Tuhan membentuk saya dengan bermacam-macam cara dan peristiwa. Salah satunya melalui suami. Dari dulu memang saya pemarah. Jika suami ada salah sedikit, saya mulai cakar dia dan mengamuk.
Sekarang, ketika saya ingin marah, saya minta penguasaan diri dari Tuhan. “Tuhan, tolong saya.” Tidak ada cara lain. Dan Tuhan membuat tangan saya tidak bisa bergerak.
Tuhan mengajar dengan mengizinkan banyak hal terjadi, agar saya banyak penguasaan diri dan tunduk kepada suami. Dengan melalui perjuangan demi perjuangan dan dengan pertolongan Tuhan, itu pasti bisa.
Tuhan memberikan satu pengertian mengapa istri harus tunduk kepada suami. Ketika seorang istri tunduk kepada suami dan suaminya berlaku semena-mena, maka Tuhan yang akan membela sang istri. Apakah lebih baik membela diri sendiri dan bertengkar atau diam dan Tuhan yang membela? Ketika saya diberi pengertian itu, di dalam segala hal, saya memilih untuk diam. Dan Tuhanlah yang membela saya.
Suatu kali Tuhan mendidik saya ketika kami berada di Spanyol untuk pelayanan pada bulan Desember. Udara di sana dingin sekali, antara 3 sampai minus 5 derajat Celsius. Ketika itu kami berjalan-jalan di pantai melihat kapal-kapal pesiar. Lalu kami mampir ke kafe. Ketika sampai di kafe suami saya berkata, “Sebentar mam, saya mau ke toilet.” Lalu suami ke toilet. Ketika agak lama suami saya tidak keluar-keluar, saya mulai berpikir, “Ada apa ya?”
Saya berkata kepada tuan rumah yang mengundang kami, “Sebentar pak, saya mau lihat dulu suami saya ke toilet.”
Ketika saya akan masuk ke toilet, saya ketuk pintu. “Pap, ada di dalam?” Kata suami saya, “Dorong saja pintunya, mam!” Saya dorong pintunya. Astaga, ternyata saya lihat seluruh lantai dipenuhi kotoran suami saya.
Saya bertanya, “Pap, kenapa bisa begini?”
Dia menjawab, “Gak tahu, begitu masuk sini, saya sudah berak kemana-mana.” Beraknya bukan kotoran keras, tetapi seperti bubur bayi. Padahal toilet di luar negeri, toiletnya bersih dan kering.
Saya lihat suami saya sedang duduk di atas closet. Saya buka celana panjangnya, semuanya terkena kotoran. Bukan hanya celana dalam, tetapi juga celana panjang, ikat pinggang, semuanya terkena kotoran.
Saya keluar dari toilet dan berkata kepada pak Peter, “Pak Peter, bisa minta tolong ke rumah bapak, maaf ambilkan handuk, celana panjang dan celana dalam bapak? Maaf ya merepotkan. Pak Peter, tolong juga carikan gayung di sini atau kalau tidak ada pinjam gelas saja?” Dia membawakan saya gelas dan saya bawa ke toilet.
Tuhan izinkan ini terjadi. Saya pakai jas dan baju berlapis-lapis karena dingin. Saya membuka sarung tangan dan mulai mengepel lantai WC sambil memuji Tuhan, saya mengucap syukur. Seumur hidup saya, baru kali ini saya mengalaminya. Kalau hal ini terjadi, saya menerimanya dengan bersuka dan bersyukur.
Saya mulai mengepel satu arah dahulu supaya suami saya bisa jalan lewat. Saya meminta dia tetap duduk dan mengangkat sepatunya. Saya mencuci sepatunya. Setelah itu saya bukakan celana panjangnya dan celana dalamnya. Saya memandikan suami saya dan membersihkannya. Dan saya katakan kepada suami, “Ayo pakai sandal ini dan keluar toilet.” Saya pinjam satu kursi dari kafe itu, untuk suami saya duduk, tidak pakai celana panjang, tidak pakai celana dalam. Dingin sekali. Tas saya ambil untuk menutupi dia. “Tolong tunggu sampai pak Peter datang.”
Saya cuci celana panjangnya, saya cuci celana dalamnya dan mengepel lantai WC, bukan hanya closetnya saja, tetapi seluruh lantainya. Setelah itu saya menggunakan kertas tissue untuk mengeringkan WC karena harus bersih dan kering.
Ketika WC sudah bersih, Pak Peter datang. Suami saya mengeringkan badang dengan handuk, memakai celana dalam dan celana panjang. Suami saya bersih. Tetapi jas saya dan semua pakaian saya bau karena terkena kotoran juga.
Saya bersyukur saja kepada Tuhan karena Dia izinkan satu cobaan untuk saya sehingga saya belajar menghadapi dan mengurus suami yang buang air besar berceceran. Saya melakukannya dengan penuh ketulusan.
Ketika kami masuk mobil, mobil tuan rumah, mobil mewah, saya berkata kepada pemiliknya, “Maaf ya pak, jas saya ini masih bau.” Dia berkata, “Gak apa-apa, bu. Nanti mobil ini diberi pewangi saja. Nanti ibu ganti jas sesampai di rumah ya.”
Itulah kehidupan sebuah bejana yang terus dibentuk Tuhan. Saya bukan hanya bisa bicara atau mengkhotbahkan soal tunduk dan melayani suami, tetapi Tuhan izinkan saya melakukannya terlebih dahulu.
Suatu ketika di Banjarmasin, suami saya ada masalah dengan perutnya. Untuk jangka waktu enam bulan, setiap malam suami saya buang air besar di tempat tidur. Dari tempat tidur sampai ke closet, berceceran kotorannya. Hampir setiap malam atau seminggu dua kali, saya harus ganti seprei dan bed cover. Semua itu saya yang mencuci karena pada waktu itu kami belum ada suster. Sambil mencuci kotorannya, saya memuji Tuhan. Pernah, di suatu malam saya harus mencuci dan membereskan kotoran itu, padahal esok pagi-paginya saya harus membawakan Firman Tuhan. Sebagai tanah liat, saya siap dibentuk oleh penjunan-Nya, yaitu Tuhan Yesus.
Catatan: Kisah di atas diambil dari Buku "Barometer Tuhan" yang ditulis oleh Ibu Lidya Dewi Yana, mantan pengusaha sukses di Banjarmasin yang kemudian melayani sepenuh waktu bagi Tuhan bersama suami dan anak-anaknya.
Kesaksian Rohani Kristen, Renungan, Kesaksian, Inspirasi, Saat Teduh, Firman Tuhan, Bahan Kotbah, Humor, dll.
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 09 April 2015
Kisah Anak Yang Hilang dihari Natal
Kisah ini tentang kesaksian pada suatu hari Natal. Pemuda ini menjalani kehidupan bebas sebebas-bebasnya pada waktu muda, lalu datanglah kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan, bertobat dan sebagai ucapan syukur pemuda ini melayani pekerjaan Tuhan. Kehidupan terus berlalu hingga dia membangun keluarga.
Berhubung dia berasal dari keluarga pengusaha yang cukup kaya di Jakarta, maka istrinya didorong ayah ibunya untuk segera hamil. Kelahiran sang cucu sangat dinanti-nanti. Keluarga besarnya sangat mengelu-elukan lahirnya seorang putera, yang dipandang penting sebagai bagian dari generasi penerus.
Ketika akhirnya istrinya hamil, sangat senanglah keluarga besar ini. Kebutuhan sang istri dan bayinya sangat diperhatikan dengan seksama. Pemeriksaan dokter dilakukan secara teratur. Pada waktu kehamilan bulan kedelapan, sang istri segera dilarikan ke Rumah Sakit karena ada kemungkinan kelahiran bayi prematur. Kejadian ini ternyata serius karena istri dan anak yang dikandungnya menghadapi pergumulan hidup dan mati. Team dokter ahli sudah mengerahkan segenap kemampuan mereka, namun ternyata apa mau dikata, istri dan anaknya tak tertolong. Inilah pukulan berat bagi si pemuda.
Ia bertanya kepada Tuhan, "Mengapa? Mengapa istri dan bayinya harus dipanggil pulang secepat ini? Mengapa Tuhan tidak menolong? Mengapa Tuhan tidak mendengar doanya? Mengapa Tuhan membiarkan mereka meninggalkannya? Mengapa dia tidak diberi kesempatan untuk hidup bahagia bersama istri dan anaknya? Mengapa?"
Itulah pukulan hebat dan luar biasa bagi pemuda ini. Dia marah sekali kepada Tuhan. Dia juga marah kepada keluarga besarnya yang "memaksa" mereka untuk punya anak segera. Pukulan hebat ini membuat dia tidak percaya lagi bahwa Tuhan itu baik, bahwa keluarganya juga baik. Seperti sang anak bungsu yang hilang dalam kisah Alkitab, dia melarikan diri dari rumah keluarga besarnya, dia melarikan diri dari Tuhan, dia pergi jauh membawa uang untuk dipakai berfoya-foya. Dia pakai uangnya untuk hidup seenaknya, hidup sebebas-bebasnya, hingga uangnya habis. Selama berfoya-foya dia tidak dapat dihubungi siapapun, sehingga ketika ayahnya meninggal, dia tidak tahu dan tidak menghadiri pemakaman ayahnya.
Setelah menjadi miskin, dia tidak berani pulang ke rumah orang tuanya. Dia pergi ke tanah kelahirannya di Medan. Dia hidup menggelandang, dia hidup sebagai orang jalanan, dia hidup diantara para preman. Dia hidup seenaknya dan sesukanya.
Pada hari-hari menjelang Natal dia ingat bahwa sebentar lagi akan ada perayaan Natal. Ingat Natal, dia ingat Tuhan. Tapi hanya kepahitan yang memenuhi hatinya saat itu. Malam itu di bawah kolong langit yang cerah dia masih marah kepada Tuhan. Dia memaki-maki Tuhan. Dia lampiaskan sakit hatinya kepada Tuhan. Dia tunjuk jarinya ke langit sambil mengata-ngatai Tuhan.
Puas dengan cara itu, dia akhirnya tertunduk kelelahan. Sementara hatinya masih diliputi kemarahan, terdengar sayup-sayup senandung yang berkata, "How could I forget His love, how could I forget His mercy..... He satisfies, he satisfies, he satisfies my desire...."
Hatinya tersentuh. Dia ingat kasih Tuhan. Dia ingat pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Dia ingat kemurahan-Nya. Dia ingat pengampunan-Nya. Dia ingat. Rupanya dia tidak dapat lari dari Roh Tuhan yang mengejarnya terus kemanapun dia pergi.
Pelan-pelan dia bangkit. Ia cari suara nyanyian itu. Ternyata suara itu berasal dari sebuah gereja kecil di sebuah gang. Ada beberapa anak muda sedang mempersiapkan acara Natal di situ. Dengan malu-malu dia mendekati mereka.
"Maaf, kami tidak memberikan sumbangan saat ini," kata salah satu dari anak muda di gereja itu.
"Oh, saya tidak minta apa-apa. Saya tidak layak masuk ke dalam gereja. Biarkan saya duduk di depan pintu ini saja." Dia terus mendengarkan mereka latihan lagu-lagu Natal. Sementara itu Roh Kudus memulihkan hatinya, menyembuhkan luka batinnya, memberi damai sejahtera yang tidak pernah dia rasakan bertahun-tahun selama pelariannya.
Pada perayaan Natal saat itu dia akhirnya berani masuk ke gereja kecil itu, namun di deretan paling belakang. Dia menikmati kehadiran Tuhan di gereja kecil dan sederhana itu. Dan sejak itu hidupnya dipulihkan kembali. Dengan pertolongan Tuhan, dia mulai bekerja dengan halal. Dia mengajak teman-teman gelandangannya untuk bekerja mengolah kain-kain sisa dari industri garmen di sekitar situ, untuk dijadikan kain perca dan dijadikan barang-barang yang bernilai tambah tinggi. Dari situ dia mulai membangun kehidupan baru. Akhirnya dia kembali ke Jakarta, kembali kepada keluarganya, kembali meneruskan bisnis keluarganya.
Rabu, 08 April 2015
Usahakanlah Yang Terbaik
Di sebuah danau terdapat banyak batu-batuan. Di pinggirnya terdapat sebuah papan bertuliskan pengumuman:
"Yang mengambil batu akan menyesal.
Yang tidak mengambil batu juga akan menyesal."
Heran dengan kalimat itu beberapa turis tertarik untuk mengambil beberapa butir batu itu utk melihat apa yg akan terjadi selanjutnya.
Beberapa orang yang lainnya tidak terlalu menggubrisnya. Jadi mereka tidak mengambil batu-batu itu dan lebih tertarik untuk menikmati segarnya air di danau itu.
Setelah kembali ke negara masing-masing, mereka meminta tolong ahli batu-batuan untuk memeriksa batu yang mereka bawa.
Ternyata batu-batuan itu adalah sejenis Safir yang dari luar tampaknya jelek tapi di dalamnya mengandung permata yang sangat indah dan mahal harganya.
Turis yang tidak membawa batu itu jadi menyesal nya, tetapi yang membawanya pun akhirnya menyesal karena mereka tidak membawa lebih banyak.
Kita diberikan kehidupan yang sangat berharga. Namun bukankah kita seringkali kurang menghargai masa hidup ini justru di saat kita masih bisa hidup lama?
Hidup ini begitu bernilai. Jauh lebih bernilai daripada batu-batu permata.
Itulah sebabnya agar kita tdk menyesal di kemudian hari, maka kita harus menjalani hidup dengan maksimal, menggunakan setiap kesempatan untuk mendapatkan nilai berharga. Bekerja dengan maksimal, mengasihi keluarga dengan maksimal, berkarya bagi sesama dengan maksimal, belajar dengan maksimal, jangan setengah-setengah.
Intinya:
KETIKA KITA SUDAH MENGUSAHAKAN YANG TERBAIK SELAMA HIDUP INI, MAKA KITA TIDAK PERLU LAGI MENYESAL DI KEMUDIAN HARI.
Selasa, 07 April 2015
Kasih Bapa
Seorang ayah membeku hingga meninggal karena melindungi putrinya yang berusia sembilan tahun dari badai salju parah yang melanda Jepang utara. Mikio Okada meninggal saat dia berusaha melindungi anak tunggalnya Natsune dari tiupan angin berkekuatan 109 kilometer per jam, di suhu -6 derajat Celsius. Okada merupakan salah satu dari sedikitnya sembilan orang yang tewas dalam serangkaian insiden terkait salju saat badai menyapu pulau Hokkaido, kata polisi pada Senin.
Jasad Okada ditemukan oleh tim penyelamat yang mencari keduanya setelah sejumlah kerabat mengabarkan pihak berwajib. Natsune mengenakan jaket ayahnya dan berada dalam pelukannya, kata sejumlah surat kabar dan lembaga penyiaran.
Keduanya terakhir terdengar kabarnya pada pukul 16.00 (waktu setempat) pada Sabtu, setelah Okada, yang berprofesi sebagai nelayan, menjemput anaknya dari sebuah sekolah tempat putrinya menunggu dia selesai bekerja.
Okada menelpon keluarganya untuk mengatakan kalau truknya terdampar di tengah salju, yang menumpuk beberapa meter di berbagai lokasi. Okada mengatakan dia dan Natsune akan berjalan beberapa kilometer, seperti yang dilaporkan Yomiuri Shimbun.
Keduanya ditemukan 300 meter dari truk mereka pada pukul 07.00 pada Minggu.
Okada melindungi putrinya, memeluknya dan tampaknya menggunakan tubuhnya dan tembok sebuah gudang untuk memberikan perlindungan, ujar Yomiuri.
Dia menanggalkan jaketnya dan memberikannya kepada putrinya, ujar sebuah laporan televisi.
Tim penyelamat mengatakan putrinya menangis saat ditemukan di pelukan ayahnya, ujar koran tersebut.
Gadis kecil itu dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan tidak mengalami cedera serius. Sementara itu, sang ayah dinyatakan secara resmi meninggal oleh dokter di RS yang sama, di dekat rumah mereka di Yubetsu di Hokkaido.
Menurut laporan Yomiuri, ibunda Natsume meninggal dua tahun lalu karena penyakit yang tidak diketahui. Koran itu mengutip tetangga Okada yang memujinya sebagai ayah penyayang yang sering menunda pergi kerja untuk menikmati sarapan bersama putrinya.
Kematiannya terjadi saat seluruh Jepang merayakan Hari Anak Perempuan, atau Hinamatsuri, festival saat keluarga berkumpul dan menghiasi rumah dengan boneka.
"Dia sudah memesan kue untuk putri tunggalnya dan tidak sabar untuk merayakan Festival Boneka bersama," ujar seorang tetangga kepada Yomiuri.
Jasad Okada ditemukan oleh tim penyelamat yang mencari keduanya setelah sejumlah kerabat mengabarkan pihak berwajib. Natsune mengenakan jaket ayahnya dan berada dalam pelukannya, kata sejumlah surat kabar dan lembaga penyiaran.
Keduanya terakhir terdengar kabarnya pada pukul 16.00 (waktu setempat) pada Sabtu, setelah Okada, yang berprofesi sebagai nelayan, menjemput anaknya dari sebuah sekolah tempat putrinya menunggu dia selesai bekerja.
Okada menelpon keluarganya untuk mengatakan kalau truknya terdampar di tengah salju, yang menumpuk beberapa meter di berbagai lokasi. Okada mengatakan dia dan Natsune akan berjalan beberapa kilometer, seperti yang dilaporkan Yomiuri Shimbun.
Keduanya ditemukan 300 meter dari truk mereka pada pukul 07.00 pada Minggu.
Okada melindungi putrinya, memeluknya dan tampaknya menggunakan tubuhnya dan tembok sebuah gudang untuk memberikan perlindungan, ujar Yomiuri.
Dia menanggalkan jaketnya dan memberikannya kepada putrinya, ujar sebuah laporan televisi.
Tim penyelamat mengatakan putrinya menangis saat ditemukan di pelukan ayahnya, ujar koran tersebut.
Gadis kecil itu dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan tidak mengalami cedera serius. Sementara itu, sang ayah dinyatakan secara resmi meninggal oleh dokter di RS yang sama, di dekat rumah mereka di Yubetsu di Hokkaido.
Menurut laporan Yomiuri, ibunda Natsume meninggal dua tahun lalu karena penyakit yang tidak diketahui. Koran itu mengutip tetangga Okada yang memujinya sebagai ayah penyayang yang sering menunda pergi kerja untuk menikmati sarapan bersama putrinya.
Kematiannya terjadi saat seluruh Jepang merayakan Hari Anak Perempuan, atau Hinamatsuri, festival saat keluarga berkumpul dan menghiasi rumah dengan boneka.
"Dia sudah memesan kue untuk putri tunggalnya dan tidak sabar untuk merayakan Festival Boneka bersama," ujar seorang tetangga kepada Yomiuri.
Sabtu, 04 April 2015
Secangkir Kopi di Dinding
Saya duduk bersama seorang teman di kedai kopi yang terkenal di dekat kota Venisia, kota air dan bertabur cahaya. Ketika kami menikmati kopi kami, seorang pria masuk dan duduk di kursi kosong samping kami.
Pria itu memanggil pelayan dan menyampaikan pesanannya dengan berkata, "Pesan 2 cangkir kopi ya, satu taruh di dinding." Kami mendengarkan pesanan itu dengan penasaran dan memperhatikan bahwa pria itu dilayani dengan secangkir kopi namun membayar dua cangkir. Segera setelah ia berlalu, sang pelayan menempelkan selembar kertas di dinding yang bertuliskan: Satu Cangkir Kopi.
Sementara kami masih duduk di sana, dua pria lain muncul dan memesan tiga cangkir kopi, dua cangkir disajikan di meja dan satu di dinding. Mereka minum dua cangkir kopi namun membayar tiga dan kemudian mereka pergi. Pada kali ini sang pelayan melakukan hal yang sama, ia menempelkan selebar kertas di dinding yang bertuliskan: Satu Cangkir Kopi.
Nampaknya praktik ini sudah biasa di tempat ini. Namun tetap saja hal itu unik dan mengherankan kami. Karena kami tidak ada urusan dengan hal itu, maka kami habiskan kopi kami, membayar tagihannya dan pergi.
Beberapa hari kemudian, kembali kami memiliki kesempatan mengunjungi kedai kopi itu. Sementara kami menghirup kopi kami, seorang pria masuk. Cara berpakaian pria ini tidak cocok bagi kemewahan dan suasana kedai kopi ini. Kemiskinan nampak dari penampilan dan wajahnya. Setelah ia duduk, ia menunjuk ke dinding sambil berkata, "Secangkir kopi dari dinding." Sang pelayan menyajikan secangkir kopi kepada pria kumuh ini dengan standar pelayanan kepada pelanggan yang terhormat dan bermartabat.
Pria itu menikmati kopinya hingga habis dan pergi tanpa perlu membayar. Kami kagum melihat kejadian ini ketka sang pelayan melepaskan selebar kertas dari dinding dan membuangnya ke tempat sampah. Kini kami mengerti apa yang telah terjadi. Penghormatan yang tinggi bagi orang-orang yang berkekurangan telah ditunjukkan oleh penduduk kota ini dan membuat mata kami berlinang airmata.
Kopi bukanlah kebutuhan mendasar bagi masyarakat dan kehidupan kita. Poin untuk diperhatikan yaitu ketika kita menikmati kesenangan dari berkat apapun, mungkin kita juga perlu memikirkan mereka yang ingin menikmati berkat itu sama seperti kita namun mereka tidak sanggup memilikinya.
Perhatikan karakter sang pelayan, yang melakukan tugasnya dengan konsisten dan murah hati sehingga ia menjadi jembatan antara pihak yang membagi berkat dan pihak yang berkekurangan dengan pelayanan penuh senyum kepada siapapun.
Renungkan juga pria yang berkekurangan itu. Ia memasuki kedai kopi mewah itu tanpa merasa rendah diri dan mengemis minta secangkir kopi, tanpa perlu tahu siapa yang telah membayar kopinya. Ia hanya perlu menunjuk ke dinding menyampaikan order secangkir kopi, menikmatinya dan pergi.
Kita dapat belajar tentang kemurah-hatian dan kepedulian penduduk kota ini terhadap sesama manusia. Demikianlah caranya menunjukkan belas kasih dan mempertahankan martabat bagi umat manusia.
Pria itu memanggil pelayan dan menyampaikan pesanannya dengan berkata, "Pesan 2 cangkir kopi ya, satu taruh di dinding." Kami mendengarkan pesanan itu dengan penasaran dan memperhatikan bahwa pria itu dilayani dengan secangkir kopi namun membayar dua cangkir. Segera setelah ia berlalu, sang pelayan menempelkan selembar kertas di dinding yang bertuliskan: Satu Cangkir Kopi.
Sementara kami masih duduk di sana, dua pria lain muncul dan memesan tiga cangkir kopi, dua cangkir disajikan di meja dan satu di dinding. Mereka minum dua cangkir kopi namun membayar tiga dan kemudian mereka pergi. Pada kali ini sang pelayan melakukan hal yang sama, ia menempelkan selebar kertas di dinding yang bertuliskan: Satu Cangkir Kopi.
Nampaknya praktik ini sudah biasa di tempat ini. Namun tetap saja hal itu unik dan mengherankan kami. Karena kami tidak ada urusan dengan hal itu, maka kami habiskan kopi kami, membayar tagihannya dan pergi.
Beberapa hari kemudian, kembali kami memiliki kesempatan mengunjungi kedai kopi itu. Sementara kami menghirup kopi kami, seorang pria masuk. Cara berpakaian pria ini tidak cocok bagi kemewahan dan suasana kedai kopi ini. Kemiskinan nampak dari penampilan dan wajahnya. Setelah ia duduk, ia menunjuk ke dinding sambil berkata, "Secangkir kopi dari dinding." Sang pelayan menyajikan secangkir kopi kepada pria kumuh ini dengan standar pelayanan kepada pelanggan yang terhormat dan bermartabat.
Pria itu menikmati kopinya hingga habis dan pergi tanpa perlu membayar. Kami kagum melihat kejadian ini ketka sang pelayan melepaskan selebar kertas dari dinding dan membuangnya ke tempat sampah. Kini kami mengerti apa yang telah terjadi. Penghormatan yang tinggi bagi orang-orang yang berkekurangan telah ditunjukkan oleh penduduk kota ini dan membuat mata kami berlinang airmata.
Kopi bukanlah kebutuhan mendasar bagi masyarakat dan kehidupan kita. Poin untuk diperhatikan yaitu ketika kita menikmati kesenangan dari berkat apapun, mungkin kita juga perlu memikirkan mereka yang ingin menikmati berkat itu sama seperti kita namun mereka tidak sanggup memilikinya.
Perhatikan karakter sang pelayan, yang melakukan tugasnya dengan konsisten dan murah hati sehingga ia menjadi jembatan antara pihak yang membagi berkat dan pihak yang berkekurangan dengan pelayanan penuh senyum kepada siapapun.
Renungkan juga pria yang berkekurangan itu. Ia memasuki kedai kopi mewah itu tanpa merasa rendah diri dan mengemis minta secangkir kopi, tanpa perlu tahu siapa yang telah membayar kopinya. Ia hanya perlu menunjuk ke dinding menyampaikan order secangkir kopi, menikmatinya dan pergi.
Kita dapat belajar tentang kemurah-hatian dan kepedulian penduduk kota ini terhadap sesama manusia. Demikianlah caranya menunjukkan belas kasih dan mempertahankan martabat bagi umat manusia.
Sabtu, 05 April 2014
Ibadah Yang Hikmat Mendatangkan Kemuliaan
Dalam industri hiburan, para seniman kelas tinggi sering membuat kita hanyut dan terpesona akan performanya. Namun tahukah anda, sebenarnya yang membuat kita terhanyut dan merasakan keindahan itu, adalah
karena benang mereka telah berhasil masuk kedalam lubang jarum jiwa kita.
Kesempurnaan performa mereka sudah mencapai Titik Spiritual. Sehingga jiwa kita tidak lagi memiliki alasan untuk tidak menikmati makanannya, yaitu keindahan.
Justru apa yang sering kita lihat dan alami didalam gereja, terkadang adalah kebalikannya. Gereja yang seharusnya menjadi gudang makanan spiritual, tidak lagi dinikmati jiwa. Sehingga jemaat datang dengan kering, dan pulang dengan kering.
Apa yang membuat ini terjadi adalah karena Ibadah itu dilakukan secara serampangan., didalam keseluruhannya. Tidak ada konsep, dan tidak ada persiapan yang matang.
Tidak peduli berapa banyak kata Tuhan yang meluncur permenit dari bibir anda, jiwa tau mana yang sedap dan tidak untuk dinikmati. Tetapi ibadah yang dipersiapkan dan dilatih dengan dengan matang, akan menjadi sebuah ibadah yang hikmad.
Kata hikmad disini bukan selalu bermakna 'Sepi' atau 'Hening', tetapi Menembus Kedalam Jiwa. Yap, saat itulah jiwa kita akan makan dengan lahap, dan bibir hati kita akan berkata "Betapa Indahnya".
Jadi jika industri hiburan saja ada yang sudah bisa mencapai Titik Spiritual, masakan gereja tidak ?
Karena itu berikanlah persiapan yang matang, latihan yang lebih keras lagi, jadikanlah ibadah itu hikmad, maka Kemuliaan Tuhan akan turun.
Jesus Bless Us
MH
karena benang mereka telah berhasil masuk kedalam lubang jarum jiwa kita.
Kesempurnaan performa mereka sudah mencapai Titik Spiritual. Sehingga jiwa kita tidak lagi memiliki alasan untuk tidak menikmati makanannya, yaitu keindahan.
Justru apa yang sering kita lihat dan alami didalam gereja, terkadang adalah kebalikannya. Gereja yang seharusnya menjadi gudang makanan spiritual, tidak lagi dinikmati jiwa. Sehingga jemaat datang dengan kering, dan pulang dengan kering.
Apa yang membuat ini terjadi adalah karena Ibadah itu dilakukan secara serampangan., didalam keseluruhannya. Tidak ada konsep, dan tidak ada persiapan yang matang.
Tidak peduli berapa banyak kata Tuhan yang meluncur permenit dari bibir anda, jiwa tau mana yang sedap dan tidak untuk dinikmati. Tetapi ibadah yang dipersiapkan dan dilatih dengan dengan matang, akan menjadi sebuah ibadah yang hikmad.
Kata hikmad disini bukan selalu bermakna 'Sepi' atau 'Hening', tetapi Menembus Kedalam Jiwa. Yap, saat itulah jiwa kita akan makan dengan lahap, dan bibir hati kita akan berkata "Betapa Indahnya".
Jadi jika industri hiburan saja ada yang sudah bisa mencapai Titik Spiritual, masakan gereja tidak ?
Karena itu berikanlah persiapan yang matang, latihan yang lebih keras lagi, jadikanlah ibadah itu hikmad, maka Kemuliaan Tuhan akan turun.
Jesus Bless Us
MH
Jumat, 07 September 2012
Kata Yang Tepat Pada Waktu Yang Tepat
Langganan:
Postingan (Atom)



