Kesaksian Nania, saya dulu bukan orang percaya, berjumpa dengan Tuhan dan diusir dari Keluarga. Itu adalah beberapa gambaran dari kisah Nania yang Anda akan baca di blog ini..? Bukan hanya saja membaca tetapi juga dapat mendownload kesaksiannya dibawah ini!
Kenapa saya harus Percaya Tuhan
Awal mulanya samapai mau pindah kepercayaan, semua itu karena saya coba-coba membaca Alkitab teman saya. Disitu ada tulisan yang berkata, kita patut percaya bahwa Yesus benar-benar ada, Itulah cara Tuhan memilih saya. Ketika saya membaca Alkitab malam, lalu saya tidur dan bangun pagi saya ibadah seperti biasanya jam 4.30 pagi.
Ketika saya melakukan ibadah saya terganggu dengan tulisan yang ada dalam Alkitab. Lalu dalam doa saya berkata, Ya Allah kalau Yesus benar-benar ada tunjukan ke saya. Selesai ibadah saya kembali tidur, ketika saya tidur saya mendengar pintu kamar saya di ketok 3 x.
Saya biasaya tidur gelap, jadi ketika saya membuka mata, yang saya lihat sebuah wajah. Saya adalah orang yang diberikan kemampuan khusus untuk dapat melihat makhluk halus seperti jin dan lain-lain. Tetapi kali ini yang saya lihat adalah seseorang yang berbeda, Dia tersenyum kepada saya.
Setelah kejadian itu saya coba mencerita kepada teman-teman saya yang Kristen. Lalu teman saya berkata bahwa saya telah dipilih oleh Tuhan, jadi kamu harus melayani Tuhan. Bagaimana caranya, dengan talenta yang ada padamu gunakan untuk memuji Tuhan.
Pelayanan
Teman saya memberikan saya beberapa CD lagu Rohani, saya mendengar beberapa lagu Rohani dan hari minggunya saya pertama kali pelayanan. Ketika pertama kali saya masuk Gereja saya takut karena jangan sampai keluarga saya tahu. Ketika saya menyanyikan lagu bagaikan rajawali, saya masih ragu-ragu nyainyi atau tidak. Pada saat itu ada suara yang saya dengar berkata Nania ini adalah “Jalanmu dan ini adalah Keluargamu”. Akhirnya saya bernyanyi.
Selesai ibadah ada seorang anak kecil 6 tahun dia kejar-kejar saya, lalu dia berkata, kalau tadi saya bernyanyi dia melihat Tuhan Yesus ada dibelakang saya. Ketika saya mendengar itu saya merasa kakiku terasa lemas. Mamanya datang dan berkata kalau anaknya ini dapat melihat kehadiran Tuhan, dia diberikan karunia seperti itu.
Saya di Babtis
Ketika saya mulai melayani dan banyak sekali pekerjaan yang saya kerjakan. Saya juga mulai belajar baca Alkitab. Lalu saya mengambil keputusan untuk di Babtis. Pertama kali saya di Babtis yang terjadi adalah kemampuan saya untuk melihat Makhluk halus menghilang, hal itu bertanda kalau sesuatu yang bukan dari Tuhan akan pergi karena yang terang sudah datang dalam hidupku.
Saya tidak diakui keluarga
Mulai dari situ masalah-masalah mulai terjadi, keluarga saya mengetahui saya telah percaya Kristus dan di Babtis, maka mereka mungusir saya dari keluarga. Saya memiliki anak, keluarga saya memisahkan saya dari anak saya. Dari semua yang terjadi dalam hidup saya membuat saya sempat kecewa kepada Tuhan.
Berserah
Dari kejadian-kejadian yang terjadi saya mulai berserah, apa kata Tuhan saya siap di proses Tuhan. Saya mulai diam dan tidak mau takut akan apa yang terjadi dalam hidupku dan mulai mengandalkan Tuhan. Puji Tuhan saya masih tetap meyerahkan hidupku kedalam tangan Tuhan, biarpun masalah yang saya hadapi belum selesai tetapi saya mau tetap berserah kepada Tuhan.
Kata-kata teman
Kenapa kamu terima Yesus..? Saya terima Yesus karena Dia Hidup dan benar-benar ada, teman saya tidak percaya karena mereka belum mnegalami apa yang saya alami.
Kesaksian Rohani Kristen, Renungan, Kesaksian, Inspirasi, Saat Teduh, Firman Tuhan, Bahan Kotbah, Humor, dll.
Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 Maret 2016
Selasa, 23 Juni 2015
Yesus Menyembuhkan Penderita HIV
Kesaksian berikut membuktikan bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan penyakit HIV Aids sejalan dengan iman. Kisahnya dimulai ketika seseorang, kusebut saja dengan Ruth, tergerak memberitakan injil kepada sepasang suami isteri yang sebelumnya menganut agama non-Kristen. Si isteri sudah pernah diserahkan kepada dewi Kwan Im, sementara suaminya juga sudah pernah diserahkan kepada dewa Kwan Kong.
Antara Ruth dengan keluarga, kusebut saja bapak Santoso, nama Indonesia, mereka sudah cukup kenal. Ketika Ruth memberitakan injil, pada mulanya keluarga itu menolak, tetapi Ruth tidak jemu-jemu memberitakan injil, walau mereka tolak. Bahkan pernah mereka berkata:”Ruth, sudahlah, aku sudah jemu mendengar ceritera kamu, Yesus kamu. Mana, katanya Yesus mau datang kembali, mana buktinya, mana?..” Lama-lama Ruth agak berkecil hati juga, dan datang kepada senior kami, yang terus memacu semangat Ruth.
Lalu suatu hari Ruth mendengar berita dari Ny Santoso, bahwa suaminya, bp Santoso, sekarang terbaring sakit, terkena infeksi HIV Aids. Ruth melaporkan itu kepada penatua kami. Seperti kita ketahui, seseorang yang terinfeksi HIV Aids, maka virus itu akan membuat penderita kehilangan kekebalan tubuh (immunity), sehingga jika ada virus penyakit lain yang menyerang tubuh, maka tidak dapat sembuh, karena system kekebalannya macet.
Dan di hari tertentu, penatua kami beserta dengan Ruth mendatangi keluarga bp Santoso.
“Ibu, keadaan saya sudah begini, tinggal menghitung hari. Semoga Tuhan mengampuni saya “ kata pak Santoso lemah.
Namun puji Tuhan, justru dalam kondisi pucat pasi, lemah tak bertenaga itu, maka hati pak Santoso terbuka menerima Injil, dan mulai menyebut nama “Tuhan”, padahal sebelumnya mereka sebut dewa. Penatua kami menjelaskan kembali siapa Yesus (yang sebelumnya sudah pernah disampaikan Ruth) kepada keluarga pak Santoso, lalu dengan “bulat hati” pak Santoso mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
“Pak Santoso, katakan kepada Tuhan: Tuhan, aku mau hidup untuk memberitakan keajaiban-keajaiban Tuhan, untuk memberitakan kebesaran Tuhan, dan kebaikan Tuhan” minta penatua kami sebelum mereka berdoa kesembuhan, lalu pak Santoso patuh.
Kemudian mereka berdoa, dan hikmat marifat Allah terus mengalir dalam diri penatua kami, beliau tengking roh-roh penyakit HIV dalam nama Yesus, dan roh-roh itu keluar dengan muntahan, lalu beliau tengking “serombongan” keluarga roh HIV (apalagi, kalau bukan roh perzinahan, roh percabulan dan kawan-kawan mereka), dan setiap kali nama roh itu disebut, pak Santoso muntah, pertanda keluarnya roh-roh jahat itu. Ketika sudah “selesai”, wajah pak Santoso mulai memerah, tidak lagi pucat, dan merasa lapar minta makan,…
Puji Tuhan, namun kerja belum usai. Pak Santoso masih lemah, dan sebuah hikmat mengalir dalam penatua kami. “Dia harus berbahasa Roh, supaya tubuh rohaninya kuat” penatua kami berkata dalam hati. Maka penatua kami berdoa tumpang tangan agar pak Santoso menerima karunia berbahasa Roh. Mulailah mulut pak santoso bersenandung: “Haa, haa, haa, haa” dengan nada “mi”, “do”, “mi”, “do” . Masih agak lucu. Penatua kami berdoa lagi, meminta Tuhan memberinya bahasa Roh yang lebih baik. Lalu mulai pak Santoso mengucapkan: “La la la, .. bla bla bla bla,…” Masih agak lucu juga, seperti sepeda motor businya “ngupil” dan sedikit ngadat. Tetapi tidak apa, karena seiring waktu , Tuhan dapat melengkapi bahasa Roh itu.
Lalu penatua kami berpesan, agar setiap hari pak Santoso rajin berbahasa Roh untuk membangun diri, agar rohnya kuat, sehingga tubuhnya dipulihkan.
Tidak berapa lama penatua kami mendapat undangan untuk menghadiri pengucapan syukur oleh keluarga bapak Santoso, dan mereka pun bertemu. Kaget, karena pak Santoso sudah sangat sehat dan bugar. “Ibu, puji Tuhan, dokter menyatakan bahwa saya sudah sembuh total” kata pak Santoso tersenyum lebar.
Biarlah FAKTA ini semakin mendorong umat Tuhan untuk lebih rajin lagi menggali kekayaan Firman Tuhan. Haleluyah.
Minggu, 21 Juni 2015
Yesus Menyembuhkan Penyakitku
Saya merasa bahwa saya harus membahagiakan papa-mama, para guru, dan teman-teman. Prestasi belajar saya yang sangat baik membuat saya sering dipercaya menjadi utusan dalam berbagai perlombaan, untuk mewakili sekolah, kabupaten, propinsi, bahkan sampai ke tingkat nasional.
Ketika saya mengikuti Olimpiade MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) di tingkat propinsi, saya merasa pusing luar biasa. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa saya mengidap penyakit tumor otak. Saya hampir tidak bisa mempercayai hal ini. Sejak saat itu saya berubah total. Hari ke hari perasaan cemas dan takut merasuki diri saya. Orang-orang yang mengenal saya tidak menyangka kalau saya menderita penyakit ini. Kebahagiaan keluarga pun ikut terpengaruh. Berbagai usaha papa lakukan untuk kesembuhan saya, baik ke dokter maupun ke dukun-dukun. Akan tetapi selama dua tahun usaha-usaha itu tidak membuahkan hasil.
Saya hanya bisa pasrah. Sekolah tidak saya pikirkan lagi. Hari-hari saya lalui dengan berbaring saja di tempat tidur. Suatu hari, ketika saya menangis sendirian, tiba-tiba HP saya berbunyi. Ada pesan masuk: “Fred, bisa temani aku? Kapan saja.” Uh, kata-kata ini membuat saya semakin kesal. Akan tetapi, entah kenapa, saya beranikan diri untuk kabur dari rumah dan menemui teman saya itu. Dia mengajak saya untuk mengikuti persekutuan doa di biara Suster Putri Karmel. Karena waktu itu saya belum mengetahui apa-apa tentang pencurahan Roh Kudus maupun tentang Suster Putri Karmel, maka saya menolaknya dengan alasan sibuk. Saya tidak berani mengatakan kepadanya bahwa saya sakit.
Beberapa minggu kemudian dia mengajak saya lagi untuk mengikuti persekutuan doa. Kali ini saya menerima ajakannya karena saya tak mau mengecewakan dia lagi. Sewaktu acara berlangsung, saya bingung, kenapa ada suster-suster dan ada banyak sekali anak sekolah yang datang, namun saya senang sekali dengan lagu-lagu pujian yang dinyanyikan. Semua tampak gembira, bertepuk tangan sambil menari-nari dan menyanyi. Saya merasa terhibur di tempat itu. Setelah itu suasana hening menyelimuti tempat itu, seolah-olah tak ada orang. Suster meminta kami menyadari Tuhan Yesus yang hadir di dalam hati dan berdoa.
Sepintas saya berdoa dalam hati, “Tuhan, tolong sembuhkan saya.” Sebuah lagu penyembahan dinyanyikan. Lagu-yang sangat menyentuh saya—itu disusul dengan senandung roh para suster. Tiba-tiba ada suster yang berkata, “Bagi kamu yang sakit di bagian kepala, letakkan tanganmu di kepalamu dan bayangkan Yesus menjamah dan menyembuhkanmu.” Saya yakin kalau kata-kata itu ditujukan kepada saya karena sesuai dengan apa yang saya alami.
Setelah acara selesai, saya menanyakan hal itu kepada suster. Suster meminta nomor HP saya dan berjanji akan mendoakan saya. Sepulang dari acara itu, ada hal baru yang saya rasakan. Meskipun sesampai di rumah, saya dimarahi oleh papa-mama, saya merasa ada hal lain yang menjiwai diri saya. Saya tidak ingin suasana doa itu hilang.
Suatu ketika sakit tumor otak saya kambuh lagi, bahkan lebih parah dari sebelumnya sehingga saya harus dirawat di rumah sakit. Hanya keluarga yang mengetahui bahwa saya masuk rumah sakit lagi. Saya sengaja tidak memberitahu teman-teman.
Saya sedang berada di ruang ICU dan menunggu saat-saat akan dioperasi. Dokter dan keluarga saya mengelilingi pembaringan saya. Sayup-sayup saya masih mendengar mama menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba HP di meja dekat pembaringan berbunyi. Papa dengan segera memberikan HP itu kepada saya. Ternyata seorang suster Putri Karmel yang menelpon dan mengajak saya mengikuti retret. Suster tidak tahu bahwa saya sedang dirawat di rumah sakit. Saya mengatakan bahwa saya akan menjalani operasi. Suster terkejut, kemudian mengajak saya berdoa saat itu juga melalui HP.
Awalnya saya kurang jelas mendengar doa-doanya, tetapi saya berusaha mengikutinya. Suster menyuruh saya membayangkan Tuhan Yesus menjamah saya. Saya menyerukan “Yesus.. Yesus…”. Tiba-tiba saya merasa ada yang menarik urat di kepala saya, dan bagian tulang rusuk serta urat kaki saya. Saya merasa nyaman/enak sekali. Beberapa saat kemudian saya mulai bangun perlahan-lahan, lalu duduk di tempat tidur, dan akhirnya berdiri. Dokter dan keluarga saya di situ hanya heran dan bingung melihat saya tiba-tiba sembuh. Bagian kepala saya terasa dingin, tidak seperti biasanya. Akhirnya rencana operasi ditunda dan malam itu juga saya minta pulang ke rumah.
Hari-hari selanjutnya saya sungguh merasakan perubahan dalam diri saya. Saya bisa mengikuti Misa Natal dan Tahun Baru 2007 tanpa beban dan sakit lagi. Ternyata Tuhan masih memerhatikan saya melalui suster-suster Putri Karmel. Tahun 2008 adalah saat terindah yang Tuhan berikan kepada saya karena saya bisa bergabung dengan teman-teman dalam KTM Muda-Mudi dan kelompok Caritas yang juga dibimbing oleh suster-suster Putri Karmel.
Tanggal 17 Januari 2008, sebelum saya diperiksa lagi oleh dokter, saya minta didoakan suster Putri Karmel. Dokter merasa heran dan sungguh tidak percaya karena saya sudah sembuh total. Dokter bertanya, ”Siapa yang menyembuhkan kamu?” Saya tersenyum dan menjawab, “Tuhan Yesus. Saya bersandar pada-Nya saja!” Setelah dijelaskan oleh papa, barulah dokter mengerti apa yang terjadi. Namun, dokter menyarankan untuk tetap periksa dua minggu sekali.
Hal yang menarik, bukan hanya karena saya sudah sembuh, tetapi seluruh hidup saya berubah. Teman-teman heran dan banyak bertanya-tanya melihat perubahan saya. Tidak seperti dulu, sekarang banyak waktu saya habiskan untuk berdoa, belajar, beristirahat, dan bersosialisasi. Setiap Sabtu malam saya mengikuti persekutuan doa di biara suster-suster Putri Karmel, hari Minggu sepulang dari gereja saya membantu para suster membimbing KTM (Komunitas Tritunggal Mahakudus) anak-anak di biara lalu mengikuti pertemuan sel dengan teman-teman Caritas.
Hari-hari saya jalani dengan penuh semangat dan sukacita. Hari libur saya pergunakan untuk membantu para suster mengatur taman dan menanam bunga di Pertapaan Wae Lengkas. Saya merasa suster-suster Putri Karmel menjadi bagian dari keluarga saya dan saya merasakan kasih serta dukungan doa mereka. Sampai ada suster bertanya, ”Tidak capaikah siang malam ke sini?”
Disembuhkan Dari Kanker Kandung Empedu
Nama saya Jenny Marliana, saya mau menyaksikan kuasa dan mujizat Tuhan Yesus yang telah menyembuhkan saya dari sakit Kanker pada kandung empedu saya.
Pada tanggal 25 Agustus 2010, saya mengalami mual dan muntah, badan saya lemah, tidak selera makan, kemudian saya jatuh di tempat pekerjaan saya. Kemudian saya langsung di rumah sakit oleh teman saya masuk ke IGD untuk pemeriksaan.
Nama saya Jenny Marliana, saya mau menyaksikan kuasa dan mujizat Tuhan Yesus yang telah menyembuhkan saya dari sakit Kanker pada kandung empedu saya.
Pada tanggal 25 Agustus 2010, saya mengalami mual dan muntah, badan saya lemah, tidak selera makan, kemudian saya jatuh di tempat pekerjaan saya. Kemudian saya langsung di rumah sakit oleh teman saya masuk ke IGD untuk pemeriksaan.
Kemudian saya pulang ke rumah. Namun besoknya saya tidak tahan merasakan sakit, kemudian dibawa lagi ke rumah sakit oleh suami saya dan diopname 1 malam.
Kemudian dokter yang merawat saya menganjurkan dilakukan pemeriksaan USG. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ada batu pada empedu saya. Selanjutnya saya dioperasi selama 4 jam. Setelah sadar, dokter menyampaikan bahwa empedu saya sudah bernanah sebesar mangkok bakso. Kemudian dilakukan operasi untuk mengangkat empedu saya.
Lima hari kemudian, dari hasil pemeriksaan patologi oleh dokter dinyatakan ada kanker ganas pada jaringan kandungan empedu saya. Setelah 2 minggu diopname, maka saya kembali ke rumah.
Setelah 2 hari di rumah, badan saya menjadi berwarna kuning seperti kunyit, kemudian saya dibawa ke klinik terdekat. Selanjutnya saya dirujuk ke rumah sakit di daerah Medan Timur. Setelah masuk rumah sakit selama 2 hari, ternyata ada kebocoran bekas operasi empedu saya. Dokter menyatakan sulit disembuhkan, kalau bisa bertahan dalam seminggu, itu adalah mujizat kata dokter.
Jadi saya dirawat di rumah sakit selama 4 bulan. Pada bulan Oktobernya kondisi saya koma, nafas hanya satu-satu, dokter sudah angkat tangan, tidak bisa diobati lagi.
Menghadapi hal tersebut saya menangis kepada Tuhan. Selama ini saya belum percaya penuh kepada Tuhan, maka saya berdoa “Tuhan saya mau percaya 100% kepada Engkau”. Saya teringat kepada Firman Tuhan, mintalah maka akan diberi. Demikian juga saya teringat akan wanita pendarahan 12 tahun, yang menyatakan asal kujamah saja jubah Tuhan Yesus, maka aku sembuh.
Saya membayangkan Tuhan Yesus turun dari langit, saya pegang jubahNya, saya bilang aku percaya sembuh.
Besoknya saya langsung di bawa ke ruangan ICU. Selama 5 hari saya tidak sadar, bahkan saya sudah dianggap sudah meninggal, tidak ada harapan lagi bagi saya. Namun saya terus percaya, saya tulis di kertas saya masih bernafas dan saya tunjukkan kepada keluarga saya.
Kemudian pada tanggal 20 November 2010, ada seorang hamba Tuhan dari Gereja CWS Medan mengunjungi rumah saya untuk mendoakan saya dan bertemu suami saya. Kemudian hamba Tuhan tersebut mengundang suami saya dan saya untuk hadir di Kebaktian Pujian dan Penyembuhan Ilahi di Gereja CWS Medan pada tanggal 22 November 2010.
Pada tanggal 22 November 2011 tersebut, suami saya membawa saya dalam keadaan tidak bisa bangun.Kemudian saat puji-pujian berlangsung, saya merasakan kekuatan pada tubuh saya dan saya dapat berdiri memuji Tuhan.
Selanjutnya saat doa kesembuhan, saya didoakan, dan saya merasakan kesembuhan mengalir pada tubuh saya. Puji Tuhan! Haleluya!! Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyembuhkan saya.
Sungguh tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus!!
Pada tanggal 25 Agustus 2010, saya mengalami mual dan muntah, badan saya lemah, tidak selera makan, kemudian saya jatuh di tempat pekerjaan saya. Kemudian saya langsung di rumah sakit oleh teman saya masuk ke IGD untuk pemeriksaan.
Nama saya Jenny Marliana, saya mau menyaksikan kuasa dan mujizat Tuhan Yesus yang telah menyembuhkan saya dari sakit Kanker pada kandung empedu saya.
Pada tanggal 25 Agustus 2010, saya mengalami mual dan muntah, badan saya lemah, tidak selera makan, kemudian saya jatuh di tempat pekerjaan saya. Kemudian saya langsung di rumah sakit oleh teman saya masuk ke IGD untuk pemeriksaan.
Kemudian saya pulang ke rumah. Namun besoknya saya tidak tahan merasakan sakit, kemudian dibawa lagi ke rumah sakit oleh suami saya dan diopname 1 malam.
Kemudian dokter yang merawat saya menganjurkan dilakukan pemeriksaan USG. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ada batu pada empedu saya. Selanjutnya saya dioperasi selama 4 jam. Setelah sadar, dokter menyampaikan bahwa empedu saya sudah bernanah sebesar mangkok bakso. Kemudian dilakukan operasi untuk mengangkat empedu saya.
Lima hari kemudian, dari hasil pemeriksaan patologi oleh dokter dinyatakan ada kanker ganas pada jaringan kandungan empedu saya. Setelah 2 minggu diopname, maka saya kembali ke rumah.
Setelah 2 hari di rumah, badan saya menjadi berwarna kuning seperti kunyit, kemudian saya dibawa ke klinik terdekat. Selanjutnya saya dirujuk ke rumah sakit di daerah Medan Timur. Setelah masuk rumah sakit selama 2 hari, ternyata ada kebocoran bekas operasi empedu saya. Dokter menyatakan sulit disembuhkan, kalau bisa bertahan dalam seminggu, itu adalah mujizat kata dokter.
Jadi saya dirawat di rumah sakit selama 4 bulan. Pada bulan Oktobernya kondisi saya koma, nafas hanya satu-satu, dokter sudah angkat tangan, tidak bisa diobati lagi.
Menghadapi hal tersebut saya menangis kepada Tuhan. Selama ini saya belum percaya penuh kepada Tuhan, maka saya berdoa “Tuhan saya mau percaya 100% kepada Engkau”. Saya teringat kepada Firman Tuhan, mintalah maka akan diberi. Demikian juga saya teringat akan wanita pendarahan 12 tahun, yang menyatakan asal kujamah saja jubah Tuhan Yesus, maka aku sembuh.
Saya membayangkan Tuhan Yesus turun dari langit, saya pegang jubahNya, saya bilang aku percaya sembuh.
Besoknya saya langsung di bawa ke ruangan ICU. Selama 5 hari saya tidak sadar, bahkan saya sudah dianggap sudah meninggal, tidak ada harapan lagi bagi saya. Namun saya terus percaya, saya tulis di kertas saya masih bernafas dan saya tunjukkan kepada keluarga saya.
Kemudian pada tanggal 20 November 2010, ada seorang hamba Tuhan dari Gereja CWS Medan mengunjungi rumah saya untuk mendoakan saya dan bertemu suami saya. Kemudian hamba Tuhan tersebut mengundang suami saya dan saya untuk hadir di Kebaktian Pujian dan Penyembuhan Ilahi di Gereja CWS Medan pada tanggal 22 November 2010.
Pada tanggal 22 November 2011 tersebut, suami saya membawa saya dalam keadaan tidak bisa bangun.Kemudian saat puji-pujian berlangsung, saya merasakan kekuatan pada tubuh saya dan saya dapat berdiri memuji Tuhan.
Selanjutnya saat doa kesembuhan, saya didoakan, dan saya merasakan kesembuhan mengalir pada tubuh saya. Puji Tuhan! Haleluya!! Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyembuhkan saya.
Sungguh tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus!!
Kamis, 09 April 2015
Istri Yang Kejam Diubahkan Tuhan
Tuhan membentuk saya dengan bermacam-macam cara dan peristiwa. Salah satunya melalui suami. Dari dulu memang saya pemarah. Jika suami ada salah sedikit, saya mulai cakar dia dan mengamuk.
Sekarang, ketika saya ingin marah, saya minta penguasaan diri dari Tuhan. “Tuhan, tolong saya.” Tidak ada cara lain. Dan Tuhan membuat tangan saya tidak bisa bergerak.
Tuhan mengajar dengan mengizinkan banyak hal terjadi, agar saya banyak penguasaan diri dan tunduk kepada suami. Dengan melalui perjuangan demi perjuangan dan dengan pertolongan Tuhan, itu pasti bisa.
Tuhan memberikan satu pengertian mengapa istri harus tunduk kepada suami. Ketika seorang istri tunduk kepada suami dan suaminya berlaku semena-mena, maka Tuhan yang akan membela sang istri. Apakah lebih baik membela diri sendiri dan bertengkar atau diam dan Tuhan yang membela? Ketika saya diberi pengertian itu, di dalam segala hal, saya memilih untuk diam. Dan Tuhanlah yang membela saya.
Suatu kali Tuhan mendidik saya ketika kami berada di Spanyol untuk pelayanan pada bulan Desember. Udara di sana dingin sekali, antara 3 sampai minus 5 derajat Celsius. Ketika itu kami berjalan-jalan di pantai melihat kapal-kapal pesiar. Lalu kami mampir ke kafe. Ketika sampai di kafe suami saya berkata, “Sebentar mam, saya mau ke toilet.” Lalu suami ke toilet. Ketika agak lama suami saya tidak keluar-keluar, saya mulai berpikir, “Ada apa ya?”
Saya berkata kepada tuan rumah yang mengundang kami, “Sebentar pak, saya mau lihat dulu suami saya ke toilet.”
Ketika saya akan masuk ke toilet, saya ketuk pintu. “Pap, ada di dalam?” Kata suami saya, “Dorong saja pintunya, mam!” Saya dorong pintunya. Astaga, ternyata saya lihat seluruh lantai dipenuhi kotoran suami saya.
Saya bertanya, “Pap, kenapa bisa begini?”
Dia menjawab, “Gak tahu, begitu masuk sini, saya sudah berak kemana-mana.” Beraknya bukan kotoran keras, tetapi seperti bubur bayi. Padahal toilet di luar negeri, toiletnya bersih dan kering.
Saya lihat suami saya sedang duduk di atas closet. Saya buka celana panjangnya, semuanya terkena kotoran. Bukan hanya celana dalam, tetapi juga celana panjang, ikat pinggang, semuanya terkena kotoran.
Saya keluar dari toilet dan berkata kepada pak Peter, “Pak Peter, bisa minta tolong ke rumah bapak, maaf ambilkan handuk, celana panjang dan celana dalam bapak? Maaf ya merepotkan. Pak Peter, tolong juga carikan gayung di sini atau kalau tidak ada pinjam gelas saja?” Dia membawakan saya gelas dan saya bawa ke toilet.
Tuhan izinkan ini terjadi. Saya pakai jas dan baju berlapis-lapis karena dingin. Saya membuka sarung tangan dan mulai mengepel lantai WC sambil memuji Tuhan, saya mengucap syukur. Seumur hidup saya, baru kali ini saya mengalaminya. Kalau hal ini terjadi, saya menerimanya dengan bersuka dan bersyukur.
Saya mulai mengepel satu arah dahulu supaya suami saya bisa jalan lewat. Saya meminta dia tetap duduk dan mengangkat sepatunya. Saya mencuci sepatunya. Setelah itu saya bukakan celana panjangnya dan celana dalamnya. Saya memandikan suami saya dan membersihkannya. Dan saya katakan kepada suami, “Ayo pakai sandal ini dan keluar toilet.” Saya pinjam satu kursi dari kafe itu, untuk suami saya duduk, tidak pakai celana panjang, tidak pakai celana dalam. Dingin sekali. Tas saya ambil untuk menutupi dia. “Tolong tunggu sampai pak Peter datang.”
Saya cuci celana panjangnya, saya cuci celana dalamnya dan mengepel lantai WC, bukan hanya closetnya saja, tetapi seluruh lantainya. Setelah itu saya menggunakan kertas tissue untuk mengeringkan WC karena harus bersih dan kering.
Ketika WC sudah bersih, Pak Peter datang. Suami saya mengeringkan badang dengan handuk, memakai celana dalam dan celana panjang. Suami saya bersih. Tetapi jas saya dan semua pakaian saya bau karena terkena kotoran juga.
Saya bersyukur saja kepada Tuhan karena Dia izinkan satu cobaan untuk saya sehingga saya belajar menghadapi dan mengurus suami yang buang air besar berceceran. Saya melakukannya dengan penuh ketulusan.
Ketika kami masuk mobil, mobil tuan rumah, mobil mewah, saya berkata kepada pemiliknya, “Maaf ya pak, jas saya ini masih bau.” Dia berkata, “Gak apa-apa, bu. Nanti mobil ini diberi pewangi saja. Nanti ibu ganti jas sesampai di rumah ya.”
Itulah kehidupan sebuah bejana yang terus dibentuk Tuhan. Saya bukan hanya bisa bicara atau mengkhotbahkan soal tunduk dan melayani suami, tetapi Tuhan izinkan saya melakukannya terlebih dahulu.
Suatu ketika di Banjarmasin, suami saya ada masalah dengan perutnya. Untuk jangka waktu enam bulan, setiap malam suami saya buang air besar di tempat tidur. Dari tempat tidur sampai ke closet, berceceran kotorannya. Hampir setiap malam atau seminggu dua kali, saya harus ganti seprei dan bed cover. Semua itu saya yang mencuci karena pada waktu itu kami belum ada suster. Sambil mencuci kotorannya, saya memuji Tuhan. Pernah, di suatu malam saya harus mencuci dan membereskan kotoran itu, padahal esok pagi-paginya saya harus membawakan Firman Tuhan. Sebagai tanah liat, saya siap dibentuk oleh penjunan-Nya, yaitu Tuhan Yesus.
Catatan: Kisah di atas diambil dari Buku "Barometer Tuhan" yang ditulis oleh Ibu Lidya Dewi Yana, mantan pengusaha sukses di Banjarmasin yang kemudian melayani sepenuh waktu bagi Tuhan bersama suami dan anak-anaknya.
Sekarang, ketika saya ingin marah, saya minta penguasaan diri dari Tuhan. “Tuhan, tolong saya.” Tidak ada cara lain. Dan Tuhan membuat tangan saya tidak bisa bergerak.
Tuhan mengajar dengan mengizinkan banyak hal terjadi, agar saya banyak penguasaan diri dan tunduk kepada suami. Dengan melalui perjuangan demi perjuangan dan dengan pertolongan Tuhan, itu pasti bisa.
Tuhan memberikan satu pengertian mengapa istri harus tunduk kepada suami. Ketika seorang istri tunduk kepada suami dan suaminya berlaku semena-mena, maka Tuhan yang akan membela sang istri. Apakah lebih baik membela diri sendiri dan bertengkar atau diam dan Tuhan yang membela? Ketika saya diberi pengertian itu, di dalam segala hal, saya memilih untuk diam. Dan Tuhanlah yang membela saya.
Suatu kali Tuhan mendidik saya ketika kami berada di Spanyol untuk pelayanan pada bulan Desember. Udara di sana dingin sekali, antara 3 sampai minus 5 derajat Celsius. Ketika itu kami berjalan-jalan di pantai melihat kapal-kapal pesiar. Lalu kami mampir ke kafe. Ketika sampai di kafe suami saya berkata, “Sebentar mam, saya mau ke toilet.” Lalu suami ke toilet. Ketika agak lama suami saya tidak keluar-keluar, saya mulai berpikir, “Ada apa ya?”
Saya berkata kepada tuan rumah yang mengundang kami, “Sebentar pak, saya mau lihat dulu suami saya ke toilet.”
Ketika saya akan masuk ke toilet, saya ketuk pintu. “Pap, ada di dalam?” Kata suami saya, “Dorong saja pintunya, mam!” Saya dorong pintunya. Astaga, ternyata saya lihat seluruh lantai dipenuhi kotoran suami saya.
Saya bertanya, “Pap, kenapa bisa begini?”
Dia menjawab, “Gak tahu, begitu masuk sini, saya sudah berak kemana-mana.” Beraknya bukan kotoran keras, tetapi seperti bubur bayi. Padahal toilet di luar negeri, toiletnya bersih dan kering.
Saya lihat suami saya sedang duduk di atas closet. Saya buka celana panjangnya, semuanya terkena kotoran. Bukan hanya celana dalam, tetapi juga celana panjang, ikat pinggang, semuanya terkena kotoran.
Saya keluar dari toilet dan berkata kepada pak Peter, “Pak Peter, bisa minta tolong ke rumah bapak, maaf ambilkan handuk, celana panjang dan celana dalam bapak? Maaf ya merepotkan. Pak Peter, tolong juga carikan gayung di sini atau kalau tidak ada pinjam gelas saja?” Dia membawakan saya gelas dan saya bawa ke toilet.
Tuhan izinkan ini terjadi. Saya pakai jas dan baju berlapis-lapis karena dingin. Saya membuka sarung tangan dan mulai mengepel lantai WC sambil memuji Tuhan, saya mengucap syukur. Seumur hidup saya, baru kali ini saya mengalaminya. Kalau hal ini terjadi, saya menerimanya dengan bersuka dan bersyukur.
Saya mulai mengepel satu arah dahulu supaya suami saya bisa jalan lewat. Saya meminta dia tetap duduk dan mengangkat sepatunya. Saya mencuci sepatunya. Setelah itu saya bukakan celana panjangnya dan celana dalamnya. Saya memandikan suami saya dan membersihkannya. Dan saya katakan kepada suami, “Ayo pakai sandal ini dan keluar toilet.” Saya pinjam satu kursi dari kafe itu, untuk suami saya duduk, tidak pakai celana panjang, tidak pakai celana dalam. Dingin sekali. Tas saya ambil untuk menutupi dia. “Tolong tunggu sampai pak Peter datang.”
Saya cuci celana panjangnya, saya cuci celana dalamnya dan mengepel lantai WC, bukan hanya closetnya saja, tetapi seluruh lantainya. Setelah itu saya menggunakan kertas tissue untuk mengeringkan WC karena harus bersih dan kering.
Ketika WC sudah bersih, Pak Peter datang. Suami saya mengeringkan badang dengan handuk, memakai celana dalam dan celana panjang. Suami saya bersih. Tetapi jas saya dan semua pakaian saya bau karena terkena kotoran juga.
Saya bersyukur saja kepada Tuhan karena Dia izinkan satu cobaan untuk saya sehingga saya belajar menghadapi dan mengurus suami yang buang air besar berceceran. Saya melakukannya dengan penuh ketulusan.
Ketika kami masuk mobil, mobil tuan rumah, mobil mewah, saya berkata kepada pemiliknya, “Maaf ya pak, jas saya ini masih bau.” Dia berkata, “Gak apa-apa, bu. Nanti mobil ini diberi pewangi saja. Nanti ibu ganti jas sesampai di rumah ya.”
Itulah kehidupan sebuah bejana yang terus dibentuk Tuhan. Saya bukan hanya bisa bicara atau mengkhotbahkan soal tunduk dan melayani suami, tetapi Tuhan izinkan saya melakukannya terlebih dahulu.
Suatu ketika di Banjarmasin, suami saya ada masalah dengan perutnya. Untuk jangka waktu enam bulan, setiap malam suami saya buang air besar di tempat tidur. Dari tempat tidur sampai ke closet, berceceran kotorannya. Hampir setiap malam atau seminggu dua kali, saya harus ganti seprei dan bed cover. Semua itu saya yang mencuci karena pada waktu itu kami belum ada suster. Sambil mencuci kotorannya, saya memuji Tuhan. Pernah, di suatu malam saya harus mencuci dan membereskan kotoran itu, padahal esok pagi-paginya saya harus membawakan Firman Tuhan. Sebagai tanah liat, saya siap dibentuk oleh penjunan-Nya, yaitu Tuhan Yesus.
Catatan: Kisah di atas diambil dari Buku "Barometer Tuhan" yang ditulis oleh Ibu Lidya Dewi Yana, mantan pengusaha sukses di Banjarmasin yang kemudian melayani sepenuh waktu bagi Tuhan bersama suami dan anak-anaknya.
Kisah Anak Yang Hilang dihari Natal
Kisah ini tentang kesaksian pada suatu hari Natal. Pemuda ini menjalani kehidupan bebas sebebas-bebasnya pada waktu muda, lalu datanglah kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan, bertobat dan sebagai ucapan syukur pemuda ini melayani pekerjaan Tuhan. Kehidupan terus berlalu hingga dia membangun keluarga.
Berhubung dia berasal dari keluarga pengusaha yang cukup kaya di Jakarta, maka istrinya didorong ayah ibunya untuk segera hamil. Kelahiran sang cucu sangat dinanti-nanti. Keluarga besarnya sangat mengelu-elukan lahirnya seorang putera, yang dipandang penting sebagai bagian dari generasi penerus.
Ketika akhirnya istrinya hamil, sangat senanglah keluarga besar ini. Kebutuhan sang istri dan bayinya sangat diperhatikan dengan seksama. Pemeriksaan dokter dilakukan secara teratur. Pada waktu kehamilan bulan kedelapan, sang istri segera dilarikan ke Rumah Sakit karena ada kemungkinan kelahiran bayi prematur. Kejadian ini ternyata serius karena istri dan anak yang dikandungnya menghadapi pergumulan hidup dan mati. Team dokter ahli sudah mengerahkan segenap kemampuan mereka, namun ternyata apa mau dikata, istri dan anaknya tak tertolong. Inilah pukulan berat bagi si pemuda.
Ia bertanya kepada Tuhan, "Mengapa? Mengapa istri dan bayinya harus dipanggil pulang secepat ini? Mengapa Tuhan tidak menolong? Mengapa Tuhan tidak mendengar doanya? Mengapa Tuhan membiarkan mereka meninggalkannya? Mengapa dia tidak diberi kesempatan untuk hidup bahagia bersama istri dan anaknya? Mengapa?"
Itulah pukulan hebat dan luar biasa bagi pemuda ini. Dia marah sekali kepada Tuhan. Dia juga marah kepada keluarga besarnya yang "memaksa" mereka untuk punya anak segera. Pukulan hebat ini membuat dia tidak percaya lagi bahwa Tuhan itu baik, bahwa keluarganya juga baik. Seperti sang anak bungsu yang hilang dalam kisah Alkitab, dia melarikan diri dari rumah keluarga besarnya, dia melarikan diri dari Tuhan, dia pergi jauh membawa uang untuk dipakai berfoya-foya. Dia pakai uangnya untuk hidup seenaknya, hidup sebebas-bebasnya, hingga uangnya habis. Selama berfoya-foya dia tidak dapat dihubungi siapapun, sehingga ketika ayahnya meninggal, dia tidak tahu dan tidak menghadiri pemakaman ayahnya.
Setelah menjadi miskin, dia tidak berani pulang ke rumah orang tuanya. Dia pergi ke tanah kelahirannya di Medan. Dia hidup menggelandang, dia hidup sebagai orang jalanan, dia hidup diantara para preman. Dia hidup seenaknya dan sesukanya.
Pada hari-hari menjelang Natal dia ingat bahwa sebentar lagi akan ada perayaan Natal. Ingat Natal, dia ingat Tuhan. Tapi hanya kepahitan yang memenuhi hatinya saat itu. Malam itu di bawah kolong langit yang cerah dia masih marah kepada Tuhan. Dia memaki-maki Tuhan. Dia lampiaskan sakit hatinya kepada Tuhan. Dia tunjuk jarinya ke langit sambil mengata-ngatai Tuhan.
Puas dengan cara itu, dia akhirnya tertunduk kelelahan. Sementara hatinya masih diliputi kemarahan, terdengar sayup-sayup senandung yang berkata, "How could I forget His love, how could I forget His mercy..... He satisfies, he satisfies, he satisfies my desire...."
Hatinya tersentuh. Dia ingat kasih Tuhan. Dia ingat pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Dia ingat kemurahan-Nya. Dia ingat pengampunan-Nya. Dia ingat. Rupanya dia tidak dapat lari dari Roh Tuhan yang mengejarnya terus kemanapun dia pergi.
Pelan-pelan dia bangkit. Ia cari suara nyanyian itu. Ternyata suara itu berasal dari sebuah gereja kecil di sebuah gang. Ada beberapa anak muda sedang mempersiapkan acara Natal di situ. Dengan malu-malu dia mendekati mereka.
"Maaf, kami tidak memberikan sumbangan saat ini," kata salah satu dari anak muda di gereja itu.
"Oh, saya tidak minta apa-apa. Saya tidak layak masuk ke dalam gereja. Biarkan saya duduk di depan pintu ini saja." Dia terus mendengarkan mereka latihan lagu-lagu Natal. Sementara itu Roh Kudus memulihkan hatinya, menyembuhkan luka batinnya, memberi damai sejahtera yang tidak pernah dia rasakan bertahun-tahun selama pelariannya.
Pada perayaan Natal saat itu dia akhirnya berani masuk ke gereja kecil itu, namun di deretan paling belakang. Dia menikmati kehadiran Tuhan di gereja kecil dan sederhana itu. Dan sejak itu hidupnya dipulihkan kembali. Dengan pertolongan Tuhan, dia mulai bekerja dengan halal. Dia mengajak teman-teman gelandangannya untuk bekerja mengolah kain-kain sisa dari industri garmen di sekitar situ, untuk dijadikan kain perca dan dijadikan barang-barang yang bernilai tambah tinggi. Dari situ dia mulai membangun kehidupan baru. Akhirnya dia kembali ke Jakarta, kembali kepada keluarganya, kembali meneruskan bisnis keluarganya.
Sabtu, 04 April 2015
Kesaksian Hidup Ahok
Ahok adalah The Rising Star dimata masyarakat Indonesia. Ketegasan dan Keberaniannya memberikan inspirasi kepada banyak orang, termasuk kepada pemimpin-pemimpin Nasional. Dan kali ini kita akan mendengarkan kesaksian dari Ahok, Gubernur DKI Jakarta. Dan inilah kesaksiannya.
Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.
Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.
Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau," dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.
Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.
Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.
Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, "Siapa yang mau Ku-utus?" Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.
Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.
Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.
Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.
Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.
Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.
Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.
Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.
Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau," dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.
Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.
Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.
Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, "Siapa yang mau Ku-utus?" Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.
Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.
Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.
Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.
Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.
Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.
Mujizat Kesembuhan Pada Bayi Yang Hampir Mati
Ini adalah kisah seorang bayi di pintu kematian, kisah mukjizat tentang Ethan Stacy. Pada waktu kedua orangtua Ethan melangkah sepanjang jalan di pekuburan untuk melihat tempat untuk mengubur bayi mereka, Ethan Stacy, yang tinggal menunggu kematian dalam hitungan hari. Ethan sudah dirawat oleh perawat spesialis bagi pasien-pasien yang akan meninggal (hospice nurse). Kondisi kesehatan tubuhnya menurun dengan cepat.
Menurut penjelasan Dr. Melissa Rhodes, Ethan menderita sakit kanker darah jenis Acute Myeloid Leukemia (AML). Ia bertugas di bagian Onkologi di RS Anak Vanderbilt di Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, dan menjadi salah satu dokter yang merawat Ethan. “Anak-anak yang terlahir dengan penyakit leukemia biasanya tidak akan bertahan hidup lama,” kata Dr. Rhodes. “Pengobatan terbaik yang dapat kami lakukan adalah mengobati Ethan dengan kemoterapi yang berat dan itupun tidak menjamin apakah ia dapat disembuhkan.” Sesungguhnya, kemoterapi itu ibarat racun bagi bayi-bayi yang baru dilahirkan sehingga para dokter memberi pilihan kepada orangtua Ethan untuk menolak kemoterapi bagi anak mereka.
Setelah dua minggu di RS, Chad dan Mandy, orangtua Ethan, mengambil keputusan yang berat untuk membawa bayi mereka pulang ke rumah. “Kemo itu dapat membunuh bayi kita,” kata Chad. “Banyak risikonya.”
“Kami pulang ke rumah dan saya ingat sedang berbaring di ranjang sambil berdoa,” kata Mandy, “Saya katakan, ‘Tuhan, berilah kami jawaban,’ Kami berdua bangun tidur pada keesokan hari dan kami sepakat, ‘Tidak, kami tidak akan membiarkan Ethan dikemo.’” Kebanyakan dokter di RS Vanderbilt mendukung keputusan mereka. “Kami bayangkan jika Ethan memang terkena jenis leukemia yang kami duga, bahkan dengan pengobatan melalui kemoterapi dengan dosis penuhpun mungkin tidak akan menolong Ethan,” kata Dr. Rhodes. “Karena alasan itulah kami menghormati keputusan keluarga itu.”
Setelah beberapa hari di rumah, bayi Ethan mengeluarkan bintik-bintik, yang sangat umum bagi para bayi yang terkena infeksi. Oleh karena itu mereka membawa kembali Ethan ke RS. Itulah saatnya ketika tumor mulai menampakkan diri. “Kami mendapati ada tonjolan di betisnya,” kata Mandy. “Kami memanggil dokter, dan mereka memberitahu bahwa itu mungkin gumpalan darah atau tumpukan sel leukemia, yang disebut ‘chloroma’.” Tumor-tumor lain mulai muncul di bagian tubuh Ethan yang lain, seperti kaki, tangan, dan lengannya.
“Leukemia itu sendiri artinya kanker darah, suatu penyakit darah,” jelas Dr. Rhodes. “Tetapi jenis leukemia AML ini dapat menyebar ke dalam jaringan kulit. Itulah yang kami percaya sedang dialami oleh Ethan. Ia sesungguhnya terkena leukemia di dalam kulitnya, di tangan dan kakinya, selain di dalam liver dan limfanya. Jadi, tubuh Ethan menunjukkan bahwa penyakitnya sudah mencapai stadium lanjut.”
Saat itu Ethan sudah berumur tiga minggu, dan kondisi kesehatannya sangat menurun. Ia tidak mau makan dan mulai mengalami gangguan tidur. “Sang perawat memberitahu saya bahwa Ethan mungkin akan mengalami apa yang disebut ‘sepsis’, yaitu infeksi di seluruh tubuh, yang bisa berakibat kematian dalam damai atau pendarahan hebat,” demikian kenang Mandy. “Saya mungkin akan melihat darah di dalam popoknya atau mungkin keluar darah dari telinganya. Bahkan saya begitu takut membuka popok untuk menggantikannya.
Setiap perawat datang, Chad dan Mandy merasa mereka sudah ada di titik akhir dan para sahabat terus berdoa, sambil memercayai Allah untuk melakukan hal-hal yang mustahil. Saya ingat pada suatu saat saya menimangnya sambil bernyanyi, ‘Open the eyes of my heart, Lord. I want to see You’,” kata Mandy. “Saya tahu bahwa sekiranya saja saya memfokuskan pikiran saya kepada Kristus, maka itulah satu-satunya cara untuk melewati semua ini.”
Pada malam ketika Ethan menghadapi krisis kesehatannya, terjadilah sesuatu. “Larut malam itu Mandy mulai memberi Ethan makan, dan Ethan mulai menyedot botol minumannya sedikit demi sedikit,” tutur Chad. Keesokan harinya, Ethan sedikit lebih kuat... Tetapi apakah ini hanya merupakan pemulihan sebelum kematian?
Mandy berkata, “Saya ingat saya sedang duduk di meja dapur dan berkata, ‘Saya percaya Allah sedang menyembuhkan Ethan. Saya dapat melihat Allah sedang bekerja.’ Kemudian Ethan mulai menjadi semakin baik secara bertahap. Dan selama minggu berikutnya, kami memberi minum susu enam ons setiap tiga jam.” Selama dua minggu berikutnya, Ethan semakin pulih! Dan ketika Mandy membawa Ethan kembali ke RS Vanderbilt untuk memeriksakan darah Ethan, kadar trombositnya sudah mencapai 415,000, yaitu ada dalam batas normal, padahal sebelumnya pernah mencapai titik terendah 39,000.”
Hal ini membingungkan Dr. Rhodes dan para dokter sejawatnya. “Semula Ethan sangat parah sakitnya dan kemudian dengan tiba-tiba ia menjadi semakin sehat. Jadi, kami ingin memeriksa lebih lanjut. Kami melakukan test sumsum tulang, yang menunjukkan tiadanya bekas leukemia. Tumor-tumor itu secara bertahap menghilang dalam hitungan seminggu atau lebih. Hal ini sungguh sesuatu yang luar biasa untuk disaksikan.”
Chad dan Mandy tahu bahwa mereka telah menyaksikan suatu mukjizat ketika mereka melakukan biopsi ulang terhadap sumsum tulang di bulan Juli dengan hasil sama yang memuaskan. Hari ini Ethan Stacy sudah berusia dua tahun, yang suka bermain-main dengan ayah dan kakak perempuannya, Kaylee. Tak diragukan lagi bahwa keluarga Stacy sangat bersyukur kepada Tuhan. “Doa-doa dari para sahabat dan anggota jemaat itu sangat berarti bagi kami,” tutur Chad. Mandy turut mengiakan. “Sungguh mengagumkan punya Allah yang dahsyat seperti itu...Saya tak habis mengerti akan mukjizat demi mukjizat itu. Saya tak sabar melihat apa yang Allah sediakan bagi Ethan selanjutnya karena saya tahu bahwa ada sesuatu yang hebat telah disediakan baginya.”
Menurut penjelasan Dr. Melissa Rhodes, Ethan menderita sakit kanker darah jenis Acute Myeloid Leukemia (AML). Ia bertugas di bagian Onkologi di RS Anak Vanderbilt di Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, dan menjadi salah satu dokter yang merawat Ethan. “Anak-anak yang terlahir dengan penyakit leukemia biasanya tidak akan bertahan hidup lama,” kata Dr. Rhodes. “Pengobatan terbaik yang dapat kami lakukan adalah mengobati Ethan dengan kemoterapi yang berat dan itupun tidak menjamin apakah ia dapat disembuhkan.” Sesungguhnya, kemoterapi itu ibarat racun bagi bayi-bayi yang baru dilahirkan sehingga para dokter memberi pilihan kepada orangtua Ethan untuk menolak kemoterapi bagi anak mereka.
Setelah dua minggu di RS, Chad dan Mandy, orangtua Ethan, mengambil keputusan yang berat untuk membawa bayi mereka pulang ke rumah. “Kemo itu dapat membunuh bayi kita,” kata Chad. “Banyak risikonya.”
“Kami pulang ke rumah dan saya ingat sedang berbaring di ranjang sambil berdoa,” kata Mandy, “Saya katakan, ‘Tuhan, berilah kami jawaban,’ Kami berdua bangun tidur pada keesokan hari dan kami sepakat, ‘Tidak, kami tidak akan membiarkan Ethan dikemo.’” Kebanyakan dokter di RS Vanderbilt mendukung keputusan mereka. “Kami bayangkan jika Ethan memang terkena jenis leukemia yang kami duga, bahkan dengan pengobatan melalui kemoterapi dengan dosis penuhpun mungkin tidak akan menolong Ethan,” kata Dr. Rhodes. “Karena alasan itulah kami menghormati keputusan keluarga itu.”
Setelah beberapa hari di rumah, bayi Ethan mengeluarkan bintik-bintik, yang sangat umum bagi para bayi yang terkena infeksi. Oleh karena itu mereka membawa kembali Ethan ke RS. Itulah saatnya ketika tumor mulai menampakkan diri. “Kami mendapati ada tonjolan di betisnya,” kata Mandy. “Kami memanggil dokter, dan mereka memberitahu bahwa itu mungkin gumpalan darah atau tumpukan sel leukemia, yang disebut ‘chloroma’.” Tumor-tumor lain mulai muncul di bagian tubuh Ethan yang lain, seperti kaki, tangan, dan lengannya.
“Leukemia itu sendiri artinya kanker darah, suatu penyakit darah,” jelas Dr. Rhodes. “Tetapi jenis leukemia AML ini dapat menyebar ke dalam jaringan kulit. Itulah yang kami percaya sedang dialami oleh Ethan. Ia sesungguhnya terkena leukemia di dalam kulitnya, di tangan dan kakinya, selain di dalam liver dan limfanya. Jadi, tubuh Ethan menunjukkan bahwa penyakitnya sudah mencapai stadium lanjut.”
Saat itu Ethan sudah berumur tiga minggu, dan kondisi kesehatannya sangat menurun. Ia tidak mau makan dan mulai mengalami gangguan tidur. “Sang perawat memberitahu saya bahwa Ethan mungkin akan mengalami apa yang disebut ‘sepsis’, yaitu infeksi di seluruh tubuh, yang bisa berakibat kematian dalam damai atau pendarahan hebat,” demikian kenang Mandy. “Saya mungkin akan melihat darah di dalam popoknya atau mungkin keluar darah dari telinganya. Bahkan saya begitu takut membuka popok untuk menggantikannya.
Setiap perawat datang, Chad dan Mandy merasa mereka sudah ada di titik akhir dan para sahabat terus berdoa, sambil memercayai Allah untuk melakukan hal-hal yang mustahil. Saya ingat pada suatu saat saya menimangnya sambil bernyanyi, ‘Open the eyes of my heart, Lord. I want to see You’,” kata Mandy. “Saya tahu bahwa sekiranya saja saya memfokuskan pikiran saya kepada Kristus, maka itulah satu-satunya cara untuk melewati semua ini.”
Pada malam ketika Ethan menghadapi krisis kesehatannya, terjadilah sesuatu. “Larut malam itu Mandy mulai memberi Ethan makan, dan Ethan mulai menyedot botol minumannya sedikit demi sedikit,” tutur Chad. Keesokan harinya, Ethan sedikit lebih kuat... Tetapi apakah ini hanya merupakan pemulihan sebelum kematian?
Mandy berkata, “Saya ingat saya sedang duduk di meja dapur dan berkata, ‘Saya percaya Allah sedang menyembuhkan Ethan. Saya dapat melihat Allah sedang bekerja.’ Kemudian Ethan mulai menjadi semakin baik secara bertahap. Dan selama minggu berikutnya, kami memberi minum susu enam ons setiap tiga jam.” Selama dua minggu berikutnya, Ethan semakin pulih! Dan ketika Mandy membawa Ethan kembali ke RS Vanderbilt untuk memeriksakan darah Ethan, kadar trombositnya sudah mencapai 415,000, yaitu ada dalam batas normal, padahal sebelumnya pernah mencapai titik terendah 39,000.”
Hal ini membingungkan Dr. Rhodes dan para dokter sejawatnya. “Semula Ethan sangat parah sakitnya dan kemudian dengan tiba-tiba ia menjadi semakin sehat. Jadi, kami ingin memeriksa lebih lanjut. Kami melakukan test sumsum tulang, yang menunjukkan tiadanya bekas leukemia. Tumor-tumor itu secara bertahap menghilang dalam hitungan seminggu atau lebih. Hal ini sungguh sesuatu yang luar biasa untuk disaksikan.”
Chad dan Mandy tahu bahwa mereka telah menyaksikan suatu mukjizat ketika mereka melakukan biopsi ulang terhadap sumsum tulang di bulan Juli dengan hasil sama yang memuaskan. Hari ini Ethan Stacy sudah berusia dua tahun, yang suka bermain-main dengan ayah dan kakak perempuannya, Kaylee. Tak diragukan lagi bahwa keluarga Stacy sangat bersyukur kepada Tuhan. “Doa-doa dari para sahabat dan anggota jemaat itu sangat berarti bagi kami,” tutur Chad. Mandy turut mengiakan. “Sungguh mengagumkan punya Allah yang dahsyat seperti itu...Saya tak habis mengerti akan mukjizat demi mukjizat itu. Saya tak sabar melihat apa yang Allah sediakan bagi Ethan selanjutnya karena saya tahu bahwa ada sesuatu yang hebat telah disediakan baginya.”
Rabu, 02 April 2014
Dibebaskan Tuhan Yesus dari "Perjanjian Darah dengan Iblis"
"Saya sudah merasakan pukulan rotan, dan kepala sabuk atau ikat pinggang, bahkan saya juga pernah mengalami dicelupin papa di dalam drum yang diisi air, dan itu sangat-sangat membekas di hati saya. Saya bertanya-tanya "Mengapa papa saya sangat jahat?" Saya berusaha agar bisa cepat menyelesaikan sekolah dengan harapan dapat meneruskan kuliah di tempat lain dan saya bisa bebas."
Akhirnya hari yang dinanti-nantikan oleh Taruna pun tiba, ia melanjutkan kuliah di kota lain. Dan seperti burung yang lepas dari sangkar, Taruna menjadi tidak terkendali menikmati kebebasannya. Ia bahkan bergabung dengan sebuah kelompok gank yang selalu membuat keonaran. Hingga suatu hari, sebuah kelompok gank yang terkenal dengan kebrutalannya mulai mengancam kelompok Taruna.
"Gank tersebut mulai melakukan tindakan-tindakan yang di luar dugaan. Banyak anak-anak yang perantau dipalak, dan yang kedua mereka mulai main benda tajam. Hal itu menyebabkan saya merasa sangat takut sekali. Saya berpikir, saya harus mencari sesuatu yang dapat membuat saya menjadi kuat sehingga saya bisa menjaga diri."
Tindakan brutal dari gank lain tersebut membuat Taruna dan teman-temannya benar-benar mati kutu. Ketakutan bercampur dendam dan amarah kian berkecamuk dalam batin Taruna. Dan demi harga diri dan keselamatan jiwanya, Taruna dan teman-temannya memutuskan pergi ke pedalaman untuk berburu ilmu hitam.
Lalu seluruh tubuh saya dirajah dengan darah ayam, dan saya menuju tempat itu dengan merangkak. Saya tidak pikir panjang saat itu. Karena dalam hati saya, isinya hanya dendam dan ketakutan. Saya menjalani semua ritual yang ada, dan menganggap bahwa semua itu adalah sesuatu yang benar.
Karena saya dengar sejak dari kecil, sepertinya okultisme itu tidak berbahaya. Saat itu seluruh tubuh saya dibacok dengan golok, dan ternyata saya sudah kebal. Jadi setelah saya punya ilmu kebal itu, saya tidak takut sama orang, saya merasa hebat dan itulah yang mengakibatkan saya sambong."
Ilmu hitam telah menyatu dengan raga Taruna, kesombonganpun mulai merajai jiwanya.
"Salah satu kejadian adalah sewaktu saya di clurit. Harusnya sudah pasti sobek di dekat leher saya, tapi hal itu tidak terjadi."
Saat Taruna sudah mulai berumah tangga dan memiliki seorang istri, sesuatu terjadi dalam hidupnya.
"Saya punya niat ingin hidup baik. Dan okultisme yang pernah saya miliki, sudah saya tidak anggap ada lagi. Ritual yang dulu rutin saya lakukan sudah tidak saya jalankan lagi. Saya di bacok mempan, terluka juga. Kena beling, luka juga. Bahkan kena pisau, saya tetap luka. Tetapi akibatnya dan efek yang ditimbulkan dalam hidup saya ternyata besar.
Sewaktu saya mencari ilmu itu, ada perjanjian yang saya buat, saya setuju untuk mengikuti aturan main kuasa kegelapan. Dan itu sebenarnya harga yang harus saya bayar. Tetapi bukan karena ditengah perjalanan saya tidak mau pakai ilmu itu lagi, lantas perjanjian yang dulu saya buat batal begitu saja."
Akibat perjanjiannya dengan kuasa gelap, kehidupan keluarganya mulai diganggu oleh hal-hal yang bersifat supranatural. Dalam mimpi, istrinya melihat ada roh-roh jahat yang mendatangi Taruna. Namun Taruna masih menyimpan rapat-rapat rahasia tentang keterlibatannya dengan kuasa gelap di masa lalu.
Hingga suatu hari, anak pertama Taruna lahir kedunia ini. Namun, hari-hari penuh kebahagiaan itu diisi oleh tangisan sang buah hati yang tidak bisa dibuat tenang.
Dalam sebuah kunjungan ke rumah seorang hamba Tuhan bersama istrinya, Tarunadjaya di tegor hamba Tuhan tersebut.
"Saya kaget begitu hamba Tuhan itu bicara pada saya, ‘Ta, kamu datang tidak sendiri. Saya jawab, ‘Saya sendiri, saya datang bersama istri saya.` Saya masih sombong saat itu. Hamba Tuhan itu berkata dengan tegas, ‘Tidak, saya melihat banyak kepala di belakang kamu.` Ternyata okultisme saya yang dulu, itu masih ada pada saya. Saya tahu apa yang dimaksudkan oleh hamba Tuhan tersebut, tapi saya berpura-pura tidak tahu."
Saat sang istri tahu bahwa Taruna pernah terlibat ilmu hitam, ia pun mengundang seorang teman untuk menolong Taruna agar lepas dari ikatan ilmu hitam tersebut. Namun ketika Taruna bertemu dengan orang tersebut, ia menunjukkan sikap tidak bersahabat.
"sewaktu saya didoakan, saya muntah. Saya merasa ada sesuatu yang lepas. Tapi hal itu tidak membuat sesuatu perubahan yang banyak bagi saya. Meskipun saya merasakan ada kasih, tapi saya tidak tahu kasih apa yang melanda hidup saya ini."
Mengetahui suaminya masih belum lepas sepenuhnya dari ilmu hitam, istri Taruna membawanya ke suatu ibadah. Saat Taruna maju ke depan untuk didoakan, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Tetapi saya merasa ada arus panas yang masuk ditubuh saya. Saya bertanya, ‘ada apa?` ternyata saat saya membuka mata saya lihat seluruh panitia sudah mendoakan saya. Saya tahan dan memejamkan mata, saya pengen tahu seperti apa sih ini. Saya merasa badan saya panas. Dan saya melihat banyak kepala bersayap dibelakang panitia yang saat itu sedang memuji Tuhan. Dan saya muntah darah disitu. Saya berguling-guling dan merasakan sakit di ulu hati.
Saya ingat dulu saya menelan sesuatu berupa botol, dan apakah saat itu dlam alam roh itu keluar atau tidak, tapi yang keluar dari diri saya saat itu adalah darah. Kemudian saya melihat suatu jubah putih, yang berbias sinar keemasan, dan saya melihat sebuah tangan yang terulur dan menyuruh saya naik. Dan saya tahu itu adalah Yesus."
Menyadari hidupnya telah diselamatkan, Taruna pun mulai mengikuti beberapa kali ibadah dan secara berangsur-angsur ia pun dibebaskan dari ilmu hitam secara total. Kini Taruna bisa menapaki kehidupan yang lebih bahagia bersama keluarganya.
"Tuhan yang menyelamatkan hidup saya, sehingga saya bisa sampai saat ini ada, semua itu karena anugrah dan belas kasihan dari Tuhan," demikian Tarunadjaya mengakhiri kesaksiannya.
Kamis, 20 Maret 2014
Dilepaskan Tuhan Dari Bahaya Kebakaran
Mazmur 91:14, "Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku , maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.Saya tergerak untuk menyampaikan sebuah kesaksian yang kami alami beberapa waktu lalu pada tahun 2012 (sayangnya saya kehilangan data tanggal waktu kejadiannya). Sebuah kejadian dimana
“Tuhan menyelamatkan sebuah keluarga dari kebakaran yang mengancam" (selanjutnya disebut Keluarga Heri), dan Tuhan menyampaikan tanda-tanda ancaman itu kepada kami melalui penglihatan pada saat sedang berdoa.
“Tuhan menyelamatkan sebuah keluarga dari kebakaran yang mengancam" (selanjutnya disebut Keluarga Heri), dan Tuhan menyampaikan tanda-tanda ancaman itu kepada kami melalui penglihatan pada saat sedang berdoa.
Melalui penglihatan yang kami peroleh, di saat sedang doa malam bersama dengan isteri (doa sebelum tidur) sekitar jam 12 malam, kami diperlihatkan selembar foto keluarga Heri (Anak-anak beserta Isterinya) dengan begitu jelasnya foto itu terlihat terbakar oleh lidah-lidah api. Setelah kami menyelesaikan doa, kami membicarakan penglihatan itu dengan cemas dan penuh kuatir.
Selanjutnya, segera langsung saya memutuskan menelepon ke rumah kediaman keluarga Heri. Ditengah-tengah mengganggu peristirahatan mereka kami menyampaikan penglihatan dan situasi keadaan itu, saya memohon agar mereka bersedia memeriksa hal-hal yang dapat menyebabkan timbulnya bahaya api, seperti memastikan kondisi regulator gas di dapur dan atau memperhatikan potensi lain yang dapat menimbulkan bencana kebakaran.
Tuhan mengasihi keluarga ini yang telah setia melayani Tuhan di gereja-Nya selama bertahun-tahun ini. Keesokan pagi harinya, saya dikabarkan bahwa malam itu mereka telah menemukan sumber yang diyakini dapat menimbulkan kebakaran yaitu di bagian meteran listrik (Electric Meters) yang berpotensi Short Circuit atau konslet terhadap Miniature Circuit Breaker(MCB) dan sudah melelehkan penutup meteran listrik hingga parah. Kemudian juga telah diperkuat keterangan dari keluarga Heri bahwa selama 4 hari terakhir ini secara akumulasi berturut-turut terjadi listrik anjlok (trip). Pada hari terakhir anjlok sampai mencapai 4-5 kali sehari (listrik padam).
Pagi hari itu juga, langsung didatangkan petugas PLN (Perusahaan Listrik Negara). Yang mengejutkan lagi, petugas itu mengatakan bahwa kalau sedikit waktu ditunda lagi maka akan terjadi kebakaran dan menghanguskan semuanya!!! Bayangkan saja bila api melahap dan menghanguskan rumah dan harta benda milik kita, bahkan sampai merenggut nyawa orang yang kita kasihi...? Marilah kita selalu mengucapkan syukur!!
Puji Tuhan ditempat yang Maha Tinggi. Tuhan mempunyai banyak cara untuk mengupayakan keselamatan dan pemulihan bagai Anda apapun masalahnya. Dia mampu menghindari kita semua dari kecelakaan, mara bahaya, sakit penyakit, memulihkan ekonomi, pekerjaan, pendidikan, pengharapan yang patah, hubungan dengan keluarga, teman dan bahkan dengan Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati.-----------------------------------------------
MAZMUR 91:3-16
91:3 Sungguh,Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakitsampar yang busuk. 91:4 Dengankepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung,kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. 91:5 Engkautak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yangterbang di waktu siang, 91:6 terhadappenyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yangmengamuk di waktu petang.
91:7 Walauseribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itutidak akan menimpamu. 91:8 Engkauhanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadaporang-orang fasik. 91:9 SebabTUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempatperteduhanmu, 91:10malapetaka tidak akan menimpa kamu , dan tulahtidak akan mendekat kepada kemahmu; 91:11 sebabmalaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjagaengkau di segala jalanmu.
91:12 Merekaakan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepadabatu. 91:13 Singadan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ularnaga. 91:14"Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku , maka Aku akanmeluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. 91:15 Bilaia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan,Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. 91:16 Denganpanjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanyakeselamatan dari pada-Ku." Amin!!!
91:7 Walauseribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itutidak akan menimpamu. 91:8 Engkauhanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadaporang-orang fasik. 91:9 SebabTUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempatperteduhanmu, 91:10malapetaka tidak akan menimpa kamu , dan tulahtidak akan mendekat kepada kemahmu; 91:11 sebabmalaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjagaengkau di segala jalanmu.
91:12 Merekaakan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepadabatu. 91:13 Singadan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ularnaga. 91:14"Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku , maka Aku akanmeluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. 91:15 Bilaia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan,Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. 91:16 Denganpanjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanyakeselamatan dari pada-Ku." Amin!!!
Minggu, 02 Maret 2014
Sembuh dari Ginjal Bocor (Sherly Sirait)
Seorang Sherly Sirait waktu itu tinggal di sebuah asrama 4 lantai. Pada suatu hari ia naik kelantai 4 dalam keadaan kelelahan. Seorang teman yang melihatnya mengatakan bahwa kemungkinan besar ia menderita penyakit tertentu. Benar saja, sampai di lantai 4, kedua kaki Sherly berubah menjadi biru.
Malam harinya kaki itu bukan hanya biru namun makin membengkak.
Terpikir oleh situasi itu, esok harinya ia memeriksakan diri ke klinik terdekat. Tapi karena fasilitas klinik yang terbatas, dokter hanya memberikan praduga yang ternyata sama persis dengan dugaan teman Sherly. Keadaan seperti itu biasanya berhubungan dengan ginjal…..Malam harinya kaki itu bukan hanya biru namun makin membengkak.
Sampai di rumah ibu angkatnya tersebut, sang ibu mulai menyadari bahwa sakit Sherly bukanlah sakit biasa lagi. Tubuhnya lemas namun berat badan seperti bertambah. Malam itu, Sherly dibawa lagi ke dokter. Urine dan darah Sherly diambil untuk diperiksa, dan terbuktilah bahwa Sherly menderita sakit ginjal.
Ginjalnya divonis bocor, dan urine telah bercampur dengan virus dan telah sampai di otak Sherly. Itulah yang menyebabkan Sherly sempat kehilangan kesadaran dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Bukan hanya itu, dokter mengatakan bahwa ginjal yang telah terinfeksi itu akan membuat Sherly tidak bisa lagi mempunyai keturunan, dan minimal selama 3 tahun ke depan ia akan tergantung pada obat. Dokter berkata, kalaupun ia sembuh akan ada efek-efek lain yang akan menimpanya.
Sherly sempat kehilangan semangat hidupnya karena semua itu. Ia tidak bereaksi dengan obat apapun yang masuk ke tubuhnya dan ia putus asa, tertekan dan tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan hidup.
Di tengah situasi itu, ada orang-orang yang setia berdoa untuk kesembuhan agar terjadi dalam hidup Sherly. Mereka mengasihinya dan mau berdoa bersama dengan dia. Teman-teman kampusnya juga memberi semangat dan dorongan tak henti-hentinya pada Sherly. Tak tertinggal ibu angkatnya yang berdoa siang malam dengan keyakinan bahwa dia pasti sembuh dan bisa terus hidup. Orang tua kandung Sherly di Medan juga turut berdoa tak terputus.
Dan kuasa doa terbukti jua. Kesembuhan perlahan nyata dalam hidup Sherly. Vonis dokter mengenai penggunaan obat pagi siang malam selama 3 tahun sama sekali tidak terbukti. Hanya dalam kurun waktu satu setengah bulan saja ia meminum obat-obatan dokter dan iapun sembuh.
Disitulah Sherly melihat bahwa Yesus benar-benar telah menyembuhkan dia. Proses kesembuhan itu terjadi ketika dalam doanya ia percaya dan berkata bahwa ia pasti bisa sembuh. Imannya pada Yesus membangkitkan kembali semangat hidup dan kepastian bahwa kehidupan itu pasti menjadi miliknya.
Terakhir dia pergi ke dokter untuk diperiksa, penyakitnya terbukti hilang dan ia sembuh! Analisa semua membuktikan bahwa dirinya nihil penyakit. Sherly tahu bahwa kesembuhan ini mujizat dan merupakan kesempatan dari Tuhan baginya untuk hidup lagi kedua kalinya. Tuhan itu sangat baik!
Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka. Amsal 4: 20-22
Mukjizat itu Nyata (Diana Panjaitan)
Kesaksian Rohani - Berawal dari rasa kesemutan biasa pada jari tangannya, Diana tidak menyadari bahwa itu adalah awal dari kehancuran hidupnya.
Suatu pagi ketika Diana hendak bangun tidur, Diana merasakan sesak di dadanya. Ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya dan ia sama sekali tidak dapat berjalan. Dengan rasa cemas, orang tua Diana membawanya ke rumah sakit. Setelah mendapat perawatan oleh dokter dari rumah sakit tersebut, Diana diperbolehkan kembali ke rumah.
Diana kembali ke rumah dengan kondisi yang sudah jauh berbeda. Diana tidak lagi seperti dulu yang selalu ceria. Beberapa hari di rumah, kembali Diana mengalami gejala yang sama dan untuk kedua kalinya ia dilarikan kembali ke rumah sakit. Namun kali ini tubuh Diana sudah lumpuh total.
Hanya dalam waktu satu bulan, hidup Diana seperti berada di ujung tanduk. Dokter menemukan virus ganas yang mematikan bersarang di tubuhnya. Menurut Dr. Freddy Sitorus, dokter yang menangani Diana, kalau hal ini tidak cepat diatasi maka virus itu bisa menyerang syaraf pernafasan dan bila hal itu sampai terjadi maka akan berakibat fatal bagi nyawa Diana.
"Syaraf utama dalam tubuh saya sudah terkena virus dan semuanya sudah mati rasa...," ujar Diana sambil menangis saat membagikan kisah hidupnya kepada tim Solusi.
Seperti disayat, kenyataan pahit itu juga dirasakan oleh kedua orang tua Diana.
"Dunia seperti runtuh rasanya. Saya hanya berdoa kepada Tuhan agar anak saya disembuhkan," ujar Merry Sitorus, ibunda Diana.
Namun bayang-bayang kematian semakin dekat mengejar Diana. Hidupnya hanya bergantung pada suntikan demi suntikan.
"Saya tidak siap untuk meninggal saat itu. Saya tidak bisa bernafas, dan saya baru menyadari bahwa ternyata nafas itu mahal," ujar Diana sambil menahan sakit.
Diana juga sempat marah dan kecewa dengan Tuhan. Diana merasa bahwa segala usaha dan harapannya yang telah ia gantungkan sepenuhnya kepada Tuhan sepertinya sia-sia. Di saat Diana mengalami kekecewaan yang berkepanjangang, Dr. Freddy Sitorus menyarankan Diana untuk mengikuti sebuah kebaktian kebangunan rohani di Ancol yang dibawakan oleh Rev. Benny Hinn. Menurutnya kalau manusia tidak dapat menyembuhkan, maka Tuhan pasti bisa meyembuhkan.
Iman Diana yakin bahwa hidupnya masih ada harapan. Namun di tengah lautan manusia dan matahari yang membakar Ancol, tiba-tiba saja Diana kehabisan oksigen. Ketika tim doa dari Benny Hinn mendatangi Diana dan berdoa baginya, tanpa disadari lawatan Tuhan terjadi pada hidup Diana.
"Hati saya seperti plong dan ada hawa hangat di pinggang saya," ujar Diana.
Ketika mereka menyuruh Diana berdiri, maka dengan perlahan Diana mulai bangkit dan dapat berdiri. Diana naik ke atas panggung dan disambut oleh Benny Hinn. Kemudian dengan rasa sukacita yang luar biasa, Diana mulai bisa menggerakkan seluruh tubuhnya tanpa ada rasa sakit.
"Saya tidak pernah menangis. Tetapi saat itu, tangis saya tumpah dan saya kagum atas keajaiban dan kedahsyatan Tuhan terhadap anak saya. Sungguh hebat Kau Tuhan," ujar M.Panjaitan, Ayah Diana, menutup kesaksian ini.
Nafas itu memang mahal, dan yang membuat nafas itu adalah sebuah Pribadi yang sungguh luar biasa. Jadi, hargailah Tuhan.
(Kisah ini ditayangkan 7 Mei 2009 dalam acara Solusi Life di O'channel)
Senin, 20 Januari 2014
Pengampunan di Tengah Pengkhianatan Tiada Akhir
Bagaimana rasanya seorang wanita yang tengah hamil tua ditinggal pergi karena sang suami sudah kepincut dengan wanita lain? Dan yang lebih parah lagi, Masta akhirnya harus menghidupi delapan orang anaknya sendirian.
Hanya dalam satu kali pertemuan, Masta sudah terpikat dengan janji manis seorang pria. Tanpa pikir panjang, ia pun mengiyakan sebuah ajakan untuk kawin lari. Bagi orangtua Masta sendiri, kekecewaan menyelimuti hati mereka. Apalagi sebagai orangtua, mereka sama sekali tidak hadir dan dimintai restu terlebih dahulu. Mereka pun hanya dapat menangis menerima kenyataan ini.
Seperti membeli kucing dalam karung, Masta tak pernah menyangka sikap manis sang suami ternyata palsu. Setelah dua tahun bersama, sifat asli sang suami mulai terlihat. Masta selalu merasa curiga terhadap tingkah laku suaminya karena setiap malam ia tidak pernah pulang ke rumah. Dari adik ipar suaminyalah Masta mengetahui kalau suaminya memiliki rencana untuk menikah lagi. Masta sangat terpukul mendengar kabar itu. Apalagi kondisi Masta sendiri sedang hamil tua saat itu.
Rasa penasaran tiba-tiba membakar hati Masta. Pagi-pagi saat suaminya pulang, Masta diam-diam berniat datang ke rumah wanita yang hendak merebut suaminya. Tanpa diketahui Masta, suaminya ternyata mengikuti dirinya dari belakang. Namun setibanya di sana, wanita selingkuhan suaminya tidak ada di sana.
Merasa dipermalukan, suami Masta langsung menyeret Masta pulang. Tidak hanya sampai di situ, pukulan dan tamparan pun diterima Masta yang sedang hamil besar. Bahkan suaminya dengan tegas bermaksud menceraikan Masta saat itu juga. Hati Masta sangat pedih namun ia hanya dapat menangis.
Campur tangan orangtua Masta mampu menyelesaikan permasalahan mereka untuk sementara waktu. Niat untuk menceraikan Masta pun urung dilakukan. Permintaan orangtua Masta yang menentang perceraian mampu meredam nafsu sang suami.
Kelahiran anak pertama mereka seakan menghapus segalanya. Keadaan itu bertahan sampai Masta dikaruniai lima orang anak.
Sampai sebuah kabar dari Jakarta membuat Masta mengambil sebuah keputusan penting. Ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Mendengar kabar itu, anak-anak Masta menyambut dengan gembira. Padahal sebenarnya kabar buruklah yang Masta terima.
Masta menerima surat dari adik mertuanya yang tinggal di Jakarta dan mengatakan kalau suaminya ternyata suka main perempuan juga di sana. Kepindahan Masta dan anak-anaknya ke Jakarta menyusul suaminya tidak memperbaiki keadaan sama sekali.
Seringkali Masta harus menerima perkataan-perkataan sinis yang penuh sindiran kepada dirinya. Suaminya sepertinya tidak menghargai keberadaan Masta dan anak-anaknya di sana. Sebagai seorang istri, Masta merasa menjadi istri yang tidak berharga bagi suaminya.
Untuk menambah penghasilan suaminya, Masta pun menjalankan usaha simpan pinjam. Dan dalam waktu satu setengah tahun, mereka sudah dapat memiliki rumah sendiri. Namun rumah itu tak bisa membawa kebahagiaan bagi Masta. Atas saran seorang saudara, rumah itu dijual untuk modal usaha.
Hingga sesuatu yang buruk pun terjadi. Salah satu anak mereka mengalami sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Semuanya terjadi begitu cepat. Sepeninggal anak mereka, suami Masta pun semakin frustrasi. Tidak hanya ditinggal mati salah seorang anak mereka, pekerjaan pun ia tidak punya sedangkan hasil penjualan rumah yang dijadikan modal usaha pun tidak menghasilkan apa-apa. Semuanya terbuang sia-sia.
Kejadian itu sangat berdampak kepada sifat suami Masta. Terkadang ia sangat memanjakan anak-anaknya, namun tak jarang ia menjadi sangat kasar. Saat sedang marah, apapun yang ada di tangannya akan dipakai untuk memukul anak-anaknya. Masta benar-benar tidak berani membela anak-anaknya saat suaminya sedang marah.
Namun saat suaminya sudah selesai memukul anak-anaknya, barulah Masta berani menasehati suaminya. “Terlalu keras kamu bapak sama anak-anak kita. Nanti mereka bawa akar pahit dari kamu,” ujar Masta pada suaminya.
Entah apa yang dipikirkan suaminya. Saat Masta melahirkan anak kedelapan, suaminya tega meninggalkan Masta dan anak-anaknya tanpa kabar. Masta hanya dapat berlutut kepada Tuhan karena Masta melihat ketujuh anaknya dan seorang bayi yang baru lahir, ia tak tahu bagaimana caranya harus bertahan menghidupi kedelapan anaknya seorang diri tanpa pekerjaan yang tetap.
Belum lagi anaknya yang baru lahir, bagaimana mungkin Masta tega meninggalkannya untuk mencari nafkah? Masta datang kepada Tuhan dan menyerahkan hidupnya dan kedelapan anaknya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.
Tepat di saat keputusasaannya, seseorang datang menolong Masta. Hamba Tuhan ini menasehati Masta supaya semakin dekat kepada Tuhan dan Masta diarahkan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Setelah menerima Yesus, Masta terus dibimbing di gereja dan Masta semakin dapat melihat kuasa Tuhan yang luar biasa. Hamba Tuhan ini juga mengajarkan Masta untuk berani melakukan apapun demi menghidupi anak-anaknya.
Demi menghidupi anak-anaknya, harga diri dan peluh tak lagi Masta perdulikan. Namun Masta tak pernah menyangka apa yang akan dialami anak pertamanya, James, saat berniat mencari ayahnya yang tak pernah pulang ke Sumatera. Suatu peristiwa pahit telah menantinya. James melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya sedang bermesraan dengan wanita lain.
Tak cukup sampai di situ, James harus mendapati kenyataan kalau sebenarnya ayahnya adalah seorang germo. Ia tidak hanya mencari wanita-wanita cantik untuk ditawarkan kepada para lelaki hidung belang, namun ia juga berzinah dengan para wanita itu.
Hal yang lebih menyakitkan lagi harus James terima saat ia mengajak ayahnya pulang.
Dengan kasar ayahnya mengusir James untuk pergi, bahkan menyuruh James tidak lagi memanggilnya ayah, melainkan om. Di hadapan James dan para wanita itu, dengan lantang ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki istri dan juga anak. Sebelum James pulang, ayahnya sempat mengancamnya untuk tidak mengatakan hal ini kepada ibunya atau James akan ia bunuh!!
Takut akan ancaman ayahnya dan juga takut akan kemungkinan ibunya yang akan bunuh diri jika mengetahui keadaan ini, James pun menulis surat kepada ibunya dan mengatakan kalau ia tidak dapat menemukan ayahnya. Namun Masta tidak percaya, bahkan ia semakin penasaran. Kalau memang suaminya sudah meninggal, paling tidak ia harus tahu dimana suaminya telah meninggal. Masta pun memutuskan untuk pergi sendiri mencari suaminya. Masta pun pulang ke Siantar.
Namun di sana, Masta hanya bertemu dengan adik suaminya. Karena tidak percaya, sesaat setelah meninggalkan rumah itu, Masta pun kembali ke rumah adik iparnya. Dan benar, suaminya ternyata sudah berada di sana. Saat itulah suaminya mengaku kalau di Siantar ada teman wanitanya yang begitu baik kepadanya dan memberikan modal untuk membuka bar di sana.
Namun ia tidak menggambarkan wanita itu lebih jauh, hanya menyebutnya sebagai pelayan, pelayan yang dapat memodali dirinya membuka bar di Siantar. Padahal dirinya adalah germo dari wanita itu. Suaminya pun berjanji akan mengikuti Masta kembali ke rumah.
Namun janji hanyalah tinggal janji. Baru beberapa bulan saja, suami Masta kembali pergi. Untuk kesekian kalinya, hati Masta terluka. Namun di tengah kekecewaan dan kesedihannya, Masta tak berhenti berdoa untuk suami dan anak-anaknya.
Di lain tempat, suami Masta yang berniat hendak menjual bar miliknya mengalami penipuan dan hidup layaknya seorang gelandangan. Sampai keputusasaan mengingatkannya akan keluarganya.
Penyesalan pun mulai menyelimuti hatinya saat ia mengingat segala perbuatan yang dilakukannya terhadap Masta, istrinya dan juga anak-anaknya. Dalam keadaan sakit, ia pun memutuskan untuk pulang, kembali kepada keluarganya.
Saat itu Masta sedang tidak berada di rumah. Ia sedang pergi bersama James, anaknya. Setibanya di rumah, Masta dan James tentu saja sangat terkejut melihat kehadiran orang yang selama ini telah menyia-nyiakan hidup mereka. Masta hanya bisa bengong di luar rumah, tidak berani melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Namun James, anaknya, serta merta berteriak kegirangan dan langsung memeluk ayahnya. Hati Masta pun dipenuhi kegalauan.
Satu sisi, hatinya luluh melihat sikap anaknya yang begitu bahagia dapat melihat ayahnya kembali. Namun di sisi lain, Masta merasa tak sanggup menghadapi suaminya mengingat penghinaan yang telah diterimanya selama ini. Masta pun berseru kepada Tuhan agar pengampunan-Nya bisa mengalir dan ia bisa mengampuni suaminya sekali lagi.
Apapun yang dikatakan Masta saat itu kepada suaminya ditanggapi dengan kemauan yang serius dari sang suami. Awal pemulihan pun terjadi saat itu di keluarga mereka.
“Tuhan begitu luar biasa. Apapun yang terjadi, Dia selalu melihat kita sebagai anak-anak kesayangan-Nya,” ujar Masta di sela-sela kesaksiannya.
Namun setelah beberapa tahun berlalu, sebuah rahasia akan terkuak lewat pengakuan sang suami. Dalam keadaan sakit parah setelah serangan jantung yang hebat, James mencoba mengajak ayahnya berbicara dari hati ke hati. Ia meminta ayahnya untuk mengakui dosa yang selama ini belum pernah mereka ketahui karena James sendiri merasa kalau ayahnya masih menyimpan rahasia di antara mereka.
Saat itulah, ayahnya mengakui kalau Monaris, keponakan Masta, adalah anak dari hasil hubungannya dengan adik kandung Masta. Bagaikan tertimpa langit, seketika itu juga Masta jatuh pingsan. Ia benar-benar tak menyangka suaminya sanggup melakukan hal itu kepada dirinya. Adik kandungnya sendiripun sanggup mengkhianati dirinya. Apalagi suaminya telah menyimpan rahasia ini selama puluhan tahun karena saat pengakuan itu terjadi, Monaris telah berusia 19 tahun.
“Tuhan, ampuni suami saya Tuhan. Karena saat itu saya sudah mengenal Tuhan, saya hanya bisa berkata ampuni suamiku Tuhan. Sudah berumur 19 tahun anak ini, baru suami saya membuka rahasia aib ini kepada saya. Saat itu saya pingsan. Saya tidak dapat menerima kenyataan ini lagi. Tapi saya mengambil keputusan untuk mengampuni suami saya dan menerima Monaris sebagai anak saya sendiri. Walaupun kenyataan ini sangat pahit, tapi pasti Tuhan akan membuatnya menjadi sukacita buat saya,” kisah Masta dengan penuh keharuan.
Pengampunan dan kesabaran Masta perlahan-lahan mengubahkan sikap sang suami. Dengan cinta dan kesabaran, Masta terus merawat suaminya yang saat itu mulai sakit-sakitan. Setelah mengalami sakit yang berkepanjangan, 1 November 2002 suami Masta pun dipangil Tuhan untuk selamanya. Beberapa tahun kemudian, Masta kembali menemui adiknya. Saat itu juga hubungan antara Masta dan adiknya dipulihkan.
Kasih Yesus telah memulihkan hati Masta dan adiknya. Hingga kini, Masta dan anak-anaknya tak lagi hidup dalam kekecewaan.
“Saya bangga sekali memiliki mama seperti mama saya. Dia selalu berdoa sama Tuhan, agar keluarganya bisa selalu bersama dan berbahagia sekalipun mama selama hidupnya selalu menderita.
Kalau saya pribadi sih sebenarnya hanya mengharapkan agar keluarga saya rukun-rukun saja. Tetap sayang sama mama walaupun Tuhan hanya memberikan seorang mama di sisi kami,” ujar Delima Sondang Samosir, salah seorang anak perempuan Masta.
“Saya sangat mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena anak-anak saya tidak membawa akar pahit dari kelakuan ayahnya. Saya mendapat pertolongan hanya dari Tuhan Yesus sendiri. Tidak ada unsur yang lain, hanya Tuhan Yesus sendiri yang menolong kami sekeluarga. Tuhan itu sangat baik bagi keluarga kami,” ujar Masta menutup kesaksiannya.
Hanya dalam satu kali pertemuan, Masta sudah terpikat dengan janji manis seorang pria. Tanpa pikir panjang, ia pun mengiyakan sebuah ajakan untuk kawin lari. Bagi orangtua Masta sendiri, kekecewaan menyelimuti hati mereka. Apalagi sebagai orangtua, mereka sama sekali tidak hadir dan dimintai restu terlebih dahulu. Mereka pun hanya dapat menangis menerima kenyataan ini.
Seperti membeli kucing dalam karung, Masta tak pernah menyangka sikap manis sang suami ternyata palsu. Setelah dua tahun bersama, sifat asli sang suami mulai terlihat. Masta selalu merasa curiga terhadap tingkah laku suaminya karena setiap malam ia tidak pernah pulang ke rumah. Dari adik ipar suaminyalah Masta mengetahui kalau suaminya memiliki rencana untuk menikah lagi. Masta sangat terpukul mendengar kabar itu. Apalagi kondisi Masta sendiri sedang hamil tua saat itu.
Rasa penasaran tiba-tiba membakar hati Masta. Pagi-pagi saat suaminya pulang, Masta diam-diam berniat datang ke rumah wanita yang hendak merebut suaminya. Tanpa diketahui Masta, suaminya ternyata mengikuti dirinya dari belakang. Namun setibanya di sana, wanita selingkuhan suaminya tidak ada di sana.
Merasa dipermalukan, suami Masta langsung menyeret Masta pulang. Tidak hanya sampai di situ, pukulan dan tamparan pun diterima Masta yang sedang hamil besar. Bahkan suaminya dengan tegas bermaksud menceraikan Masta saat itu juga. Hati Masta sangat pedih namun ia hanya dapat menangis.
Campur tangan orangtua Masta mampu menyelesaikan permasalahan mereka untuk sementara waktu. Niat untuk menceraikan Masta pun urung dilakukan. Permintaan orangtua Masta yang menentang perceraian mampu meredam nafsu sang suami.
Kelahiran anak pertama mereka seakan menghapus segalanya. Keadaan itu bertahan sampai Masta dikaruniai lima orang anak.
Sampai sebuah kabar dari Jakarta membuat Masta mengambil sebuah keputusan penting. Ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Mendengar kabar itu, anak-anak Masta menyambut dengan gembira. Padahal sebenarnya kabar buruklah yang Masta terima.
Masta menerima surat dari adik mertuanya yang tinggal di Jakarta dan mengatakan kalau suaminya ternyata suka main perempuan juga di sana. Kepindahan Masta dan anak-anaknya ke Jakarta menyusul suaminya tidak memperbaiki keadaan sama sekali.
Seringkali Masta harus menerima perkataan-perkataan sinis yang penuh sindiran kepada dirinya. Suaminya sepertinya tidak menghargai keberadaan Masta dan anak-anaknya di sana. Sebagai seorang istri, Masta merasa menjadi istri yang tidak berharga bagi suaminya.
Untuk menambah penghasilan suaminya, Masta pun menjalankan usaha simpan pinjam. Dan dalam waktu satu setengah tahun, mereka sudah dapat memiliki rumah sendiri. Namun rumah itu tak bisa membawa kebahagiaan bagi Masta. Atas saran seorang saudara, rumah itu dijual untuk modal usaha.
Hingga sesuatu yang buruk pun terjadi. Salah satu anak mereka mengalami sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Semuanya terjadi begitu cepat. Sepeninggal anak mereka, suami Masta pun semakin frustrasi. Tidak hanya ditinggal mati salah seorang anak mereka, pekerjaan pun ia tidak punya sedangkan hasil penjualan rumah yang dijadikan modal usaha pun tidak menghasilkan apa-apa. Semuanya terbuang sia-sia.
Kejadian itu sangat berdampak kepada sifat suami Masta. Terkadang ia sangat memanjakan anak-anaknya, namun tak jarang ia menjadi sangat kasar. Saat sedang marah, apapun yang ada di tangannya akan dipakai untuk memukul anak-anaknya. Masta benar-benar tidak berani membela anak-anaknya saat suaminya sedang marah.
Namun saat suaminya sudah selesai memukul anak-anaknya, barulah Masta berani menasehati suaminya. “Terlalu keras kamu bapak sama anak-anak kita. Nanti mereka bawa akar pahit dari kamu,” ujar Masta pada suaminya.
Entah apa yang dipikirkan suaminya. Saat Masta melahirkan anak kedelapan, suaminya tega meninggalkan Masta dan anak-anaknya tanpa kabar. Masta hanya dapat berlutut kepada Tuhan karena Masta melihat ketujuh anaknya dan seorang bayi yang baru lahir, ia tak tahu bagaimana caranya harus bertahan menghidupi kedelapan anaknya seorang diri tanpa pekerjaan yang tetap.
Belum lagi anaknya yang baru lahir, bagaimana mungkin Masta tega meninggalkannya untuk mencari nafkah? Masta datang kepada Tuhan dan menyerahkan hidupnya dan kedelapan anaknya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.
Tepat di saat keputusasaannya, seseorang datang menolong Masta. Hamba Tuhan ini menasehati Masta supaya semakin dekat kepada Tuhan dan Masta diarahkan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Setelah menerima Yesus, Masta terus dibimbing di gereja dan Masta semakin dapat melihat kuasa Tuhan yang luar biasa. Hamba Tuhan ini juga mengajarkan Masta untuk berani melakukan apapun demi menghidupi anak-anaknya.
Demi menghidupi anak-anaknya, harga diri dan peluh tak lagi Masta perdulikan. Namun Masta tak pernah menyangka apa yang akan dialami anak pertamanya, James, saat berniat mencari ayahnya yang tak pernah pulang ke Sumatera. Suatu peristiwa pahit telah menantinya. James melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya sedang bermesraan dengan wanita lain.
Tak cukup sampai di situ, James harus mendapati kenyataan kalau sebenarnya ayahnya adalah seorang germo. Ia tidak hanya mencari wanita-wanita cantik untuk ditawarkan kepada para lelaki hidung belang, namun ia juga berzinah dengan para wanita itu.
Hal yang lebih menyakitkan lagi harus James terima saat ia mengajak ayahnya pulang.
Dengan kasar ayahnya mengusir James untuk pergi, bahkan menyuruh James tidak lagi memanggilnya ayah, melainkan om. Di hadapan James dan para wanita itu, dengan lantang ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki istri dan juga anak. Sebelum James pulang, ayahnya sempat mengancamnya untuk tidak mengatakan hal ini kepada ibunya atau James akan ia bunuh!!
Takut akan ancaman ayahnya dan juga takut akan kemungkinan ibunya yang akan bunuh diri jika mengetahui keadaan ini, James pun menulis surat kepada ibunya dan mengatakan kalau ia tidak dapat menemukan ayahnya. Namun Masta tidak percaya, bahkan ia semakin penasaran. Kalau memang suaminya sudah meninggal, paling tidak ia harus tahu dimana suaminya telah meninggal. Masta pun memutuskan untuk pergi sendiri mencari suaminya. Masta pun pulang ke Siantar.
Namun di sana, Masta hanya bertemu dengan adik suaminya. Karena tidak percaya, sesaat setelah meninggalkan rumah itu, Masta pun kembali ke rumah adik iparnya. Dan benar, suaminya ternyata sudah berada di sana. Saat itulah suaminya mengaku kalau di Siantar ada teman wanitanya yang begitu baik kepadanya dan memberikan modal untuk membuka bar di sana.
Namun ia tidak menggambarkan wanita itu lebih jauh, hanya menyebutnya sebagai pelayan, pelayan yang dapat memodali dirinya membuka bar di Siantar. Padahal dirinya adalah germo dari wanita itu. Suaminya pun berjanji akan mengikuti Masta kembali ke rumah.
Namun janji hanyalah tinggal janji. Baru beberapa bulan saja, suami Masta kembali pergi. Untuk kesekian kalinya, hati Masta terluka. Namun di tengah kekecewaan dan kesedihannya, Masta tak berhenti berdoa untuk suami dan anak-anaknya.
Di lain tempat, suami Masta yang berniat hendak menjual bar miliknya mengalami penipuan dan hidup layaknya seorang gelandangan. Sampai keputusasaan mengingatkannya akan keluarganya.
Penyesalan pun mulai menyelimuti hatinya saat ia mengingat segala perbuatan yang dilakukannya terhadap Masta, istrinya dan juga anak-anaknya. Dalam keadaan sakit, ia pun memutuskan untuk pulang, kembali kepada keluarganya.
Saat itu Masta sedang tidak berada di rumah. Ia sedang pergi bersama James, anaknya. Setibanya di rumah, Masta dan James tentu saja sangat terkejut melihat kehadiran orang yang selama ini telah menyia-nyiakan hidup mereka. Masta hanya bisa bengong di luar rumah, tidak berani melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Namun James, anaknya, serta merta berteriak kegirangan dan langsung memeluk ayahnya. Hati Masta pun dipenuhi kegalauan.
Satu sisi, hatinya luluh melihat sikap anaknya yang begitu bahagia dapat melihat ayahnya kembali. Namun di sisi lain, Masta merasa tak sanggup menghadapi suaminya mengingat penghinaan yang telah diterimanya selama ini. Masta pun berseru kepada Tuhan agar pengampunan-Nya bisa mengalir dan ia bisa mengampuni suaminya sekali lagi.
Apapun yang dikatakan Masta saat itu kepada suaminya ditanggapi dengan kemauan yang serius dari sang suami. Awal pemulihan pun terjadi saat itu di keluarga mereka.
“Tuhan begitu luar biasa. Apapun yang terjadi, Dia selalu melihat kita sebagai anak-anak kesayangan-Nya,” ujar Masta di sela-sela kesaksiannya.
Namun setelah beberapa tahun berlalu, sebuah rahasia akan terkuak lewat pengakuan sang suami. Dalam keadaan sakit parah setelah serangan jantung yang hebat, James mencoba mengajak ayahnya berbicara dari hati ke hati. Ia meminta ayahnya untuk mengakui dosa yang selama ini belum pernah mereka ketahui karena James sendiri merasa kalau ayahnya masih menyimpan rahasia di antara mereka.
Saat itulah, ayahnya mengakui kalau Monaris, keponakan Masta, adalah anak dari hasil hubungannya dengan adik kandung Masta. Bagaikan tertimpa langit, seketika itu juga Masta jatuh pingsan. Ia benar-benar tak menyangka suaminya sanggup melakukan hal itu kepada dirinya. Adik kandungnya sendiripun sanggup mengkhianati dirinya. Apalagi suaminya telah menyimpan rahasia ini selama puluhan tahun karena saat pengakuan itu terjadi, Monaris telah berusia 19 tahun.
“Tuhan, ampuni suami saya Tuhan. Karena saat itu saya sudah mengenal Tuhan, saya hanya bisa berkata ampuni suamiku Tuhan. Sudah berumur 19 tahun anak ini, baru suami saya membuka rahasia aib ini kepada saya. Saat itu saya pingsan. Saya tidak dapat menerima kenyataan ini lagi. Tapi saya mengambil keputusan untuk mengampuni suami saya dan menerima Monaris sebagai anak saya sendiri. Walaupun kenyataan ini sangat pahit, tapi pasti Tuhan akan membuatnya menjadi sukacita buat saya,” kisah Masta dengan penuh keharuan.
Pengampunan dan kesabaran Masta perlahan-lahan mengubahkan sikap sang suami. Dengan cinta dan kesabaran, Masta terus merawat suaminya yang saat itu mulai sakit-sakitan. Setelah mengalami sakit yang berkepanjangan, 1 November 2002 suami Masta pun dipangil Tuhan untuk selamanya. Beberapa tahun kemudian, Masta kembali menemui adiknya. Saat itu juga hubungan antara Masta dan adiknya dipulihkan.
Kasih Yesus telah memulihkan hati Masta dan adiknya. Hingga kini, Masta dan anak-anaknya tak lagi hidup dalam kekecewaan.
“Saya bangga sekali memiliki mama seperti mama saya. Dia selalu berdoa sama Tuhan, agar keluarganya bisa selalu bersama dan berbahagia sekalipun mama selama hidupnya selalu menderita.
Kalau saya pribadi sih sebenarnya hanya mengharapkan agar keluarga saya rukun-rukun saja. Tetap sayang sama mama walaupun Tuhan hanya memberikan seorang mama di sisi kami,” ujar Delima Sondang Samosir, salah seorang anak perempuan Masta.
“Saya sangat mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena anak-anak saya tidak membawa akar pahit dari kelakuan ayahnya. Saya mendapat pertolongan hanya dari Tuhan Yesus sendiri. Tidak ada unsur yang lain, hanya Tuhan Yesus sendiri yang menolong kami sekeluarga. Tuhan itu sangat baik bagi keluarga kami,” ujar Masta menutup kesaksiannya.
Kamis, 11 April 2013
Wanita Muslim Menemukan Jalan Keselamatan

Assalamualaikum.
Nama saya Siti Zainab. Saya seorang wanita Melayu Muslim dari rantau Asia Tenggara. Saya dilahirkan dalam keluarga Muslim yang cukup tradisional dan kuat berpegangan pada agama Islam. Sejak semula saya telah di-didik dengan keagamaan Islam yang mendalam lagi mantap.
Pada tingkat sekolah dasar, saya juga di-didik di sekolah madrasah dan bermuqaddam, mengaji dan telah belajar tentang rukun-rukun Islam serta al-Quran dengan ustazah-ustazah dan guru-guru agama Islam yang lain. Disana saya diajar untuk patuh kepada Allah s.w.t. serta tunduk kepada Dia dan meneladani Nabi Muhammad dan sunnahnya sebagaimana yang terdapat di dalam Hadis. Saya mengaji dengan sempurna dan kedua ibu-bapa saya sangat puas hati dengan pembentukan keislaman saya. Pendek kata, saya telah mengalami pertumbuhan yang cukup mantap sebagai seorang muslimah Islam.
Saya tidak pernah tinggalkan ibadat solat lima kali sehari saya, dan saya juga berpuasa secukup cukupnya setiap bulan Ramadhan. Saya juga menegakkan rukun-rukun Islam itu tanpa diminta atau disuruh oleh siapapun, terutamanya orang-orang tua saya. Pendek kata, pengalaman saya sebagai seorang Muslimah yang saleh tidak pernah dipertikaikan oleh sesiapapun.
Walaupun saya telah mengerjakan rukun-rukun Islam saya dengan rajin, tekun dan taat-setia. Setelah bertahun-tahun menunaikan kewajiban Islam saya tidak pernah mempersoalkan pentingnya atau keistimewaan ibadat Islam saya itu. Tetapi, lama kelamaan, kegiatan-kegiatan tersebut hanya menjadi ritual dan keharusan yang semakin kehilangan makna dan kekhusyukannya bagi saya. Apakah semua ini merupakan rutinitas sebagai tanda hubungan seorang hamba dengan Tuannya saja? Dilakukan yang hanya untuk mendapatkan pahala semata-mata!
Saya bertanya demikian di dalam hati saya sendiri, dan tidak mengemukakannya secara terbuka karena tidak ingin menyinggung perasaan sahabat-sahabat Islam saya dan saya juga ingat telah dilarang dengan keras oleh guru-guru agama saya sewaktu saya menanyakan permasalahan serta kesulitan saya seperti itu kepada mereka.
Tetapi, masalah itu masih tetap berada di dalam jiwa dan fikiran saya, lebih-lebih lagi ketika usia saya bertambah, terutamanya ketika saya belajar di Sekolah Tinggi! Saat saya semakin matang dalam kedewasaan, saya dapati bahwa ibadat-ibadat Islam itu menjadi semakin cetek, dangkal dan kosong saja dalam arti kata hassanah dan anugerah Tuhan yang sebenarnya. Saya mencoba memfokuskan perhatian saya kepada yang indah dan murni setiap kali usai mengerjakan ibadah itu, tetapi tidak dapat menghilangkan kesadaran akan kedangkalan dan kekosongan didalam menjalankan semua ibadat Islam itu! Inikah cara yang terbaik bagi Manusia menjalinkan hubungannya dengan Tuhan ?
Setelah menyelesaikan Sekolah Tinggi, saya berhasil masuk Institusi Pengajian Tinggi (IPT) dalam jurusan pilihan saya. Di situ saya telah memperbanyak bahan pembacaan saya, karena masih mencari jawaban akan kekosongan seperti yang saya sebutkan di atas. Saya mulai tertarik pada sebuah buku yang berjudul “Appointment in Jerusalem“ atau diterjemahkan “Pertemuan di Yerusalem”. Buku ini hasil karya seorang wanita bangsa Danish. Buku ini menceritakan tentang pencarian wanita ini untuk makna dan kepuasan rohani dalam keagamaannya. Saya tertarik dengan isinya, karena sangat mirip dengan pergumulan rohani saya sendiri!
Saya agak terkejut ketika mendapati bahwa wanita Danish ini memperoleh keinsafan dan kesedaran rohaninya melalui hubungan secara langsung dengan Tuhan. Yaitu manusia boleh berhubungan dengan Tuhan bukan hanya melalui peraturan-peraturan keharusan ibadah mereka, tetapi manusia sudah boleh mengalami satu hubungan peribadi dan secara langsung dengan Pencipta, ‘mereka sebagai anak-anak dengan Tuhan sebagai Bapa mereka!‘ Hubungan ini adalah suatu hubungan peribadi serta dinamik, yaitu manusia sekarang boleh mengenali Tuhan secara peribadi dalam pengertian Ayahanda dan anakanda.
Mungkin pertalian rohaniah inilah yang saya cari-cari selama ini? Di dalam Kelas IPT saya ada beberapa orang Kristen yang peramah lagi budiman. Tetapi saya tidak terlalu bergaul dekat dengan mereka dan hanya memperhatikan mereka dari jarak jauh. Saya ingin perhatikan jika iman mereka mirip dengan pengalaman saya sendiri dalam keislaman saya atau juga pengalaman rohani merekapun dangkal seperti diceritakan di atas! Walau orang-orang Kristen ini kelihatan kuat imannya, tetapi mereka tidak ‘menginjilkan’ saya dengan agama Kristen.
Setelah beberapa bulan berlalu, barulah saya mulai menanyakan mereka tentang pengalaman keagamaan dan rohani mereka. Mereka sangat heran bahwa saya, seorang Islam, ingin berbicara tentang keagamaan dengan mereka, umat Kristen! Tapi saya sangat menghormati mereka karena tidak mencoba ‘menjual’ agama mereka kepada saya. Sebaliknya kami bersama-sama dapat bercerita tentang pengalaman rohani dan keagamaan kami sebagai orang dewasa yang matang.
Dari berinteraksi dengan pelajar-pelajar sekelas saya inilah, saya telah peroleh fahaman lebih dalam tentang ajaran Kristen dan apa yang diceritakan di dalam buku “Appointment in Jerusalem“ itu. Akan tetapi, selama dua tahun dalam kelas IPT itu saya tidak berbuat apa-apa. Saya masih ingin mencari dalam agama Islam saya tentang hubungan yang sejati di antara Tuhan dan manusia, dan membandingkannya dengan ajaran-ajaran Injil. Dan selama dua tahun itu teman-teman Kristen yang sekelas dengan saya sangat sabar atas pertanyaan serta permasalahan-permasalahan saya, terkadang ada pemasalahan yang dangkal dan ada juga yang sulit! Tetapi sayapun sangat tertarik dengan kesopanan, keramahan serta keikhlasan mereka ini.
Sesudah dua tahun telah berlalu, bersama-sama dengan pencarian saya itu, saya akhirnya membuat keputusan untuk memeluk ajaran Injil sesungguhnya yang diwartakan oleh Al-Masih Isa itu. Sejak itu, ibadat sembahyang, puasa serta amal-amal salih saya yang lain telah diperkayakan dan dianugerahi hassanah dan kurnia ilahi berlipat ganda yang tak terbanding nikmatnya! Barulah saya sadar bahawa manusia tidak hanya seperti ‘robot’ dan memiliki perhubungan dengan Tuhan hanya sebagai khadam-Nya atau sekadar hamba-Nya sahaja!
Sebaliknya, di dalam ajaran Kitab Suci Injil semua insan yang menerima Jalan dan Hakikat Allah yang benar akan memiliki hubungan yang baru dan dinamik dengan-Nya, yakni bergelar sebagai anak-anak Allah; seperti yang tercatat dalam Nas Alkitab :
‘Tetapi kepada orang yang menerima-Nya diberi-Nya hak untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu kepada mereka yang percaya kepada nama-Nya.
Kelahiran mereka bukan dari darah, bukan dari keinginan daging, dan bukan dari keinginan seorang lelaki, melainkan dari Allah.’ Yohanes (Yahya) 1 : 12-13
Setelah menerima anugerah dari Tuhan sebagai anak-Nya, kehidupan saya mulai berubah dan keluarga saya mulai memperhatikan saya. Akhirnya, mereka mengetahui bahwa saya telah bertobat dan memeluk ajaran Isa al-Masih yang terdapat di dalam Al-Kitab/Bible itu. Pada saat itu, mereka tidak dapat menerima saya sebagai seorang pengikut Isa al-Masih. Dan saya terpaksa mengharungi banyak rintangan-rintangan yang cukup rumit dan sulit dalam keluarga saya.
Walaupun begitu, Tuhan Allah telah mempersiapkan saya dengan semangat kesabaran yang tepat, terutama untuk menghadapi pahit-manis reaksi awal keluarga saya, diawal saya menerima Isa sebagai Penebus, Firman dan Kalimat Allah yang hidup itu (Yohanes 1:1-5, Surah 3/45, surah 4/171) ke dalam kehidupan saya peribadi. Saya rasa mereka hanya tidak memahami saja apa yang sebenarnya saya lakukan itu. Sekarang, puji Tuhan, keadaannya sudah berubah bertambah baik dan pulih kembali.
Yang paling penting, sekarang saya sudah menyadari akan hubungan saya dengan Tuhan Allah yang penuh dengan keberkeyakinan, tidak sama seperti dahulu di mana tidak ada keyakinan yang dapat saya rasakan dengan ibadah dan amal-amal saleh saya sebagai seorang Muslimah walaupun yang cukup beriman. Saya tidak pernah pasti jika sebagai hamba Allah, segala ibadah soleh saya telah memberikan kepuasan kepada Allah sebagai Tuhan saya.
Tetapi sekarang sebagai anak-Nya, saya sudah mempunyai keyakinan dan kepastian yang kekal abadi diatas korban yang sudah di sempurnakan oleh pemberian kiffarat Si-Penebus Yesus (Isa) itu. Demi itulah, sekarang Rohul-Kudus Allah sendiri yang menghasilkan dan melimpahkan segala sesuatu anugerah dan berkat rohani-Nya melalui kehidupan saya sebagai anak-Nya dan hamba-Nya yang setia. Saya mengundang dan menjemput saudara untuk mengalami pelepasan dan nikmat-nikmat rohani dari sisi Allah yang tidak terbanding ini bagi diri anda sendiri. Saya sendiri tidak pernah menyesal atas keputusan saya untuk mengikuti Isa al-Masih pada hari ini dan hari esok!
Langganan:
Postingan (Atom)










