. Demikianlah Allah yang dalam rupa manusia itu, Yesus Kristus, adalah Allah yang sama dengan Ia yang ada di sorga dalam waktu bersamaan. Yesus bukanlah jiplakan Allah, melainkan Allah itu sendiri dalam rupa manusia bumi. Dan Yesus datang untuk membawa manusia mengenal Allah yang tidak pernah mereka lihat itu, serta beroleh keselamatan yang dikaruniakan-Nya. Yesus dan Bapa adalah Satu, sebagaimana pengakuan-Nya sendiri:

Aku dan Bapa adalah satu. (Yoh. 10:30)

Yesus berkata dalam Yohanes 12:45:
dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.

Begini jawaban Yesus atas pertanyaan seorang murid-Nya waktu itu:
Yohanes 14:8-19
Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami."
Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.


Tidak ada satupun tokoh yang pernah lahir ke dunia ini yang berani berkata bahwa ia dan Allah yang di sorga adalah satu, selain daripada Yesus Kristus sendiri. Pilihan bagi pendengar hanya ada dua: mempercayai-Nya, atau menganggap-Nya gila seperti pendapat orang-orang Yahudi di zaman itu. Tidak ada pilihan yang lain. Jika anda berkata bahwa Yesus memang dari Allah terbukti dari keajaiban kelahiran serta segala mukzizat-Nya, tapi menolak percaya kepada pengakuan-Nya itu, berarti anda membuat pilihan yang sama saja dengan pilihan kedua: anda menuduh Yesus berdusta.

Lalu apa tujuan Yesus hadir ke dunia? Ia datang sebagai hamba bagi tujuan Allah menyelamatkan manusia. Yesus lahir untuk mati bagi dosa dunia, dosamu dan dosaku. Itu memang tujuan utama-Nya lahir sebagai manusia.

Anda kurang mengerti? Bacalah ilustrasi ini:
Bayangkanlah engkau ini telah membunuh banyak orang dengan terencana dengan cara bengis biadab, lalu ditangkap polisi. Semua bukti-bukti dan saksi-saksi berhasil dikumpulkan, lalu anda diseret ke pengadilan. Tak ada keraguan lagi, semua terungkap dengan jelas di depan hakim: anda benar-benar pelaku pembunuhan itu. Oleh karena hukum telah mengatur, maka anda akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Karena kematian itu mengerikan, anda berusaha keras menyelamatkan nyawa anda, dengan mencoba banding. Tetapi karena anda benar-benar terbukti, hakim banding pun tetap memvonis anda hukuman mati. Dan pada tingkat terakhir, yakni kasasi, anda pun tetap dinyatakan bersalah dan divonis mati. Hari pemancungan leher anda telah ditentukan!

Tidak ada yang dapat anda lakukan lagi sekarang. Anda sama sekali tidak memiliki harapan. Jam demi jam berlalu, anda tinggal menunggu mati. Lalu waktunya tiba. Anda sekarang digiring ke lokasi eksekusi, dimana leher anda akan dipancung sampai putus...

Lalu tiba-tiba, disaat-saat yang mengerikan itu, muncul seseorang ke depan, berbicara kepada hakim: “Tuan Hakim, saya sangat kasihan kepadanya. Bebaskanlah dia, dan biar saya saja yang menanggung hukumannya.” Hakim heran dan bertanya: “Engkau serius mau menggantikan penjahat ini dipancung?” Dia menjawab pasti: “Saya bersedia!”

Maka ditangkaplah orang itu, dirantai, lalu digiring ke pemancungan. Tak lama kemudian, leher orang itu putus dimakan alat pemancung. Darahnya tertumpah membanjir. Mayatnya terjatuh ke tanah.

Pertanyaan saya: setelah orang itu dipancung menggantikan anda, masihkan anda akan dipancung juga oleh hakim? Tentu saja tidak, bila anda tidak menolak pengorbanannya itu. Begitu orang itu mati, hakim akan langsung melepaskan anda. “Pergi sana. Kamu sekarang orang merdeka!” Jadi sekalipun anda benar-benar terbukti bersalah, anda telah dibenarkan! Anda bebas! Anda tidak dihukum lagi!

Demikianlah Yesus telah menggantikan anda untuk menjalani hukuman maut atas segala dosamu. Anda yang mestinya harus mati dan masuk alam maut (neraka), telah dibebaskan dari segala hukuman. Karena Yesus telah menjalani hukuman anda dengan menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib, dan turun ke dunia maut menggantikan anda. Itulah kasih karunia, GRACE. Ia sangat mengasihi dan berbelas kasihan kepadamu.

Maka milikilah Yesus, percayailah Yesus, peganglah Yesus. Janganlah anda menolak Yesus, jangan anda meninggalkan-Nya. Sebab sekalipun Yesus telah mati untuk dosa setiap orang, akan tetapi barangsiapa menolak Dia, kematian Yesus sia-sia baginya.

Kita teruskan perumpamaan tadi.
Setelah hakim membebaskan anda, anda datang lagi pada si hakim dan berkata: “Pak Hakim, memang tadi orang itu sudah mati menanggung hukuman saya. Tapi setelah saya pikir-pikir, saya menolak orang itu. Saya menolak pengorbanannya.” Hakim tentulah kaget: “Hei, hukumanmu sudah dijalankan orang itu, pergi sana dan terima kemurahan hatinya itu!” Tetapi anda bersikeras: “Tidak Pak Hakim. Saya menolaknya. Saya tidak terima kebaikannya itu. Itu tidak berlaku bagi saya!”

Menurut anda, apa yang akan dilakukan Pak Hakim atas keputusan anda itu? Tentu saja jelas: kematian sukarelawan itu menjadi sia-sia bagi anda. Jadi anda harus menjalankan sendiri hukuman anda. Anda akan ditangkap lagi, diikat, dan diseret ke pemancungan. Bukankah itu sangat bodoh? Dan sebodoh itulah persis orang-orang yang menolak Yesus!

Satu lagi contohnya:
Jika anda punya hutang kepada seorang rentenir yang tidak bisa anda bayar-bayar, lalu saya, atas kerelaan sendiri pergi kepada rentenir itu dan membayar lunas hutang anda, menurut anda: apakah rentenir itu masih menagih anda atau tidak lagi? Masihkah anda punya hutang kepadanya?

Mestinya tidak. Tapi satu hal yang bisa membuat hutang anda batal lunas, ialah bila anda berkata pada rentenir itu: "Hei kawan, memang kemarin orang bernama Bao Panigoran itu telah memberi uang padamu untuk melunasi hutangku itu. Tapi dengar, saya menolak kebaikannya itu. Saya tidak peduli kepadanya. Anggap saja dia tidak pernah membayar utang saya. Uangnya itu anggap saja rejeki nonplok bagimu!"

Jika anda memutuskan seperti itu, jelas utang anda belum lunas. Dan itu bodoh. Anda mestinya menerima kebaikan saya itu, maka utang yang tak sanggup anda bayar itu menjadi lunas.

Demikianlah kita semua, anak-anak manusia memiliki utang maut kepada Allah, karena hukum-Nya: buah dosa ialah maut. Kita tidak dapat melunasi itu, karena melunasinya berarti kita harus masuk ke dalam maut. Tetapi Yesus Kristus, oleh kasih-Nya kepada kita semua bersedia dengan rela hati melunasi hutang kita yang tak terbayar oleh kita itu, supaya kita bisa lepas dari maut dan boleh bersua dengan Allah Yang Maha Suci dalam kekekalan.

Tentu saja yang harus anda lakukan ialah TIDAK MENOLAK kebaikan-Nya yang amat berharga itu. Bila anda menolak-Nya, itu berarti utang maut anda belum lagi lunas di hadapan Allah. Allah akan menagihnya kelak bila anda mati. Percayalah.

Jadi terimalah Yesus. Sebab karena Yesus, anda sekarang telah bebas. Yesus Kristus mati supaya anda bisa hidup terus, hidup selama-lamanya. Karena Yesus, anda tidak lagi dipandang bersalah oleh sorga. Anda sekarang layak masuk ke sorga, karena semua hukumanmu sudah dibayar lunas. Sorga tidak lagi memiliki alasan apa-apa untuk melarang anda masuk. Sebab Yesus adalah Raja di sorga. Anda selamat oleh Yesus! Karena karya salib-Nya! Bersukacitalah!

I Korintus 7 : 23
Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.

I Petrus 1 : 18-19
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,
melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat


Dan setelah Yesus mati menggantikanmu, Ia kemudian bangkit pada hari yang ketiga atas kemauan-Nya sendiri, supaya engkau boleh percaya, bahwa Ia lebih kuat dan berkuasa atas maut. Ia telah menang, dan kebangkitannya membuktikan semua itu. Ia telah naik ke sorga juga atas keinginan-Nya sendiri, di hadapan banyak saksi mata dengan tubuh sorgawi yang kekal, supaya engkau bisa percaya, segala pengakuan-Nya tidak mungkin dusta, bahwa Ia dan Bapa adalah satu. Sekarang Yesus ada di sorga, memerintah dan maha hadir. Ia bukan lagi sebagai manusia seperti di bumi dulu. Ia telah kembali ke dalam segala kemegahan-Nya yang maha dasyat.

Roma 6 : 9
Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.

Jadi kematian Yesus Kristus di kayu salib, adalah untuk penebusan segala dosamu. Ia rela mati, bahkan mati dalam kehinaan seperti itu, karena Ia mengasihi anda. Ia ingin anda selamat. Ia ingin anda berada bersama-Nya di sorga kekal. Itulah sebabnya Ia rela mati di kayu salib yang penuh nistaan itu.

Mungkin banyak orang bebal bertanya-tanya: mengapa Allah harus capek-capek datang sebagai manusia dan menanggung maut untuk mengampuni dosa? Mengapa tidak Ia ampuni begitu saja dosa-dosa itu? Bukankah Ia maha pengampun?

Tentu saja kita manusia yang inkonsisten dan berjiwa korup ini akan berpikir seperti itu. Tetapi Allah adalah Allah. Ia konsisten dan tidak bisa tidak konsisten. Sekali Ia menetapkan Hukum-Nya, Hukum-Nya itu harus berlaku kekal.

Nah, Allah dari semula telah menetapkan hukum: “ganjaran bagi dosa ialah maut, kematian kekal di dalam neraka.” Itu Hukum-Nya, dan berlaku kekal. Sebagai Allah, Raja segala raja, yang konsisten, yang sekali berkata: A selama-lamanya berkata A, apa yang akan dilakukan-Nya bila anda mati dalam dosa? Tentu saja Ia akan mencampakkan anda ke neraka, siapapun anda ini dalam pikiran anda, berapapun pahala yang telah anda kumpulkan.

Tapi jika begitu, tentu saja semua manusia akan ke neraka ‘kan, karena tak satupun yang bisa menghindari dosa dan salah. Bagaimana dengan kasih Allah? Bukankah Dia Maha Pengasih akan umat manusia? Apakah Ia akan membiarkan semua orang masuk neraka dan tak satupun ke sorga berjumpa dengan-Nya?

Oleh karena itulah Allah merancangkan satu Solusi Besar. Ia akan datang ke bumi dalam rupa manusia, mati menggantikan mereka, supaya utang maut mereka lunas. Jadi terjadilah demikian. Ia yang dalam rupa manusia itu dinamakan Yesus (sebab semua manusia harus punya nama toh?). Jadi Yesus datang untuk menebus kita. Kita yang punya utang maut kepada Allah, yang tidak bisa membayarnya kecuali masuk ke neraka selama-lamanya, oleh kerelaan Yesus sendiri, utang itu telah dibayar-Nya lunas dengan menanggung sendiri hukuman maut kita itu.

Jadi dengan kematian Yesus di kayu salib, Hukum Allah yang berkata: “Upah dosa adalah maut” tetap konsisten, tidak dilanggar-Nya. Hukum itu tetap berlaku, di dalam kematian Yesus. Dan itu terjadi karena Ia Maha Pengasih, supaya kasih pengampunan-Nya itu terwujud.

Jadi utang dosamu telah dibayar lunas oleh Yesus. Itu artinya, ketika engkau percaya pada Yesus, dosamu sudah tidak ada lagi. Dosamu sudah dijalankan hukumannya. Persoalannya tinggal satu: maukah anda menerima anugrah-Nya itu? Jika anda mau, tentu anda harus menerima Yesus.

Keputusan anda memilih menolak atau menerima Dia, akan menentukan dimana kelak anda menjalani kehidupan kekal.

Kawan,
Jadi saya mau beritahukan kepada anda, setiap orang yang menerima Yesus Kristus, percaya kepada-Nya dan hidup di dalam Dia, maka orang itu sudah pasti akan ke sorga jikalau sudah mati. Dia diterima di sorga bukan karena dia seumur hidupnya baik terus dan tidak pernah berbuat dosa. Dia diterima di sorga karena utang dosanya sudah lunas, oleh Yesus Kristus.

Jadi saya tahu persis, bahwa di dalam Yesus saya akan berada di sorga bila saya mati. Hati nurani saya mengatakan itu dengan penuh rasa sukacita.

Saya pasti berada di sorga, bukan karena saya tak pernah jatuh dalam dosa, bukan karena mampu membuat diri sendiri menjadi suci, tapi karena Yesus telah membayar lunas semua dosa saya di kayu salib dan saya menerima serta berbalik kepada-Nya. Kami, orang-orang yang percaya dan hidup di dalam Yesus, kami semua akan berada di sorga, bukan karena perbuatan dan ibadah kami selama ini sempurna tapi karena kami tidak menolak anugrah Allah di dalam Yesus.

Yesus itulah keselamatan. Barangsiapa menerima Dia, dia beroleh keselamatan, sorga kekal. Sebab Yesus adalah Raja di sorga, Raja segala raja, dan Ia adalah Allah, dan Allah adalah Dia. Yesus dan Bapa adalah satu. Barangsiapa datang kepada Yesus, dia telah datang kepada Allah. Segala kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Yesus. Itu artinya, Allah tidak menyisakan sedikitpun hadirat-Nya di luar Yesus Kristus. Jadi barangsiapa mengira bersembahyang kepada Allah tetapi ia menolak Yesus, ia hanya beroleh angin kosong, sebab ia orang buta yang diajar dan mempercayai penipu yang buta pula.

Sekarang Yesus berada di sorga, memerintah dari sana atas Kerajaan-Nya. Meski demikian, Ia tidak meninggalkan kami, sebab Ia tinggal di dalam kami, yaitu Roh-Nya, pribadi lepas pribadi. Roh Kudus adalah Roh Allah, yaitu Roh Yesus. Ia adalah Allah yang maha hadir dan tinggal di dalam masing-masing orang percaya. Roh Kudus itulah yang memberikan kami kuasa untuk hidup sebagai anak-anak Allah di dunia ini. 


Roh Kudus itulah yang mengerjakan mukjizat demi mukjizat Allah dalam nama Yesus Kristus, melalui kami. Semua itu bukanlah karena kuat gagah kami. Semua itu adalah karena kasih karunia, GRACE, GRASI Allah, yang dinyatakan melalui salib Kristus Yesus dua ribu tahun yang lalu. Roh Kudus itulah, yaitu Roh Yesus, yang menyertai kami dan memberi kami kekuatan untuk mengasihi dan mengampuni, ketika kami tunduk kepada kehendak-Nya.

Memang banyak di antara orang-orang kristen yang tidak tunduk kepada kehendak-Nya. Banyak di antara kami yang masih memakai manusia lamanya. Hal seperti itu tidaklah benar. sama seperti anda, mereka juga membutuhkan pertobatan kepada GRACE Kristus Yesus. Sebab barang siapa mati dengan sebiji saja dosa yang tidak ia lepaskan di hadapan Yesus, ia akan bernasib sama dengan orang-orang yang menolak Yesus.

Jadi barangsiapa datang pada Yesus, ia wajib hidup di dalam Yesus. Jikalau ia keluar dari sana karena suatu hari tergoda atau tersandung, ia harus kembali lagi ke dalam Yesus. Sebab sesungguhnya, segala dosa telah diampuni oleh Allah melalui salib Yesus. Satu-satunya perkara yang tersisa bagi kita adalah menerima ampunan itu, dengan cara berbalik kembali pada Yesus.

Teman,
Sekarang anda sudah cukup mengenal Yesus Kristus dan kasih karunia keselamatan-Nya. Mengapa anda tidak segera datang kepada-Nya dan menerima keselamatan itu? Atau, apakah anda yakin bahwa agama yang anda anut sekarang memastikan keselamatan bagi anda? Yakinkah anda sudah selamat karena kumpulan pahalamu itu dan kalau mati pasti ke sorga? Hati nuranimu tahu jawabannya, bahkan pria Timur Tengah yang anda sebut nabimu itu pun tidak bisa memastikan nasib dirinya sendiri. Mengapa anda harus mengingkari hati nuranimu itu?

Jika anda membuat keputusan yang benar, anda pasti akan sangat bersyukur telah bertemu penjelasan ini. Akan tetapi jika anda membuat keputusan yang salah, anda akan celaka dalam penghukuman kekal karena dosamu. Anda akan sangat menyesal telah mengabaikan keterangan ini.

Yesus telah mengampuni segala dosa anda. Maukah anda menerima diampuni? Jika anda mau, datanglah kepada Yesus. Terimalah Dia melalui keputusan bulat dari hatimu. Engkau boleh menirukan doa ini:

“O, Tuhan Yesus Kristus. Sekarang aku telah mengerti kebenaran-Mu. Bahwa Engkau telah mati di kayu salib yang hina itu untuk menggantikan aku menjalani hukumanku karena dosa. Bahwa karena kematian-Mu itu, dosa-dosaku telah ditebus, sehingga aku bebas dari segala hukuman. Karena itu Tuhan, aku menerima pengampunan-Mu itu. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Masuklah dalam hidupku. 


Aku mengakui segala dosaku. Kutinggalkan semua dosa itu serta kehidupanku yang lama, dan kuampuni semua orang yang pernah menjahati aku. Kuserahkan hidupku kepada-Mu. Dan meteraikanlah aku dengan Roh Kudus-Mu, yang akan menuntun aku hidup sebagai anak Bapa di dunia ini. dan tuliskanlah namaku di Buku Kehidupan-Mu, di sorga yang kekal. Dalam nama Yesus aku percaya. Amen.”

Saudara, Tidak lama lagi, Yesus akan datang kembali. Tanda-tanda akhir zaman sudah digenapi. Waktu-Nya sudah sangat dekat. Dia akan datang bukan lagi dalam tubuh manusia yang dilahirkan sebagai bayi, melainkan dalam wujud sebagaimana Ia dahulu naik ke sorga, dalam segala kemuliaan-Nya. Ia akan menghakimi seluruh anak manusia. Dan barang siapa yang tidak dimeteraikan dengan darah-Nya, yaitu setiap orang yang tidak terdaftar di Buku Kehidupan-Nya, mereka akan dilemparkan ke dalam neraka selama-lamanya. Sedangkan kami, yang dimeteraikan oleh darah-Nya oleh iman kami di dalam Dia, akan hidup kekal bersama-sama dengan Dia.

Sebelum semua itu terjadi, buatlah pilihan yang tepat itu sekarang. Yesus itu mengasihimu. Yesus itu lemah lembut dan rendah hati. Yesus itu sabar dan penuh pengampunan. Yesus juga mengasihi semua anak manusia, termasuk orang-orang yang sekarang masih hidup dalam dosa kebutaan akibat agama-agama palsu. 


Tidak seorang pun yang Ia benci. Yang terjadi ialah banyak orang membenci dan menantang-Nya. Tetapi yang dikehendaki Tuhan adalah supaya orang-orang itu datang kepada-Nya, Ia yang menciptakan mereka. jadi beritakanlah kepada orang-orang lain lagi tentang Kabar Baik itu, yaitu Injil Pengampunan Tuhan. Serukanlah kepada teman-temanmu:

“Yesus telah mengampuni dosa-dosamu! Sehitam apapun dosamu itu, semua sudah diampuni-Nya! Maukah engkau menerima ampunan-Nya itu? Terimalah, supaya engkau selamat!”