Minggu, 24 Februari 2008

Siapakah Anak Laki-laki di dalam Wahyu 12:5 ???

Perempuan dalam Wahyu 12 itu bukan Maria, bukan juga bangsa Israel melainkan adalah GEREJA.

Anak Laki-laki itu adalah hasil pernikahan antara Kristus dan Gereja-Nya.

Kelahiran Anak laki-laki ini merupakan suatu hal yang baru !!!

Ada banyak cara kelahiran dalam Alkitab: Adam secara penciptaan, Hawa secara rekayasa genetika, Kain dan Habel secara biologis, Kristen secara lahir baru oleh Firman dan Roh Kudus.

ANAK LAKI-LAKI itu adalah SEBUAH BANGSA yang lahir hanya dalam sehari (Yesaya 66:7,8; Mikha 4:10-13).

Gereja Tuhan akan melahirkan SEBUAH BANGSA YANG BENAR DAN KUDUS yang akan menjadi Alat Tuhan dalam mencurahkan murka Allah atas iblis dan atas bangsa-bangsa yang melawan Allah dan Kristus.

Gereja Sempurna adalah Mempelai Wanita Yang Tidak Bercacat.

Manusia menjadi SEMPURNA ??? Apa mungkin???

Puncak Rencana ALLAH BAPA adalah menyerahkan Gereja Sempurna kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Mempelai Wanita-Nya.

Kesempurnaan adalah berada di dalam ruang maha suci dari Tabernakel Allah, level yang tertinggi dari kehidupan Kristen. Kesempurnaan adalah puncak dari kesucian dan kekudusan.

Kerinduan Hati Allah Bapa ini dijelaskan oleh Rasul Paulus dalam Efesus 5:27 - Supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat dihadapan diriNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu (menjadi kudus dan tak bercela).”

Dalam Yesaya 62:5 – …dan seperti mempelai laki-laki bersukacita atas mempelai wanitanya, demikian juga Allah bersukacita atasmu.

Dalam Hosea 2:15-19 …Aku akan mempertunangkanmu kepadaKu untuk selamanya; ya, Aku akan mempertunangkanmu kepadaKu dalam kebenaran dan keadilan, dalam kasih setia dan kemurahan. …

Rasul Paulus sendiri mempunyai kecemburuan kepada sidang jemaat di Korintus dengan berkata,”Aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi, karena aku telah mempertunangkanmu kepada satu Suami, untuk mempersembahkan kamu sebagai perawan yang murni dan suci kepada Kristus.”

Kesempurnaan adalah potensi setiap orang percaya kepada Yesus, yang hanya dapat dimiliki melalui iman dan kesucian. Sebenarnya tidak perlu ada satu orang percaya yang tidak menikmatinya, hanya sayang sekali, terlalu banyak orang Kristen tidak mau ikut Yesus 100% sehingga tidak akan mencapai kesempurnaan yang disediakan itu. Orang Kristen yang tidak mau mengikuti Yesus sepenuhnya nanti akan masuk dalam masa 3,5 tahun aniaya besar. Gereja Sempurna nanti akan disingkirkan oleh Tuhan ke suatu tempat perlindungan pada permulaan aniaya besar. (Wahyu 12:6; Wahyu 12:14-17)

Rasul Paulus sering menganjurkan dan mendorong orang-orang percaya agar mengejar kesempurnaan itu dengan tekun. (Ibrani 6:1, Filipi 3:12-14)

Allah sendiri telah menyediakan sarana untuk kita, supaya kita mampu mencapai kesempurnaan. Sumber Kesempurnaan adalah Pekerjaan Yesus di Kayu Salib. Dalam Ibrani 10:14 – Sebab hanya dengan melalui satu korban Dia untuk telah menyucikan dan menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang telah ditahbiskan dan dikuduskan.

Korban Kristus adalah Sumber kekuatan rohani yang paling dahsyat dari orang Kristen.

Yesus Kristus adalah Pemimpin hidup kita menuju KESEMPURNAAN. (Ibrani 12:2)

Seorang Peramal menemukan Damai dan Sukacita di dalam Tuhan Yesus Kristus (Vera Setiawan)

Sejak berusia 12 tahun, Vera telah memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu yang orang lain tidak dapat lihat. Kemampuannya meramal sejak kecil didapat turun temurun dari kakek dan ayahnya.

Meramal itu tinggal lihat mata ketemu mata dalam waktu lima detik. Jadi tidak perlu menunggu dan memakai mantera. Tinggal melihat matanya, semuanya langsung kelihatan. Sepuluh tahun atau dua puluh tahun kemuka atau sepuluh tahun yang sudah lalu, saya bisa ramalkan. Itu adalah penglihatan yang sejak kecil saya dapatkan.

Kemampuan yang ia miliki sejak kecil semakin meningkat sampai Vera menginjak dewasa dan mengajar puluhan murid untuk dilatih menjadi paranormal seperti dirinya.

Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen selama saya menjadi paranormal ramalan saya ini berhasil. Tidak pernah meleset begitu kira-kiranya. Pernah orang tua saya punya teman polisi. Dia minta saya melihat mobilnya yang hilang. Itu terjadi tahun 60-70an. Orang tua panggil saya untuk menemukan mobil yang hilang. Saya bilang bahwa mobilnya ada dan tempatnya seperti apa saya katakan waktu itu. Dapat.

Namun kepuasan menjadi peramal tidak menjamin hidup Vera dipenuhi dengan ketenangan. Justru rasa takut dan kuatir kerap menghantui hari-harinya.

Kalau ada orang datang kena santet atau pelet, kami justru merasa takut. Karena semua itu adalah suatu kuasa, ilmu di alam roh yang tidak kelihatan, peperangan di alam roh yang tidak kelihatan. Jadi kalau yang datang kena santet kami coba netralisir, lalu yang menyantetnya itu adalah dukun yang lebih “tinggi” ilmunya dari kami, ya saya juga merasa takut. Karena semua ilmu akan kembali kepada kami. Jadi yang namanya damai itu tidak ada. Tapi kami memang sok jagoan, kami merasa bisa semuanya. Anak bayi di kampung yang pada nangis atau cengeng karena kesambet atau terkena “tuyul”, tinggal saya ambil air, kepret… sembuh. Dampaknya untuk orang lain apa yang kami lakukan memang kelihatan bagus sekali, tapi bagi kami tidak ada damai sejahtera.

Rasa tenang dan damai yang tidak pernah didapatkan selama menjalani hidup sebagai seorang paranormal mulai dirasakan lewat kejadian yang tidak disengaja.

Satu saat saya mengantar suami, di mobil saya ada radio. Tanpa sengaja saya membuka radio, ada ruang acara agama Kristen disana. Saya dengar, terus setelah saya pulang saya dengar kembali radio itu. Saya merasa enak dan senang, sebelumnya saya tidak pernah mendengar pendeta atau siapa saja, yang tahunya hanya jadi murid kebathinan. Mulai dari situ tiga-empat tahun saya membawa radio kecil keluar kamar untuk mendengarnya, suami saya tidak tahu. Pagi-pagi saya keluar kamar. Dari situ saya dengar terus orang berkotbah firman Tuhan melalui radio. Saya tidak melihat orangnya tapi ada sesuatu didalam hati terjadi. Saya merasa damai, enak dan sukacita. Saya lalu mulai mencari, yang namanya gereja itu seperti apa?.

Rasa damai dan sukacita yang dirasakan Vera setiap kali mendengar acara radio tersebut mendorongnya untuk mulai mencari tahu tentang Yesus pada seorang teman. Melalui teman tersebut Vera mulai banyak belajar dan mulai mengerti tentang keKristenan. Setelah 20 tahun menjadi seorang peramal, Vera akhirnya memutuskan untuk melepaskan ilmu-ilmu yang dimilikinya dan memberikan hidupnya untuk Yesus. Sejak saat itu banyak hal yang berubah dalam hidupnya.

Sebelum saya terima Tuhan, saya penyakitan, sebelas tahun saya sakit. Sesudah saya ikut Tuhan dan besok akan dibaptis, hari itu saya mimpi. Saya dioperasi oleh Tuhan lalu dikasih infus merah, infus putih. Seperti itu saja mimpinya, saya tidak tahu kenapa. Jadi ketika besoknya saya dibaptis, terus setelah itu saya jadi sembuh. Badan saya bisa naik 20 kg dalam waktu singkat setelah saya terima Tuhan Yesus.

Saat ini ilmu dan mantra-mantra yang pernah dimilikinya telah ditinggalkan karena Yesus telah mengisi hari-harinya dengan damai sejahtera dan sukacita yang dulu tidak pernah dirasakan sebelumnya.

Tuhan itu juruselamat dunia. Karena saya tinggal di dunia berarti Dia adalah juruselamat saya. Karena itu saya katakana bahwa dia adalah Allah diatas segala allah untuk pribadi saya, Nama diatas segala nama, Tuhan diatas segala tuhan.

Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. (Ulangan 18:10-11)

Kuasa Yesus mengalahkan kuasa "dewa-dewa". (kesaksian Eddy Tatimu)

Saya senang sekali dengan buku-buku tentang kesaktian. Orang bisa terbang, bisa pukul orang dari jauh. Saya pingin juga menjadi orang seperti mereka. Setiap hari saya meditasi sampai suatu waktu saya dipanggil untuk belajar ilmu-ilmu leluhur.

Dari hari ke hari Eddy memperdalam mantera-mantera yang diajarkan gurunya. Sampai suatu ketika ia diperhadapkan dengan preman-preman yang siap untuk menghajarnya. Saat itulah untuk pertama kalinya Eddy membacakan mantera-mantera yang dipelajarinya.

Teman saya dihajar habis-habisan. Tidak tahu dari mana, dengan cara yang ajaib muncul seseorang yang membuat saya kaget. Orang itu bilang pada preman yang ada : “Kalau anak ini kamu pukul, lewati dulu mayat saya”.

Saat itu Eddy melarikan diri tanpa menghiraukan temannya.
Saya pikir, betapa dahsyat mantera-mantera itu. Betapa hebat dewa-dewa yang menolong saya sebab mantera yang saya pakai adalah mantera pelindung diri. Mulai dari situlah saya setiap hari dengan antusias saya belajar dan cepat menghafal semuanya. Guru saya sampai kebingungan saat itu.

Banyak sekali ilmu yang guru ajarkan pada saya, bahkan dia mendelegasikan murid-muridnya pada saya. Disana mereka belajar masalah ilmu gaib.

Tapi saya mempunyai pantangan dalam memakai ilmu saya. Saya tidak bisa cabul dan juga mempermainkan ilmu yang ada. Saya juga tidak bisa menganiaya orang, saya harus hidup bersih. Saya mempraktekkan pelajaran ilmu ini kebanyakan pada orang-orang sakit. Begitu banyak yang sepertinya disembuhkan, meskipun ada beberapa yang meninggal dunia dan tidak tersembuhkan. Saya kira hal itu adalah hal yang biasa karena semua orang pasti mati.

Bagi Eddy, ilmunya adalah hal terhebat yang dimilikinya.
Satu waktu ada seseorang yang berbantah-bantah dengan saya. Saya katakan bahwa dewa saya ini sudah paling sakti. Saya katakan pada orang itu bahwa Yesus itu hanyalah nabi biasa, dan jika Ia adalah Allah maka saya menantang orang itu untuk menginjak puntung rokok, kalau kaki orang itu tidak hangus, berarti Yesus itu jagoan. Saya katakan bahwa saya bukan hanya bisa berjalan diatas puntung rokok, saya bisa berjalan diatas bara tempurung. Saya jalan dan saya tidak hangus. Saya bangga sekali dan saya pikir dewa-dewa saya ini sungguh dahsyat karena berjalan di bara saja kaki saya tidak melepuh.

Yang saya kira cukup hebat dibanding berjalan diatas bara adalah mandi minyak panas. Belanga berisi minyak seratus liter kami nyalakan. Pertama kami takut tapi setelah lama-lama kami mencoba dengan tangan kami. Ternyata tangan kami tidak apa-apa, lalu tangan kami celupkan semua. Karena kuali itu cukup besar, kami beberapa orang lalu main saja di dalam situ. Kami seperti mencari sumber minyak mendidih, kami main-main dan tidak ada yang hangus. Itu adalah ilmu yang paling dahsyat yang pernah saya tahu. Saya bilang pada teman debat saya bahwa Yesus itu hanya manusia, dia bukan Allah.

Di tengah kebanggaan atas ilmunya, mendadak ayah Eddy terbaring di ruang gawat darurat satu rumah sakit karena terkena serangan jantung.

Dokter yang biasa merawat papa mengatakan pada saya untuk pergi dan cepat-cepat memanggil mama sebab papa saya sudah koma. Saya kaget dan bengong. Memang sejak kecil saya dekat dengan orang tua, saya mencintai dan mengasihi orang tua saya. Mereka juga sayang dan mereka mencintai saya.

Eddy mulai mengeluarkan semua kesaktian ilmunya.
Waktu itu saya merasa tertantang. Orang lain pada waktu sakit saya sering obati. Sekarang papa saya akan saya obati juga. Saya mulai undang semua dewa-dewa yang saya kenal. Tapi dokter tiba-tiba tepuk saya, saya melihat bahwa tekanan darahnya 172. Ini sangat menakutkan saya.

Saya berpikir, siapa lagi yang belum saya panggil. Dewa yang menurut kepercayaan saya dapat menjadi penolong saya telah saya panggil. Semua yang ada dalam kamar sembahyang, bahkan semua yang pernah saya pelajari telah saya panggil. Saya merasa mereka itu ada. Selama 23 tahun sejak tahun 1964 saya belajar yoga sampai tahun 1987. Sudah 23 tahun saya bergaul dengan roh-roh ini di kamar khusus saya. Tapi mereka kok tidak datang menolong?. Saya sudah banyak berdebat dengan orang Kristen tentang Yesus yang menurut saya adalah manusia biasa, dan kini saya harus memanggil nama Yesus, itu bisa membuat saya malu.

Eddy masuk dalam perang batin.
Waktu saya mau menyebut nama Yesus, saya merasa minder, bibir saya kaku. Mulut saya rasanya terputar. Dan saya juga tidak senang dengan nama Yesus itu. Tapi saya tidak tahu lagi siapa lagi yang harus saya panggil. Dalam kontradiksi dan perang dalam hidup saya, tiba-tiba saya tersentak dan saya berkata sendiri : “OK Yesus, kalau kamu bisa menyembuhkan papa saya, malam ini juga saya mau mengikut kamu.” Pada waktu saya menyebut nama ini, saya serasa melayang, saya seperti tidak tahu apa-apa. Tapi saya sadar.

Waktu saya buka mata, sekitar satu dua menit kemudian, saya merasa lama sekali saya berada dalam konsentrasi dengan nama ini, padahal hanya satu dua menit. Tapi waktu saya melihat di layar monitor, kok ada perubahan. Lalu saya dekati monitor, yang tadinya 172 sekarang jadi 168. Sementara saya berbicara dengan dokter, tekanan darahnya turun sedikit demi sedikit sampai akhirnya 148, papa meloncat dari tidurnya dan berteriak dalam bahasa daerah saya, bahasa Menado : “Kita sudah hidup”.

Keajaiban instan ini mengejutkan Eddy.
Waktu saya lihat papa sudah sadar, keluarga saya juga sudah senang, giliran saya yang bengong. Selama ini saya mencari siapa yang sebenarnya dikatakan Allah itu. Saya belajar ilmu mati-matian, apapun syarat yang diperlukan untuk saya bisa mendapatkan semua ilmu, saya ikuti semua. Tapi kenapa dewa-dewa yang saya layani 23 tahun dengan setia dimana setiap hari dua kali saya layani tapi kenapa mereka tidak dapat menolong?. Belakangan saya baru sadar bahwa memang dewa-dewa ini tidak punya kuasa sama sekali atas kehidupan. Akhir semuanya, kehidupan itu tidak berada di tangan mereka.

Tapi waktu saya panggil Yesus, kurang dari dua menit, mungkin hanya satu menit, tapi di saat itulah Dia menjawab. Tuhan menunjukkan bahwa sesungguhnya adalah pencipta. Dia adalah allah yang maha Kuasa yang mengatur segala-galanya di dunia ini.
"Berhimpunlah dan datanglah, tampillah bersama-sama, hai kamu sekalian yang terluput di antara bangsa-bangsa! Tiada berpengetahuan orang-orang yang mengarak patung dari kayu dan yang berdoa kepada allah yang tidak dapat menyelamatkan. Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!” (Yesaya 45:20-21)

Dilepaskan dari ilmu Hitam (Eku Hidayat)

Banyak cara yang dipakai orang untuk mengetahui batas umur seseorang termasuk pergi ke paranormal. Namun, tak jarang pula orang yang tidak hanya sekedar ingin mengetahui tetapi sampai pada tingkat mempelajarinya sebagai cara agar lebih menguasai dunia ilmu hitam. Salah seorang anak yang mempelajari ilmu hitam itu adalah Eku Hidayat. Awal mulanya ia mendengar ramalan tentang ibunya yang pada waktu itu berusia limapuluhlima tahun. Maka ia mencari paranormal agar ibunya berumur panjang. Tetapi kemudian ia tertarik dengan dunia ilmu hitam dan terlibat semakin jauh. Berbagai cara ditempuhnya untuk memperoleh ilmu hitam. Kurang lebih tujuh setengah tahun ia belajar ilmu hitam dan mendapat banyak penglihatan.

Ia juga dapat membantu orang yang kesulitan seperti terlilit hutang. Ia cukup membacakan mantera dan roh manusia yang berhutang itu tertangkap dan dapat diajak berdialog serta menanyakan kepada si penghutang itu, kapan dapat melunasi hutang dan jikalau tak sanggup melunasi hutang maka roh orang itu ditangkap dan dihukum. Pada suatu hari, ia didatangi seorang pendeta yang berbicara tentang Tuhan yesus. Namun, ia tidak tertarik dengan pembicaraaan mengenai Tuhan yesus dan pendeta itu mengatakan akan mengunjungi Eku pada hari Jumat. Ia menyetujui permintaan hamba Tuhan itu. Dalam hatinya ia mengatakan, jangankan hari Jumat, malam inipun dia datang di rumah, saya akan mencelakakannya.

Malam itu, Eku mulai membaca mantera ingin mencelakakan hamba Tuhan itu. Sementara membaca mantera, tiba-tiba mantera itu kembali pada dirinya sehingga ia terpental. Dengan sekuat tenaga ia mengerahkan seluruh kekuatannya, namun tetap juga gagal.

Tibalah waktunya pada hari yang dijanjikan yaitu hari Jumat. Sebelum membahas firman Tuhan, Eku bertanya pada pak pendeta, siapakah yang menjadi gurumu? Pak pendeta menjawab adalah Tuhan yesus. Pak pendeta mulai membahas isi firman Tuhan. Eku tidak tertarik dan sedikit kecewa dengan cerita pak pendeta. Dia ingin menjadi murid dari guru yang hidup bukan Tuhan Yesus yang menurutnya tidak ada dan sulit untuk dipercayai oleh manusia sebab tidak pernah dilihat oleh manusia. Eku menceritakan pada pak pendeta bahwa gurunya adalah orang sakti. Dia juga menceritakan rencananya yang ingin mencelakakan pak pendeta.

Pak pendeta lalu menumpangkan tangan di atas kepalanya dan mendoakan Eku agar kuasa roh jahat dan ilmu hitam yang ada dalam dirinya keluar dari dalam tubuhnya. Tubuhnya menjadi kejang. Ada sesuatu yang dia rasakan saat itu tak seperti biasanya, dia merasa tenang dan damai. Namun, Eku belum sepenuhnya menerima Tuhan yesus dalam hidupnya.

Pada suatu hari, sekitar pukul 17.30, ketika ia baru kembali dari kantor ia merasakan ada roh yang menguasainya. Tiba-tiba muncul dihadapannya wajah yang menakutkan.Eku sangat ketakutan melihat wajah yang menyeramkan itu. Oleh karena dia belum mengerti benar tentang firman Tuhan, langkah satu-satunya yang dilakukan adalah membaca mentera. Semua mantera yang dibacakan keluar dari mulutnya, tapi kuasa yang diberikan pak pendeta ketika menumpangkan tangan sangat luar biasa. Sementara itu, wajah yang menyeramkan itu terus menakutinya. Saat itu dia teringat nama Tuhan Yesus dan langsung menyebut, dalam nama Tuhan Yesus, enyahlah kau iblis. Wajah itu langsung hilang dari hadapannya dan Eku menjadi tenang. Dia benar-benar merasakan kuasa Tuhan mengalahkan kuasa iblis.

Mulai saat itu, Eku meninggalkan dunia ilmu hitam dan tidak menyesal meninggalkan semua cara hidupnya yang lama. Hanya di dalam kuasa Tuhan segala sesuatu dapat terjadi. Kini dia mempersembahkan seluruh kehidupannya bagi Tuhan.

Kuasa Tuhan Yesus membebaskan saya dari ilmu Gaib (Parlindungan Sirait)

Dunia ilmu hitam adalah dunia yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia karena menjanjikan banyak hal diluar kemampuan manusia. Ilmu gaib sering dipergunakan untuk mencapai tujuan secara cepat dan singkat namun untuk memperoleh ilmu gaib tersebut tidaklah mudah. Akan tetapi berbeda dengan Parlin, ia memperoleh kuasa supranatural dengan mudah.

Orang tua Parlin berasal dari Tapanuli. Pada zaman dulu biasanya orang batak tidak keluar dari daerahnya kalau tidak mempunyai kekuatan magic. Ayah Parlin adalah seorang dukun yang cukup disegani di daerahnya. Oleh karena itu Parlin begitu cepat mewarisi kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya. "Ketika orang tua saya melakukan praktek atau muridnya datang untuk belajar ilmu, dengan mendengarkan saja apa yang diuraikan dari pengajaran okultisme, mantra-mantra saya bisa lakukan juga karena saya mempunyai bakat " Ia mencoba mengembangkan indera keenamnya. Ia mulai melatih kekuatan dengan menggunakan lilin dan cincin marulak. Sehingga jika ia dipukul, orang yang memukulnya justru akan kesakitan dan terpental jauh. Selain itu ayahnya juga mentransferkan semua ilmu yang dimilikinya kepada Parlin.

Kekuatan suparnatural yang dimiliki Parlin menjadikan ia manusia yang keras, sombong dan merasa paling hebat. Terlebih lagi setelah Parlin mendapatkan cincin berkekuatan magic temuan ayahnya di depan rumahnya. Ilmu-ilmu gaib yang dimiliki Parlin sangat mempengaruhi sifatnya sehingga menjadi kurang ajar dan berani terhadap guru di sekolah. Sering kali jika menerima hukuman dari guru-guru di sekolah, Parlin menceritakan hal ini pada ayahnya dan sang ayah memberikan bubuk yang ditabur di halaman sekolah sehingga tidak ada satupun guru yang tidak tunduk kepada Parlin. Bahkan guru-guru tersebut menceritakan hal-hal yang paling pribadi kepada Parlin. Situasi ini semakin memicu keinginan Parlin untuk memiliki kekuatan lebih lagi. Hingga akhirnya ia memiliki kekuatan hanya dengan menatap dengan matanya, ia dapat melemparkan lawan, menggunakan cincin bernama Kol Buntet untuk kekebalan, menghilang dengan cara gaib dan masih banyak lagi.

Keterlibatannya dengan ilmu gaib terus berlanjut hingga ia dewasa dan bekerja di salah satu bank. Parlin bertemu dengan seorang dukun besar dari Banten dan ia menganggap ia sebagai adiknya. Mereka berteman baik dan saling bertukar ilmu. "Ia ajarkan kepada saya ilmu pelet dan saya praktekkan satu kali dengan seorang wanita di kantornya" Saat itu ada seorang wanita yang cukup disukai oleh semua karyawan, sedangkan ia sudah mempunyai pacar. Orang yang mempunyai ilmu pelet bangga jika bisa menghancurkan orang lain. Saat mempraktekkan ilmu pelet ada perasaan yang membuat hatinya berkecambuk sehingga Parlin tidak jadi memperdaya wanita tersebut. Sejak peristiwa tersebut, kegelisahan ada di dalam hatinya bahkan sahabat-sahabatnya meninggalkannya. Hatinya merasakan kehampaan....

Namun pada suatu pertemuan ibadah yang mengubah jalan hidupnya setelah ia pulang dari kantor. "Saya membuka hati, menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat" Lalu pada tahun 1982 Parlin mendapat jamahan Tuhan dan di doakan secara tuntas untuk menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. " Kuasa Tuhan Yesus membebaskan saya dari ilmu gaib. Kini saya merasakan sukacita yang luar biasa dan saya mengambil keputusan untuk menjadi hamba Tuhan" Biasanya jika seseorang sudah masuk ke dalam dunia ilmu gaib sangat sulit untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut tetapi dengan pertolongan Tuhan parlin mampu melakukannya.Tak ada satupun kuasa yang dapat mengalahkan kuasa Allah. Jika kita memberi diri kita kepada Tuhan Yesus maka tidak ada satupun kuasa jahat yang dapat bertahan.Yesus Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

Dilepaskan dari ilmu Sihir (George Mulder)

Pada waktu itu umur saya masih 27 tahun dan saya merasa hidup ini begitu susah. Saya bekerja di satu perusahaan dan disana saya bertemu dengan seorang teman saya. Saya melihat teman saya ini begitu maju dan berhasil dalam pekerjaannya, saya ingin seperti dia. Saat saya menanyakan apa rahasia dibalik semua keberhasilannya, teman saya ini mengatakan bahwa dia memiliki ilmu yang dapat membuat dia memperoleh apapun yang dia inginkan. Melihat semua keadaan diri saya maka sayapun ingin mengikuti semua resep yang teman saya berikan. Saya berhasil mendapatkan guru dan mulai mempelajari ilmu-ilmu sihir serta menjalankan apa yang guru saya ini ajarkan.

Memang benar, ketika saya mulai menjalankan semua ilmu yang diberikan, saat itu pekerjaan dan usaha saya mulai mengalami kemajuan. Apa yang saya inginkan selalu saya dapatkan. Dengan ilmu ini ternyata saya juga dapat menyembuhkan banyak orang, saya selalu menggunakan air putih dalam hal ini. Namun dibalik semua keberhasilan, kemajuan yang saya dapatkan dan kesaktian yang saya miliki, saya sesungguhnya kehilangan kedamaian. Saya terlibat dalam kebiasaan buruk, mabuk, judi dan main perempuan.

Belasan tahun saya menuntut ilmu sihir, saya jenuh dan ingin berhenti. Saya letih dengan keadaan ini. Namun, ternyata tidak mudah bagi saya untuk keluar dari dunia sihir. Ketika saya putuskan untuk meninggalkan semua itu, dalam waktu singkat semua usaha saya mengalami kebangkrutan dan harta benda saya terkuras habis. Saya terpukul dan tertekan secara fisik dan mental. Dalam keadaan saya seperti itu saya mendapat panggilan dari guru saya.

Ketika saya dipanggil dan dan bertemu guru saya, dia melihat bahwa saya dalam keadaan yang ‘kosong’ dan harus diisi kembali dengan ilmu-ilmu. Saya diminta kembali melakukan jurus-jurus yang pernah dia dia ajarkan. Saya melakukan semua ilmu itu dengan dibantu oleh guru saya. Setelah kembali melakukan semua ilmu sihir itu, saya kembali mengalami perbaikan dalam usaha pekerjaan yang saya lakukan. Namun seperti biasanya, semakin saya berhasil dalam usaha maka semakin dalam juga saya melakukan kebiasaan yang buruk. Setiap malam saya pulang dalam keadaan mabuk. Hati kecil saya mengatakan bahwa bukan keadaan seperti ini yang saya harapkan.

Ketidakdamaian dalam hati George Mulder mencapai puncaknya saat ia menonton suatu kisah dalam televisi yang menceritakan tentang kuasa kegelapan.

Suatu malam saya menonton TV, acaranya malam itu tentang ilmu kegelapan. Saya diliputi ketakutan yang amat sangat. Saya merasa bahwa semua yang ada dalam layar kaca itu sama dengan apa yang saya lakukan selama ini. Dalam tayangan itu dikatakan bahwa orang yang melakukan sihir, hidupnya akan mengalami kehancuran dan akhirnya telah jelas yaitu neraka. Saat itu saya merasakan ketakutan dan mematikan TV dan pergi tidur. Sebelum tidur saya katakan bahwa jika memang Tuhan berkuasa maka saya membutuhkan jamahan Tuhan. Saya minta Tuhan menunjukkan kekuasaanNya.

Tengah malamnya saya merasa dibangunkan. Saat itu saya berusaha melihat sekeliling dan merasa heran karena keadaan yang gelap gulita karena padamnya listrik. Namun kemudian saya dibuat terkejut. Saya melihat gambaran Yesus dipintu dan ada sinar diatas kepalaNya. Setelah saya melihat penglihatan itu, saya masih berkeras dan melakukan banyak dosa, namun dalam hati saya ada suatu bisikan agar saya selalu bertobat. Saya percaya semua itu berkat doa-doa istri saya bagi kehidupan saya.

Saya merasa sulit keluar dari keadaan ini, sebenaranya saya telah jenuh. Sampai satu minggu setelah penglihatan itu, saat itu saya pulang kerumah dalam keadaan mabuk. Saat itu istri menasehati saya, dia mengatakan jika saya mempunyai masalah maka saya harus datang pada Tuhan Yesus. Entah mengapa, saat itu saya seperti punya keinginan kuat untuk bertobat. Saya putuskan untuk meninggalkan semua ilmu saya malam itu.

Untuk membebaskan diri dari ikatan kegelapan yang dimilikinya selama 20 tahun ternyata tidak mudah bagi saya. Saya akhirnya harus datang pada seorang hamba Tuhan untuk dilepaskan dari kuasa gelap yang selama ini mengikat hidup saya. Saat saya didoakan, saya merasakan kuasa gelap itu seperti sulit sekali keluar dari hidup saya. Kuasa jahat seperti roh ular dan macam bermanifestasi dalam diri saya sehingga saya bergerak seperti binatang tersebut. Sampai lima kali saya dilepaskan sampai akhirnya roh jahat itu keluar dari diri saya. Sejak saat itu hidup saya dipenuhi damai sejahtera.

Saya berhutang pada Tuhan karena saya telah dibebaskan dari kuasa jahat selama 20 tahun. Tuhan juga telah menghapus semua dosa saya. Saya sangat bersyukur padaNya.

Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau! (Yesaya 44:22)

Tuhan Yesus selamatkan Saya dari Kecelakaan Maut (Hermanus Handoko)

Saya adalah Lettu Teknik Hermanus Handoko yang dilahirkan pada tanggal 6 April 1961 dalam kalangan orang Jawa di daerah sejuk dekat rumah retreat Katolik Lavena, Pring Sewu kampung Padang Bulan Bandar lampung. Saya putra kedua dari delapan bersaudara. Ayah saya bernama Wakidi dan ibu saya yang sudah almarhum Aluwisia Sarijah.

Saya menikah pada tanggal 7 Nopember 1990 dengan seorang gadis yang bernama Agnes Dwi Kasih Sungkowowati di Bandar Lampung. Perjumpaan kami terjadi di daerah candi Prambanan yang diawali dengan kegiatan gereja. Pada waktu itu saya adalah seorang pemuda Katolik yang rajin dan Agnes adalah pemudi GKJ Prambanan. Kami sempat berpisah beberapa tahun lalu berjumpa lagi di Bandung. Ketika itu Agnes telah selesai studi di Yogyakarta dan melamar untuk menjadi Wanita Angkatan Udara (WARA) TNI. Saat berjumpa lagi itulah saya jatuh cinta kepada Agnes.

Saat ini kami telah menikah dan dikaruniai Tuhan dua putra yaitu Stevanus Wiga, 14 tahun dan Andreas Dani, 10 tahun. Kami tinggal di rumah dinas TNI AU, Husein Sastranegara sejak tahun 1990 sampai sekarang. Saya sehari-hari bekerja di Landasan Udara Sulaeman bagian Operasi Sibinpot Dirga dan isteri mengabdikan diri sebagai guru agama di Sekolah Menengah Pertama Sumatera 40 Bandung.

24 Februari 2006

Pada hari Jumat sore tanggal 24 Februari 2006 Hermanus menerima sms dari alm. Kapten Pilot Arif Mulyawan, penerbang IPTN yang mengajaknya terbang ke Bali.
“Sore itu saya mendapat sms untuk membantu rekan saya untuk mengisi bahan bakar pesawat mengingat pesawat itu akan digunakan untuk penerbangan ke Bali.”

Hermanus segera berangkat menuju ke lokasi untuk pengecekan dan pengisian bahan bakar pesawat. Setelah mengurus surat-surat, sore itu juga Hermanus mengisi bahan bakar pesawat karena hanya tinggal 60 liter.

Keesokan paginya...

Keesokan harinya pada jam setengah enam pagi alm. Kapt. Pilot Arif menghubungi Hermanus untuk kepastian keberangkatan mereka ke Bali.
“Pagi-pagi sekitar ½ 6 saya mendapat sms dari alm.Kapt. Pilot Arif yang mengatakan ‘Pak, kita jadi berangkat ke Bali sekarang’. Saya dengan istri cepat-cepat melakukan persiapan untuk berangkat ke bandara. Saya cek pesawat itu kembali karena sudah semalam. Dari bahan bakar, oli sampai keadaan posisi pesawat ternyata bagus.”

Sebelum ke Bali pesawat yang ditumpangi Hermanus akan ke Jakarta terlebih dahulu. Pesawat dengan tipe super rable dengan tipe 2500 tersebut ditumpangi oleh Arif sebagai pilot, Hermanus sebagai mekanik dan seorang teman Arif yang kebetulan ikut ke Jakarta.

“Saya meminta isteri untuk mengantarkan saya ke bandara. Sebelum keberangkatan saya, isteri mengatakan kepada saya saat itu ‘Tuhan menyertaimu pak’. Saya sendiri berangkat terasa ringan dan sepertinya tidak ada beban. Saya merasakan senang sekali karena sebagai mekanik pesawat, saya ditugaskan untuk menguji kelayakan seluruh badan pesawat, bahan bakar, oli dan lain-lain. Setelah semuanya diperiksa dan pesawat itu laik terbang, kami bertiga (saya, alm. Arif Mulyawan dan alm. Imam Santoso) berangkat dari Bandung (take off) menuju bandara Halim di Jakarta pada jam 07.30 WIB, dan kami tiba di Jakarta pada jam 08.10 WIB.”

Ketika sedang landing, Hermanus sempat merasakan suatu firasat buruk.
“Pada saat mau landing, landasan itu tertutup oleh awan hitam. Saya juga sempat kaget. Sambil belok ke kanan untuk menghindar, kami masih bisa lihat landasan. Langsung kami masuk menuju landasan untuk landing.”

Setibanya di Jakarta, dilakukan kembali pengisian bahan bakar pesawat.
“Saat itu bahan bakarnya memang sudah minim sekali sehingga didatangkanlah tanker untuk pengisian bahan bakar kembali.”

“Sesampainya di bandara Halim seperti biasa saya langsung menelepon isteri untuk memberitahukan kalau saya sudah mendarat dengan selamat dan mengabarkan akan berangkat ke Semarang. Setelah itu kami ditambah satu orang lagi yaitu Ir. Firman Sunoto, menjadi berempat melanjutkan perjalanan dari bandara Halim ke bandara Ahmad Yani di Semarang pada jam 08.40 WIB, dimana pada waktu itu kondisi cuaca sangat cerah dan pesawat yang kami tumpangi dapat take off dengan baik.”

Di Udara Mesin Sudah Mati

Dalam penerbangan ke Semarang, kemudi dikendalikan oleh co-pilot.
“Supaya familiar. Dengan rencana setelah sampai sana, co-pilot ini nanti yang membawa pesawatnya kembali ke Jakarta. Pilotnya itu cuma memonitor saja.”

Pesawat menyusuri daerah Saguling dengan ketinggian 5000-5500 feet.
“Kami melihat ke kiri dan kanan untuk mengecek kondisi pesawat siapa tahu ada kelainan baik dari wing atau mungkin ada kebocoran dari bahan bakar tapi ternyata tidak ada. Jadi kami berjalan sambil bercanda, menghilangkan ketegangan.”

Ketika sedang melintasi daerah Kalijati, Hermanus sempat bertanya pada pilot.
“’Kalijati sudah lewat belum?’ ‘Sudah pak, itu di belakang.’ Tadinya rencananya seandainya belum lewat, kami akan mengadakan pendaratan dulu untuk cek mesin.”

Dalam hitungan detik setelah Hermanus bertanya, suatu peristiwa yang paling mengerikan akan dialaminya.
“Mesin itu mati. Co-pilotnya agak kebingungan akhirnya diambil alih sama pilot. Distater lagi di atas tidak mau, dicoba sampai tiga kali tetap tidak mau. Akhirnya kita putuskan untuk landing secara darurat.”

“Kejadiannya begitu cepat dan saya hanya bisa pasrah. Ketika mesin pesawat mati, semua penunjuk seperti ketinggian dan lainnya berada di posisi nol. Pilot sempat mengingatkan awak lainnya untuk waspada dan meminta masing-masing memeriksa sabuk pengaman untuk pendaratan darurat. Saya yang duduk di bangku belakang berdampingan dengan Ir. Firman Sunoto hanya bisa berdoa memohon perlindungan dari Tuhan karena saya pada waktu itu tidak tahu apa yang mesti saya lakukan. Saya mencoba meraih apa saja yang bisa dijadikan pegangan.”

Pesawat akhirnya jatuh menghujam bumi di area perkebunan dan patah menjadi tiga bagian. Pesawat dengan tipe Cessna SR2500 itu jatuh didaerah Cibogo, Subang. Pilot dan co-pilot meninggal dunia seketika sedangkan Hermanus dan rekannya yang lain hanya mengalami luka-luka.

Tuhan Masih Sayang Kepada Saya

Beruntunglah Hermanus karena tidak ada luka serius yang terjadi padanya.
“Saya hanya mendapatkan luka kecil di bagian lengan kiri dan di pipi. Saya sempat pingsan ketika pesawat menghantam tanah dan saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Saya baru tersadar ketika saya sudah berada beberapa meter dari jatuhnya pesawat, dan ada seorang bapak memapah saya kemudian menanyakan apakah saya masih bisa dibonceng naik motor untuk dibawa ke puskemas. Saya menjawab ‘bisa’ kemudian saya dilarikan ke puskemas Cibogo Subang sekitar jam 09.20 WIB dengan dibonceng sepeda motor. Sorenya sekitar jam 17.00 WIB saya dijemput komandan dan staf dari Lanud. Sulaeman Bandung kemudian dibawa ke Rumah Sakit TNI AU, dr. Salamon Ciumbeluit Bandung. Setelah kejadian itu saya sangat bersyukur sekali karena Tuhan masih memberi kesempatan kepada saya untuk menikmati hidup bersama keluarga, dan saat ini saya bisa berkata ‘Tuhan masih sayang pada saya’.”


Saat Hermanus diperhadapkan kepada kematian, dia hanya bisa berdoa dan berharap kepada Yesus.
“Saya cuman bisa berdoa, ‘Tuhan, tolong saya.’ Dengan kecelakaan ini saya masih diselamatkan dengan kondisi yang boleh dikatakan masih fit, bagi saya itu suatu mukjizat yang diberikan Tuhan kepada saya. Saya sangat-sangat berterima kasih kepada Tuhan karena Tuhan telah menyelamatkan saya. Saya yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus itu akan selalu melindungi dan menyertai saya di tiap langkah hidup saya.”

Makin Berkomitmen Kepada Tuhan

“Saya tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan karena saya sudah diselamatkan dari maut. Saya percaya ini semua adalah campur tangan dan Kuasa Tuhan yang bekerja dalam hidup saya. Sejak kejadian itu dimana Tuhan telah menolong saya, saya berjanji akan lebih rajin lagi mengikuti kegiatan gereja. Puji Tuhan kalau saat ini saya boleh dekat dengan Tuhan melalui Gereja Roma Katolik Bunda Tujuh Kedukaan Pandu Bandung. Saya juga melayani sebagai ketua kring lingkungan Santa Cicilia Sukasari. Seandainya saya ditanya apa masih ingin terbang lagi? Saya akan menjawab ‘Ya’ karena saya tidak perlu takut karena Tuhan Yesus beserta dengan saya dan DIA-lah yang berkuasa atas hidup saya.”

Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu. Tuhan menyertai kamu sekalian. (II Tesalonika 3:16)

Tuhan Satukan Kembali Keluargaku (Eka dan John)

Ika: Hubungan kami saat pacaran itu backstreet, jadi orang tua memang tidak setuju. Karena orang tua semakin tidak setuju, kami memberontak. Kami melakukan hubungan seks di luar nikah, dengan maksud supaya kami dinikahkan. Akhirnya dengan terpaksa orang tua menyetujui hubungan kami dan kamipun menikah.

John: Saya dulu suka nge-break, saya hobi nge-break di radio 2 meteran, dan saya punya banyak teman juga di sana, tapi ada satu wanita yang menjadi teman saya. Mulanya kami cuma berteman, tapi kemudian berlanjut di luar frekuensi radio, dan semakin jauh kami akhirnya sampai berhubungan layaknya suami istri. Dari situ akhirnya kami membuat keputusan bahwa saya harus tinggal dengan dia.

Waktu saya keluar dari rumah saya merasa sepertinya saya menang, saya sudah bisa melakukan sesuatu yang membuat keluarga mereka menjadi sakit hati, karena memang itu tujuan saya. Itu terjadi karena sebenarnya ada sesuatu yang saya pendam dalam hati saya, saya merasa semua keputusan yang menyangkut anak saya, orang tua Eka terlalu dominan di dalamnya. Pada waktu saya berselingkuh selama 7 tahun dengan wanita itu, saya mempunyai 2 anak dari hasil hubungan kami.

Eka: Sampai kadang-kadang saya berdoa seperti ini, “Tuhan, kalau memang hanya maut yang bisa memisahkan, jangan saya Tuhan, karena anak-anak saya masih kecil.” Jadi saya menginginkan kematian suami saya karena saya merasa dikhianati dan merasa disakiti.

John: Setelah saya memilih untuk tinggal bersama dengan wanita selingkuhan saya ini, saya pikir bersama-sama dia saya memulai sesuatu yang baru. Dan dengan sendirinya saya kan berharap sesuatu yang baru itu pasti lebih baik. Ternyata setelah dijalani tidak seperti itu. Saya minum setiap hari, bertemu dengan teman-teman yang pakai narkoba, saya ditawari dan akhirnya juga ikut pakai narkoba.

Saat keadaan saya sedang begitu terpuruk, ada satu kebaktian yang saya ikuti. Di situ hamba Tuhan itu sampaikan, “Dalam situasi seperti sekarang ini, apapun yang sekarang ini sedang mengikat engkau, apakah kamu sedang terikat denga narkoba, engkau sedang hidup dalam perjudian, engkau sedang hidup dengan percabulan, engkau sedang hidup dengan perselingkuhan, engkau yang hidup dengan itu semua... Itu semua adalah sia-sia, karena Yesus sudah mati untuk semua itu.” Saya bilang, “Tuhan, saya minta ampun... Saya telah salah jalan, saya sudah melangkah begitu jauh dari Tuhan. Saat itu, nomer satu yang saya ingat bukan keluarga saya, tapi saya ingat hubungan saya dengan Tuhan sangat jauh.

Selama 7 tahun John dan Eka berpisah, mereka tinggal di kota yang berbeda. Hingga pada satu kesempatan, Eka diajak adiknya untuk ikut dalam satu kebaktian. Di kebaktian itulah Eka mengalami pertobatan dan mengambil keputusan untuk mengampuni John dan mendoakan pertobatannya.

Eka: Pada saat saya bertobat, saya dibukakan, bahwa ternyata saya itu suka mengambil keputusan di luar persetujuan suami saya. Jadi kalau mama saya meminta anak-anak saya untuk pergi berlibur misalnya, saya langsung mengiyakan begitu saja, tanpa saya minta persetujuan dari suami saya. Dan ternyata suami saya merasa sakit hati karena tidak dihargai dan saya tidak tahu.

Suatu ketika, Eka dan anak-anaknya pergi menghadiri sebuah pesta pernikahan di Ambon. Tanpa disengaja, di kota inilah Eka bertemu dengan suaminya.

John: Waktu saya sedang jalan-jalan di pasar, tiba-tiba ada mobil yang mendekati saya. Saya kaget, karena waktu itu saya berjalan di trotoar, dan mobil ini berhenti. Waktu saya lihat mobil ini kacanya gelap, dan saat kacanya diturunkan, saya melihat anak saya yang langsung memanggil nama saya, “Daddy... Daddy kemana aja sih? Kita udah datang ke sini cari-cari daddy, ga pernah ketemu. Pada saat itu, semua kebencian saya yang sudah tertumpuk sekian lama, hingga saya berusaha membalas itu kepada istri saya dan keluarganya... Pada saat itu sepertinya semua itu hilang begitu saja. Sejak pertemuan yang tak terduga itu John mengambil keputusan untuk kembali kepada Eka dan mengakhiri 7 tahun perselingkuhannya.

John: Saya memberitahu wanita ini baik-baik, saya bilang bahwa saya harus kembali kepada istri saya dan anak-anak saya. Lalu dia bilang “Kalau kamu mau kembali pada istri dan anak-anakmu, saya ijinkan...”

Setelah John kembali kepada istri dan anak-anaknya, mereka memutuskan untuk meninggalkan Ambon untuk kemudian menetap di Bali. Di pulau Bali inilah mereka menjadi keluarga yang sepenuhnya mengandalkan Tuhan.

John: Dari sini saya lihat betapa luar biasanya Tuhan... Menurut saya waktu itu saya sudah tidak mungkin lagi bertemu dengan istri dan anak-anak saya. Tapi ternyata Tuhan buat berbeda... Dan apa yang saya pikirkan menurut saya sendiri waktu itu ternyata Tuhan ubah semuanya, dan Tuhan menggambarkan itu buat saya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Dia..."Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (Yer 32:27)

Pertobatan Arthur Kaunang (Rocker)

Arthur Kaunang, AKA dan SAS sempat menjadi superstar pada zamannya. Arthur sendiri terlahir dari keluarga pemusik. Ayahnya pemain piano dan juga pemain biola. Sejak berusia 5 tahun Arthur sudah diperkenalkan musik oleh orang tuanya, terutama piano klasik. Sehingga Arthur memiliki basic musik yang kuat. Meskipun ayahnya seorang pemusik namun beliau tidak mendukung karir Arthur di bidang musik. Beliau justru menginginkan Arthur menjadi pemain tennis professional. Namun ibunya mendukung minat Arthur di bidang musik.

Ketika duduk di bangku SMA, Arthur mulai menyukai jenis musik Rock n Roll yang pada zaman itu sedang tren di kalangan anak muda. Pada tanggal 23 Mei 1967 Arthur dan teman-temannya membentuk group musik beraliran rock dengan nama AKA (Apotek Kali Asin), yang personilnya antara lain Ucok Harahap, Sonata Tandjung, Sjech Abidin dan Arthur Kaunang sendiri.

AKA pada saat itu dikenal sebagai salah satu band papan atas Indonesia dan berhasil menelorkan kurang lebih 10 album. Bahkan band ini pernah menduduki tangga lagu-lagu yang paling digandrungi di Australia. Namun pada tahun 1975 band asal kota Surabaya itu berganti nama menjadi SAS karena Ucok Hararap bergabung bersama Achmad Albar (yang pada waktu itu dikenal dengan nama Duo Keribo). Sehingga personil AKA lainnya yang tinggal 3 orang itu, membentuk band baru dengan nama SAS, singkatan dari Sonata Tandjung, Arthur Kaunang dan Sjech Abidin.

Pada tanggal 3 Maret 1976 Arthur Kaunang yang lulusan sastra Inggris IKIP Surabaya menikah dengan gadis pujaannya yang dipacarinya sejak SMP, Julie Astuti. Pernikahan yang dilakukan di gereja Maranatha Surabaya itu dikaruniai 3 orang anak, yaitu Thessa Kaunang, Ganesy Kaunang dan Mecko Kaunang.

Namun gaya hidup Arthur dengan segala materi dan popularitasnya sebagai musisi beken saat itu tidak berubah meskipun ia sudah menikah. Arthur masih saja mengencani wanita lain yang disukainya. Arthur berpetualang dari satu wanita ke wanita untuk memuaskan hidupnya.

Eksistensi SAS menemukan titik turun ketika salah personilnya, Sonata Tandjung memutuskan untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Sejak saat itu personil SAS mulai jalan sendiri-sendiri. Ada yang bergabung dengan band lain, ada yang bersolo karier. Arthur sendiri bersolo karier diiringi Arthur Kaunang Band.

Meskipun Arthur tidak mengeluarkan album, namun tawaran manggung tetap berdatangan, bahkan sampai ke luar kota. Namun Arthur tidak mendapatkan kepuasan dalam kariernya. Karena apa yang dia dapatkan selama bergabung dengan SAS jauh lebih maksimal. Sementara itu Arthur semakin terpuruk di dalam kebiasaannya mengencani banyak wanita. Bukan hanya itu, Arthur juga semakin terjerumus di dalam penggunaan narkoba.

Arthur gemar mengencani banyak wanita
Kebiasaan Arthur berpetualang ke wanita yang satu ke wanita yang lain itu sampai melibatkan keluarganya. Isterinya sudah biasa ditelepon wanita yang tidak dikenal dan mengaku sebagai ‘isteri’ Arthur dan sudah melahirkan anak Arthur. “Bu, nanti tolong kasih tahu Pak Arthur yah, bahwa isterinya sudah melahirkan.”, begitulah ucapan di telepon yang kerap kali diterima Julie.

Dampak dari tidak berfungsinya Arthur sebagai kepala rumah tangga yang baik sampai kepada anak-anaknya. Salah satu anaknya, Ganesy Kaunang terjerumus di dalam narkoba selama bertahun-tahun. Dalam hal keuangan, keluarga ini kian mengalami kesulitan. Kebiasaan buruk Arthur tentu menguras banyak uang. Sementara ketiga anaknya saat itu sedang duduk di bangku sekolah dan kuliah yang tentunya membutuhkan biaya yang cukup besar.

Julie sang isteri yang disakiti
‘Sebagai seorang wanita perbuatan Arthur bagi saya sangat menyakitkan. Tapi saya berjuang demi anak-anak. Kalau tidak demi anak-anak, mungkin saya sudah minta cerai. Tapi saya pikir kembali kalau kami bercerai, maka anak-anak akan menjadi korban. Saya sangat mencintai anak-anak. Saya tidak mau anak-anak saya broken home. Jadi saya putuskan, saya saja yang berkorban” begitu pengakuan Julie.

Bukan hanya tekanan batin yang harus Julie alami. Namun wanita ini juga mendapat perlakuan kekerasan fisik dari Arthur. Kerap kali Arthur mendaratkan tangannya di wajah Julie dan memukulnya. Namun wanita yang latar belakangnya beragama Islam itu dengan setia mendoakan agar Arthur menyadari perbuatannya dan kembali kepada keluarganya.

Tidak tanggung-tanggung, wanita ini berdoa selama 29 tahun sampai akhirnya pada satu titik Arthur bertobat dengan sungguh-sungguh. “Saat itu saya percaya bahwa suatu saat, meskipun saya tidak tahu kapan waktunya, Tuhan pasti akan memulihkan Arthur. Dan saya banyak sekali melihat, setiap kali Arthur melakukan perselingkuhan, ia selalu mengalami kecelakaan, musibah dan hal buruk lainnya.

Setiap kali berdoa, saya minta hati yang bisa mengampuni Arthur meskipun saya berkali-kali disakiti. Saya juga tidak pernah mengajari anak-anak untuk membenci ayahnya meskipun mereka tahu apa yang ayah mereka lakukan.” Tuhan memberikan kekuatan kepada Julie untuk menghadapi semua ini.

Pemulihan keluarga terjadi setelah Julie berdoa selama 29 tahun
Februari 2004 menjadi moment penting keluarga ini. Doa Julie selama 28 tahun dijawab Tuhan. Akhirnya Arthur menemukan titik balik di dalam hidupnya setelah melalui sebuah peristiwa sehubungan dengan kebiasaannya berselingkuh, Saat itu ada seorang wanita selingkuhan Arthur yang mengaku hamil dan minta agar dinikahi.

Wanita ini bersikeras menuntut agar Arthur harus menikahinya. Arthur mengalami ketakutan dan sepertinya tidak ada jalan keluar. Ia mengalami keputusasaan dan nyaris bunuh diri.

Akhirnya suatu hari pada jam 3 pagi, dalam keadaan paling buruk, Arthur mengakui semua dosanya dengan mulutnya sendiri dihadapan isteri dan anak-anaknya dan berjanji ia akan bertobat sungguh-sungguh. Saat itu Arthur sampai memohon dengan sangat sampai bersujud menyembah kepada isterinya untuk mendoakannya.

Sejak saat itu Arthur memutuskan untuk hidup di dalam jalan dan rencana Tuhan Yesus. Dan mau bertekad untuk menjadi suami yang benar dan ayah yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya.

Arthur Kaunang yang baru
April 2004 Arthur masuk Sekolah Pembentukan Karakter di Ungaran, Semarang. Tepatnya di bukit doa Getsemani. Di sinilah karakter Arthur yang tadinya sombong, keras dan berbagai kebiasaan hidup lamanya dikikis dengan kebenaran Firman Tuhan. Arthur mengalami pemulihan demi pemulihan.

Ketika Arthur mengalami perubahan hidup dan berfungsi sebagai kepala rumah tangga yang benar dihadapan Tuhan dan keluarganya, maka anaknya (Ganesy Kaunang) yang tadinya terjerat narkoba mengalami kesembuhan dari keterikatannya dengan barang haram tersebut. Bahkan Ganesy menyerahkan dirinya untuk menjadi hamba Tuhan dan saat ini sedang kuliah di salah satu sekolah teologhia di Salatiga.

Sementara itu anak bungsunya, Mecko oleh kemurahan Tuhan diterima di SMA Taruna Nusantara Magelang. Sekolah yang menjadi impian banyak pelajar di negeri ini. Thessa Kaunang, anak sulungnya yang dikenal sebagai presenter, yang tadinya menjalin hubungan dengan pria berbeda keyakinan, saat ini sedang menjalin hubungan dengan salah seorang artis sinetron yang cinta Tuhan, Sandy Tumiwa.

Dengan talenta bermusik yang sudah Tuhan anugrahkan buat Arthur dan juga ketiga anaknya, mereka mendapat visi untuk melayani Tuhan lewat pelayanan musik. Tuhan memakai kehidupan Arthur dan juga keluarganya sebagai instrument-Nya Tuhan.

Sehingga pada bulan Maret 2006 keluarlah album rohani perdana mereka yang berjudul “Dia Selalu Ada.” Adapun nama grup musik yang mereka dapatkan adalah Cloud and Fire. Rencananya, kalau Tuhan izinkan bulan Juni 2006 Cloud and Fire, akan diundang untuk melayani di empat kota di Negeri jiran Malaysia.

Ketika mengalami indahnya hidup bersama Tuhan Yesus, Arthur baru menyadari mengapa tidak dari dahulu ia menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan. Namun semua indah dan tepat pada waktunya.

“Apa yang dulu saya anggap berharga, sekarang saya anggap sampah karena pengenalan saya kepada Tuhan Yesus.”

Pertobatan Istri Simpanan (Hernina)

Hernina lahir dari keluarga muslim, anak ke-3 dari 5 bersaudara. Umur 5 tahun mamanya meninggal, dan dia langsung dititipkan ke neneknya, yaitu orang tua dari papanya. Papanya sendiri merantau ke Surabaya. Hernina tinggal di Kalimantan Timur dengan neneknya.

Kelas 1 SD Hernina ikut anak dari neneknya. Kelas 2 SMEA, Hernina kembali ke Balikpapan. Kakaknya membiayai sekolahnya sampai kelas 3 SMEA. Waktu itu ia mengambil jurusan Tata Buku. Begitu tamat Hernina bekerja di suatu perusahaan sebagai accounting.

Awal Perjumpaan

Tahun 1982 Hernina pindah bekerja di sebuah perusaan kontraktor yang terkenal. Posisinya sebagai sekretaris. Disinilah awal pertemuannya dengan ‘Bapak’.

“Dia sebagai kepala cabang dari Jakarta. Saya ada di perusahaan itu sebagai sekretaris. Saya tahu dia sudah punya istri tapi bagi saya tidak menjadi halangan untuk meneruskan hubungan saya dengan dia. Satu saat saya diajak ke tempat tinggalnya, dia mulai nyetel film porno. Mula-mula saya malu ngeliatnya, tapi akhirnya saya melihat juga. Kami sama-sama melihat, kami menikmati, tidak ada rasa takut atau apapun juga.”

Alasan Hernina Menjalin Hubungan Dengan ‘Bapak’

“Diperusahaan itu memang saya satu-satunya perempuan yang bekerja di sana. Mulanya saya biasa saja, tapi entah mengapa saya mulai mendapat perhatiannya, dan saya jadi senang karena saya melihat figure bapak dalam dirinya, mungkin selama ini karena saya tidak mendapatkan figure bapak. Waktu itu umur kita beda jauh, dia umur 42 sedangkan saya umur 19 tahun. Saat dia mengajak saya makan dan kalau janjian bertemu dengan saya selalu tepat waktu dan selalu ditepati, mungkin karena dulu saya biasa berjanji dengan teman pria yang lebih muda selalu saja mereka ingkar janji, disitulah mungkin kelebihan figure ‘bapak’ di mata saya, jadi di samping sebagai teman dan kekasih, dia juga seperti orang tua yang ngemong.”

Tahun 1984 Hernina menikah dan sejak saat itu hidupnya dipenuhi dengan kemewahan. Namun masalah sudah menanti ketika Hernina pindah ke Jakarta. Awalnya istri pertama ‘bapak’ pasrah saja. Tapi dalam suatu kesempatan, istri pertama ‘bapak’ melabraknya. Sampai akhirnya dibuat kesepakatan antara ‘Bapak’, istri pertamanya dan Hernina. Tapi Hernina merasa dirinya selalu berada di pihak yang mendapat perlakuan tidak adil.


Kejadian itu cepat terlupakan oleh Hernina. Tahun berlalu, karena kesal dengan ‘Bapak’ kehidupan malam mulai meracuni Hernina. Pesta pora, narkoba dan perselingkuhan pun menjadi kebiasaan Hernina.

“Karena saya kesepian dan banyak waktu kosong, kesempatan itu ada, juga uang mendukung, ada kendaraan”.

Perselingkuhan Hernina diketahui suaminya. Pertengkaran pun terjadi.

“Yang tadinya saya menganggap dia seorang suami yang selama ini saya idam-idamkan, tapi pada saat itu semuanya hilang. Berganti dengan kebencian, kemarahan dan kesakitan. Karena pada waktu itu paha saya sampai biru-biru.”

Hernina memutuskan untuk melupakan kejadian itu dengan bersenang-senang memakai narkoba. Kehidupan malam meracuninya selama bertahun-tahun. Suatu malam saat Hernina menikmati narkoba bersama teman-temannya, sesuatu yang ia takuti terjadi. Tempatnya berpesta narkoba digerebek polisi.

“Saya dalam hati begini, ‘Waduh, bagaimana saya kalau di penjara?’ Saya tidak ada barang bukti sehingga saya dilepas. Saya merenung, saya ingat sekali Tuhan berkata pada saya, ‘Stop! Stop!’. Itulah terakhir saya memakai shabu-shabu, juga narkoba dan yang lainnya.”

Hari itu Hernina mengambil keputusan untuk meninggalkan hidupnya yang lama. Iapun menemui seorang hamba Tuhan. Saat hamba Tuhan itu berdoa, ia teringat dengan sebuah Firman yang pernah ia dengar di sebuah pertemuan ibadah.

“Di situ dikatakan Tuhan Yesus itu adalah Allah yang penuh kasih. Dia datang ke dunia ini mencari orang yang berdosa. Saya merasa saya melakukan perzinahan. Akhirnya saya menerima Tuhan Yesus dan saya juga harus mengambil keputusan walaupun berat. Saya bilang, ‘Pa, mulai sekarang kita tidak boleh lagi melakukan hubungan suami istri’.”

Tekad Hernina sudah bulat. Iapun meninggalkan semua kekayaannya. Namun tuntutan ekonomi menekannya. Dalam kebingungannya membayar biaya sekolah anaknya, Hernina meminta pertolongan pada ‘bapak’. Tapi permintaan itu hanya akan dipenuhi jika ia mau melayani ‘bapak’. Ternyata itu hanya janji belaka.

“Saya menangis. Saya malu sekali sama Tuhan. Saya anggap itu perzinahan saya yang terakhir.”

Hernina tidak mau berlama-lama jatuh dalam dosa. Dengan dukungan seorang hamba Tuhan, Hernina kembali bangkit.

“Saya akui semuanya. Terus saya minta ampun sama Tuhan. Kehidupan yang pernah saya alami, baik sebagai istri muda, baik sebagai pemakai narkoba, semua itu sia-sia.”

Kini Hernina dan kedua anaknya hidup dalam iman dan pengharapan kepada Yesus Kristus.

“Saya bersyukur, setiap bulan saya bisa bayar kontrakan rumah. Setiap bulan saya bisa bayar uang sekolah anak saya. Setiap hari saya bisa kasih makan anak-anak. S’bab Tuhan tidak pernah membiarkan kita. Bandingkan dengan kehidupan saya yang lama. Saya sangat-sangat bahagia hidup bersama Tuhan. Yesus cukup. Itu yang membuat saya bersyukur.”

Jika kita mau mengalami perubahan, maka harus dimulai dari hati. Dosa selalu mengakibatkan masalah yang lebih besar. Bisa saja dengan alasan kesepian, dan yang lain, tapi bila kita melakukan dosa, akibatnya itu makin parah. Kalau kita ingin mengalami perubahan, maka tidak ada cara lain, kita harus berubah dan dimulai dari hati kita. Bertobat, meninggalkan yang salah, dan mulai melakukan yang benar.


Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:12-13)

Saya menemukan Kebenaran Sejati di dalam Tuhan Yesus (Johnyanto Situmorang)

Keterlibatan Johnyanto dengan ilmu hitam sudah dimulainya sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Memang kebetulan nenek saya dari mama saya adalah seorang dukun. Jadi semenjak kecil saya sudah melihat dan mengenal seluk-beluk tentang praktek perdukunan. Orang-orang dari berbagai daerah sering berkumpul di rumah kami. Mereka datang meminta tolong dan meminta keselamatan atau kekuatan dari nenek saya. Namun banyak juga yang datang dengan kepentingan lainnya.

Semasa kanak-kanak Johnyanto diperkenalkan oleh teman sepermainannya kepada seorang dukun. Kepada dukun inilah Johnyanto mendapatkan pelajaran dasar tentang ilmu hitam.

Mungkin karena pikiran anak-anak, jadi ketika teman saya menawarkan apakah saya mau dikenalkan kepada seorang dukun yang bisa mengajarkan saya kekuatan dan ilmu yang hebat, saya segera menyanggupinya. Namun kedua orangtua saya tidak mengetahuinya karena memang kita para murid dukun tersebut tidak diperbolehkan untuk pamer ilmu kepada orang lain.

Hari lepas hari, tahun demi tahun karena keterikatannya terhadap lmu hitam membuat Johnyanto memutuskan untuk merantau.

Saya putuskan merantau ke Aceh. Di sana saya mendapatkan pekerjaan. Di Aceh juga saya kenal dengan seorang anak pejabat. Dia adalah seorang guru silat. Jadi dialah yang selanjutnya mengajar saya untuk memperdalam ilmu kebathinan dan silat.

Setiap minggu kita harus datang latihan. Satu latihan secara fisik dan satu lagi latihan menggunakan mantera-mantera. Semenjak itu saya menjadi haus untuk semakin dalam mempelajari ilmu hitam. Dimana orang bicarakan ada dukun sakti, saya selalu berusaha menemui dan berguru kepadanya. Saya selalu mencari kemana-mana untuk menambah ilmu juga menambah jimat-jimat untuk keselamatan.

Tidak puas dengan ilmu kebathinan yang dia miliki, Johnyanto pun mulai bertapa di makam-makam yang dianggap keramat.

Pada saat itu kita para penimba ilmu kebathinan sama seperti anak sekolah. Saya ingin menimba ilmu terus-menerus. Namun sebaliknya, semakin saya mendapatkan ilmu baru sepertinya saya merasa semakin kurang dan semakin kurang.

Namun semua ilmu-ilmu itu membuat kehidupan Johnyanto semakin kacau. Selama bertahun-tahun kehidupan Johnyanto tak lepas dari judi dan minuman keras. Hingga suatu hari Johnyanto mebaca sebuah buku tentang Tuhan.

Begitu saya membaca buku tersebut, rasanya seolah-olah buku itulah yang menjadi jawaban atas semua pergumulan saya selama ini. Karena di dalam hati saya selalu bertanya-tanya tentang siapa itu Pengikut Kristus.

Dari buku inilah saya mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Saya putuskan tidak lagi bersandar kepada ilmu atau kekuatan apapun lagi karena saya sudah mengetahui bahwa hanya dengan bersandar kepada Tuhan saja kita mendapatkan perlindungan dan keselamatan.

Sejak saat itu saya benar-benar membuat komitmen untuk meninggalkan semua ilmu hitam, judi dan minuman keras.

Tuhan yang mengasihi. Tuhan yang bijaksana dan Tuhanlah yang mencukupkan segala yang saya butuhkan. Satu hal yang mau saya lakukan untuk Tuhan. Saya mau melayani Tuhan sampai akhir hidup saya.

“Dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.” (Filipi 3:9)

20 Tahun dikuasai Roh Jahat (Mangontang Siahaan)

Mangontang Siahaan dilahirkan di suatu kota kecil pada tanggal 21 Maret 1964 di Pematang Siantar, Sumatera Utara dan merupakan anak kesepuluh dari dua belas bersaudara. Sejak kecil Mangontang sudah mendapat disiplin dan didikan yang keras dan anak yang taat pada orang tua terutama kepada ayahnya. Pada waktu itu ayahnya selalu mengajarkan untuk setiap minggu beribadah dan berserah kepada Tuhan. Tetapi pada tanggal 14 Desember 1979 di mana sang ayah dipanggil Tuhan di usianya yang ke-80, Mangontang merasa terpukul dan sangat kehilangan karena dia sangat dekat dengan ayahnya.

Kedatangan Tamu Misterius

Hal yang tidak pernah diduga sebelumnya oleh keluarga Mangontang. Seorang pria misterius datang dalam kehidupan mereka. Pria tersebut adalah adik ibunya yang datang dari Aceh dan sudah 20 tahun lebih tidak pernah ada komunikasi dengan keluarganya. Pamannya itu adalah seorang muslim sejak berumur 14 tahun dan sudah naik haji..

Saat itu pamannya menginap di rumah dalam jangka waktu yang cukup lama. Selama waktu itu, banyak orang sakit yang disembuhkan pamannya. Namun Mangontang tidak pernah tahu siapa pamannya itu. Sampai sebuah kejadian mistik terlihat olehnya. Paman Mangontang yang telah kerasukan roh-roh jahat membuatnya berjalan merangkak dan meminta daun-daunan kepada Mangontang. Roh yang telah memasuki tubuh pamannya membuat dia melahap semua dedaunan tersebut. Mangontang baru sadar siapa sebenarnya pamannya.

“Saya lihat sendiri mata dia melotot dan semua gigi dia bukan seperti gigi manusia.”
“Daun-daunan hanya untuk dimakan. Dan minumannya bukan air putih. Dia minta air yang dari ledeng. Dan waktu itu tunjuk-tunjuk jarinya ke saya terus.”
“Paman saya cerita bahwa dia punya orang yang ini-ini...yang ini... Barulah kami tahu bahwa paman saya ini rupanya dukun.”

Kasih sayang yang besar tampak diperlihatkan pamannya kepada Mangontang. Di balik kasih sayangnya, ternyata ada tujuan terselubung.

“Saya pun sama dia tidur bersama. Dan dia terus-terus menyelimuti saya.”
“Menurut paman saya ini, dia dari tiga kali menikah anaknya tetap satu. Jadi, supaya dua dia akan ambil anak dari kakaknya untuk jadi anaknya.”

Tapi ibu Mangontang tidak mengijinkannya. Paman Mangontang yang lain juga tidak mengijinkan untuk Mangontang dibawa pergi. Akibat keinginannya tidak terpenuhi, pamannya meninggalkan rumah Mangontang. Namun di sinilah Mangontang mulai mengalami penyakit yang aneh.

“Pada malam itu saya tiba-tiba kesurupan. Berguling-guling dan badan saya pun seperti papan. Tegang. Dan saya disuntik oleh kakak saya yang dokter supaya jangan berguling-guling lagi dan saya sadar.”

Hal yang anehpun terus dialami olehnya. Ketika ibunya membawakan nasi bungkus untuk keluarganya, Mangontang menghabiskan semua nasi bungkus itu sendirian.

“Mereka lihat saya makan semua makanan itu. Dan ibu pun mulai heran. Kok bisa habis semua? Dan anehnya saya makan itu bukan seperti orang makan seperti biasa. Kadang-kadang bisa seperti anjing, kadang-kadang bisa seperti burung, tapi kakak saya waktu itu mengatakan ‘Ah, ini dibuat-buat dia’”

Akibat menderita penyakit aneh tersebut, Mangontang harus mengkonsumsi obat seumur hidupnya.

“Kakak saya yang dokter kasih saya obat untuk epilepsi. Karena dia bilang ini epilepsi. Biasanya itu terasa sama saya penyakitnya datang jam 5-6 sore atau jam 4-5 pagi.”

Mangontang terus menderita penyakit aneh tersebut bahkan sampa dia menikah. Tetty Tobing, istrinya menceritakan pengalaman itu.

“Waktu kejadian itu, dia mengerang. Saya panik, saya teriak terus kita bawa ke rumah sakit.”
“Sebelum sampai di rumah sakit dia sudah sadar. ‘Ngapain saya kok dibawa kesini. Ga ada apa-apa kok’ katanya gitu. Ya sudah, saya bawa pulang lagi.”

Tidak pernah ada harapan untuk sembuh dalam diri Mangontang. Penyakit yang aneh itu terus menggerogoti hidupnya. Memang akhirnya kuasa roh yang membuat Mangontang seperti menderita suatu penyakit aneh itu menguasai Mangontang sampai 20 tahun. Dan ini membuat hidupnya semakin hancur. Bukan hanya dia yang susah, tapi seluruh keluarganya. Orang-orang di sekitarnya merasakan penderitaan dan kesusahan yang terus-menerus.

Bagi Mangontang, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain berdoa.

“Tuhan lindungi saya. Kalau memang ada kesalahanku, kalau memang saya ada makan sesuatu atau melakukan sesuatu, atau dari keluargaku, atau dari orang tuaku.”
“Tapi penyakit itu sekali dalam seminggu atau sekali dalam sebulanlah kalau saya rata-ratakan, penyakit itu pasti ada kambuh.”

31 Juli 2001

Mangontang tidak pernah menyangka dalam keadaan yang baik-baik saja ketika pulang kerja, suatu peristiwa yang paling mengerikan akan dialaminya. Istrinya menceritakan pengalaman mengerikan tersebut.

“Suami saya matanya merah luar biasa. Kayaknya bukan dia. Kayak ada kemasukan sesuatu. Dengan buru-burunya suami saya ini diangkat. Pertama-tama dengan dua satpam yang ada di depan rumah tapi tidak bisa diangkat juga. Akhirnya satpam kerahkan teman-temannya sampai ada tujuh orang.”

Satpam yang tengah membantunya tetap tidak bisa mengangkatnya. Akhirnya Mangontang diseret menuju ke mobil.

“Kakinya sudah kaku. Nafasnya sudah tidak ada lagi. Sudah kaku tangannya. Mukanya sudah biru.”

Mangontang akhirnya dibawa ke rumah sakit. Kondisinya sangat kritis. Namun tiba-tiba dia sadar.

“Ada sepuluh orang perawat memegang tangannya tapi tidak bisa karena kuat sekali tenaganya. Jadi dia harus diikat tangannya, kayak tenaga dalam gitu, ada tenaga yang luar biasa kuatnya. Entah apa yang ada dalam tubuhnya.”

Melihat kondisi suaminya yang tidak ada harapan, sang istri hanya bisa berdoa.

“Tolong Tuhan, Tuhan Yesus, karena Kaulah Tuhanku, Engkau akan menolong saya dan Engkau akan memberikan mujizat kepada saya.”

Dua hari kemudian

Mangontang kembali sadar. Namun tampak sosok aneh terlihat pada wajah Mangontang.

“Dia bertanya ’Mana istri saya’ gitu. Terus saya datang ke dalam, ‘Kenapa kamu bawa saya ke sini’ katanya. Saya bilang, ‘Bapak kan sakit?’ Dia jawab, ‘Enggak, saya ga sakit. Buka tangan saya, kenapa diikat. Pulang, saya mau pulang’.”

Mangontang akhirnya dibawa pulang. Perilaku aneh kembali diperlihatkannya.

“Memang dia sadar tapi drastis sekali. Minum teh manis sepuluh gelas. Sama makan juga langsung tiga piring pada saat itu.”

Melalui informasi dari adik Mangontang, ternyata Mangontang menyimpan sebuah benda mistis pemberian pamannya berupa cincin. Adik Mangontang mengambil cincin itu dan membuangnya ke sungai.

“Jadi pada saat cincin dibuang, memang terjadi reaksi pada suami saya. Kumat lagi penyakitnya. Kami sudah berdoa, sudah kayak teriak-teriak memanggil-manggil Tuhan, ‘Oh Tuhan, tolong Tuhan, tolong suami saya’. Mertua saya bilang ‘Tolong anak saya Tuhan’. Dan malam itu tidak terjadi apa-apa karena kami berdoa terus.”

Seorang hamba Tuhan dipanggil untuk mendoakan Mangontang.

“’Kamu siapa?’ kata suami saya gitu. Dia bilang ‘Saya hamba Tuhan. Saya mau mendoakan kamu’. ‘Tidak, tidak usah’ tapi sambil matanya sudah merah begitu. Tapi hamba Tuhan itu langsung mendoakan. Suami saya sepertinya marah gitu, mukanya berubah seperti adik mertua saya, seperti omnya, pamannya suami saya. Mimiknya katanya seperti itu.”

Keluarga Mangontang sangat yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup melepaskan Mangontang dari keterikatannya akan roh jahat.

“Hamba Tuhan itu bertanya, ‘Bapak, saya mau tanya, Tuhan Yesus itu ada di mana sekarang?’ gitu”.

Mangontang pun berbagi cerita mengenai pengalaman tersebut.

“Nah di situ saya pertama-tama masih belum bisa jawab sampai pendeta itu bertanya pada saya tiga kali. ‘Yesus sekarang berada di mana?’ Lalu saya jawab, ‘Yesus ada di hati saya.’”

Untuk benar-benar terbebas dari kesurupan, semua jimat-jimat yang dimiliki ibunya hasil pemberian adiknya sendiri dibakar habis. Saat itu barulah Mangontang merasakan bahwa ia telah dipulihkan dari kesurupan yang dideritanya selama 20 tahun. Mangontang dan istrinya mengucap syukur kepada Tuhan.

“Sejak itu saya sehat, tidak ada lagi penyakit itu sampai sekarang. Ya, itu ada makna besar bagi keluarga kami. Kenapa? Disitulah kami benar-benar merasakan jamahan Tuhan dalam keluarga kami. Satu yang saya pegang dalam hidup saya, tanpa Yesus, tidak mungkin kita dapat melakukan sesuatu.”

“Puji Tuhan sejak kejadian itu sampai sekarang, sudah tidak pernah terjadi lagi.”


Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus (II Korintus 4:6)

The Man Who Saved My Life

For as far back as I can remember, back as far as 3 or 4 years of age, I was able to see the spiritual realm. As a child, I saw what I called “the invisible people.” At times, they would appear and tell me things about others. At other times, one would appear that I was afraid of. It was dark in color and larger than the rest. I called it “the shadow person.” It stood in the corner of my room and just stared at me. When I cried out for help, my family could not see it. As I grew older, the dark one stopped appearing. Medical experts diagnosed this to be a childhood imagination. The problem with their explanation is that this was not my imagination and I continued to see the invisible people, spirits, into adulthood. Most everyone whom I spoke to about this did not believe. So, I ceased talking about these things and kept most all of my experiences to myself.

My family was soon torn apart and I ran away. I became very bitter. I felt that nobody understood me. Nobody seemed to believe me and I was mad at the whole world. My heart became hard and I did whatever it took to get what I wanted. I hurt many people and I did not care.

My life was soon filled with earthly pleasures. Sex, drugs, alcohol, materials things. I was always seeking something to make me feel good. But none of these lasted. Deep inside, nothing had changed. My heart was still the same as before, hard and empty.

One day, I started seeking the paranormal and supernatural. When I found that others had similar experiences and also saw the spirits, I decided that I was going to use my gift to foretell the future. I called upon the spirits for answers. At times they appeared in form that others could relate to, usually someone who had passed on. I practiced tarot cards, numerology and sometimes astrology but calling the spirits and giving “psychic readings” was what I did. The books that I had read mentioned God and some even had prayers. These books spoke of doing “good” so it seemed right, for a while anyway.

One night, I lit candles and I began to call the spirits. Only this time, they did not appear to be loved ones who had passed on. They did not appear to be human at all and I began to feel very uncomfortable. Then, an entity appeared before me. An elongated, distorted, dark face was full of hate and was cursing. The thing told me that I had angered it and I was going to feel this anger. I became extremely frightened. Then my hand began to hurt. It felt like all of the moisture was leaving, like it was drying up. My hand was suddenly moistened. It burned.

After that, the spirits would appear only now I saw them as monstrous. I no longer had to call them. They appeared whenever they wanted to. When the demons came, they tormented me. Bad things began to happen in the earthly realm. I was robbed. I was beat up. I lost my home. I lost my car. I was arrested. I was in several accidents. I was raped. I was ill most all of the time. I was hospitalized. One of those times I had lost a lot of blood and I almost lost my life. Once, the demons entered my body and their noise overpowered me. I lay helpless trying to scream out. I felt as heavy as 3 or 4 large bodies were upon me. I could not speak nor move.

As the demons continued to torment me, I started to think about God. For the first time that I can remember, I was actually “praying.” I asked God to help me. But I had doubts. I remember praying “If there is a God” and “If you can hear me.” I doubted because of all the things I had done in my past. I just thought that if there was a God, I was so bad that God would reject me. But my life was falling fast and the demons were trying to kill me. I knew that no person would be able to help me. I thought that no one would believe me anyway. I had nothing else. God was my only hope.

One day, something inside of me told me to get out, to just leave. I was so convicted and believed that this was what I had to do. So, I packed what little I had left and I fled. It took all the money I had when I moved to the other side of the country and I never looked back at the huge mess I left behind.

Once I arrived at my new home, I had one solid month of rest. It was wonderful. But absolutely nothing can compare to what was about to come.

As I sat in my bedroom, a spirit appeared. I did not fear this time because he was different than those I had seen before. There was a calmness and peace about him. I knew that he would not hurt me. He looked like a man but I was in awe of his presence. I felt extremely small, like a child, and even though he appeared like a man, his presence overtook the entire room. He had white hair and a white beard. He wore a long white robe with a gold sash around him. His hands were hidden in the sleeves of his robe. I could not see his eyes; I could only see his lips. He was only there for a moment but shared what seemed to be hours of time with me. He spoke but his lips never moved. Then, I began to see visions. I saw a great war. I saw evil forces and wickedness. I saw a multitude of sin and each appeared like a demon. I saw an angel of light but it deceives the world because it is really Satan the devil, the evil one. I saw that it came here to the earth and it lies to us all. I then heard the words “It is forbidden. Do not do it again.” And I knew I was forbidden of sorcery, of witchcraft. I knew that I had been delivered from the grips of hell.

The very next afternoon there was a knock at my front door. A visitor came and he had a Holy Bible with him, a book I had not read. I immediately shared about the man who appeared that I met the day before. I told him that I believe he was sent from God. He said, “He was sent from God and came to this world in the flesh.” He then took me to the scripture and asked me to read aloud:

- Revelation 1:13 and among the lampstands was someone like a son of man, dressed in a robe reaching down to his feet and with a golden sash around his chest. 14 His head and hair were white like wool, as white as snow -

That was as far as I got when my mouth dropped open. I looked up at my visitor and he said,

“You met the Lord.”

I was so filled with such overwhelming joy and to this day, He has never left me. The Lord Jesus Christ, My Savior is The One True Living God.

The Lord gave me a new heart. I now live a blessed life. And because of God's merciful grace, I have been given the promise of eternal life even though I do not deserve it. For this, I am forever grateful.

John 3:15 - and everyone who looks up to Him, trusting and expectant, will gain a real life, eternal life.




Rabu, 20 Februari 2008

Leaving Mormonism for the Lord (Jennifer)


Hello Everyone!
This page is built to share with anyone who has an interest in God and the teachings of the Church of Jesus Christ of Latter Day Saints. My purpose is to share my own experience about how God has changed my life and lifted me up into HIS hands. You see, I used to be a member of the LDS Church. That was, until, the Good Lord carried myself and my family out of the bonds of Satan. As of today, I have Rededicated my whole life to Jesus Christ who is and always will be the ONLY one I focus on. Here is my story.


I was raised in a church called Calvary Baptist Church. I attended regularly growing up. I was always close with the Lord asking him to come into my heart tons of time as a child. I was baptized at the age of 9 as a Christian. But as a teenager, I pulled away from the church and Kinda took my own path.

When I was 18, I took interest in the Mormon church, wondering what they were all about. My soon to be husband (Jim) was Mormon already and the religion seemed so wonderful. So much more than I had at the time. We had just had our first child together and Jim seemed so happy. He had something that I had never seen in him before. And after all, if it wasn't for him becoming Mormon and changing his life, we wouldn't have gotten back together.

I received my 6 lessons and was baptized into the Church of Jesus Christ of Latter Day Saints March 3, 1993. Looking back now, after 9 years, I see what happened here. I was ignorant to the Bible, and had never read it. I did not have a personal testimony of Jesus Christ and everything that I would ask the missionaries about, they had a verse out of the Bible to Kinda 'cover over' what I was asking. I remember being excited about being baptized because it was so much bigger than I was. For the first time, I was going to be a part of something big. And I loved the Lord, and it just felt 'right.'

We got married 3 months later and I remember being 'torn.' My heart was pulling at me, and every time I turned around, I was trying to justify these feelings. I would call my mom and my dad and cry. I wasn't positive that joining the mormon church was right, but hey. I decided to give it my all.

Throughout the years, we would go to church and get involved with the members, but my biggest complaint was that nobody was ever happy. Nobody ever had that 'joy' burning inside of them. It was always serious, and gloomy. I always wondered why? Why wasn't anyone reaching out and hugging? Instead, it was always a hand shake and reverence. Which is fine, but I wanted to shout at the top of my lungs how much I loved God.

Sometimes we would become "inactive members" because of my inner feelings. There were times where I felt it was better to stay at home than go to church at all because my roots of Christianity were pulling at my heart. But I was still Mormon. And the family values and the 'Together Forever-ness' was a really great trait of the church. I loved Family Home Evening, and the high values of the members. There were times when I would ask myself, "How can all of these people be wrong? And if THIS church ISN'T true, which one is? And how could Joseph Smith write the whole Book of Mormon and the Doctrine and Covenants by Himself? There was just no way! And who am I to say that God Himself didn't appear to this young man?" I was finding every reason under the sun to justify my beliefs.

About one year ago, I was really searching for the Lord. We had become Inactive again for about 2 1/2 years this time. We had a death in the family in 1998, and I pulled away from the Lord. I was angry and bitter. I fell apart at the seems. And so did Jim. But I realized that I needed the Lord. HE had to help me. I knew he could help me fill that empty void in my life. So I went to a church called Joshua Springs Calvary Chapel here locally. And I loved it. The Pastor prayed with me in a prayer circle and prayed that I might have guidance to be able to leave the Mormon church and bring my husband with me. (Which in all actually Kinda irritated me. Because I WAS saved and throughout the years, it was hard pressed that the "Christians" were SO judgmental.) It seemed that after I got home from church that day, Jim was not mad, but distant. I wanted to make him happy. (I Kinda felt like I betrayed him) After all, I didn't know EVERYTHING about the Mormon church. (We were encouraged NOT to do research) It had a good foundation. It was family oriented. It had everything that a good church should have. Needless to say, we went to the Mormon church the following week. This is where I decided I was for once going to give it MY ALL. I wanted to KNOW for once and for all if the church was true. (I wanted that ‘burning in my bosom’ that I never got) We went to church faithfully every week for the last 14ish months. We both had callings, Jim is a Priesthood holder. We went to the Las Vegas Temple and were sealed and took out our endowments. I just knew this was right. Because I felt the 'spirit' inside of me, and I just knew what I was doing was right. For once I wasn't praying to the Lord to help deliver me out of the church. I was praying thanking the Lord for putting me there.

But something changed. And very quickly. Even though it had been 8 years of my heart pulling at me, for this year, I was content. I was happy. I knew that the church was true.

This is where the end started to unravel. For 2 weeks, I was so depressed. I was so sad. I was hopeless. Christmas was coming, and I wanted to have a glass of wine. But even the thought of it drove me crazy. I was thinking- "How in the HECK do you allow yourself to think that way? Why do you need to have a glass of wine at Christmas? What is wrong with you?" And I was also drinking energy drinks. And because of that, I would think to myself, "If you are hooked on these, then how do you expect the Holy Spirit to dwell with you? If you have formed a habit, he will not be with you, Jennifer. Your so worthless. Cant you even stop drinking these for the Lord?" (All it was is a Red Bull) And another issue I had. I LOVE MUSIC. I mainly listen to Pop or Top 40, but every time I would put it on, I was so guilty. Because I 'should' be listening to church music. I need to be 'in the Spirit' at all times. And If I'm not, then I'm a bad person. Another issue for me was wearing the Garments. Here I am 28, and I was wearing these underwear down to my knee. I felt ugly and sometimes I would *wish* in my head that I could take them off. And because I would have those feelings, I thought to myself, "How in the world can you think that way? You are selfish and you are worthless." Because of these relentless feelings, I started to question the church. I am NOT perfect, nor will I ever be. And they teach that if you are not perfect, or at least do your best to try, then you will hold your family back from eternal progression. (Will not make it to the Celestial Kingdom- the highest level of Heaven) I just didn't want to go on. I just couldn't believe that My God would make my whole family suffer if I had shortcomings. There were other factors that played into this as well. Everyone was SO perfect, and always judging and criticizing. Me, being the perfectionist that I am went to the top. I ran. I obeyed the Word of Wisdom. I was trying to be Perfect in all sense of the meaning. I was devoting my whole life to the 'religion.' I put my side of the family on the back burner. (They are all Christians) And I decided with or without them, I was Mormon. And "Christians" just didn't understand. But one day they would. When the good Lord came, they would sure realize how wrong THEY were. Those hypocrites. Drink on Saturday, repent and go to church on Sunday. I was the one thinking I was perfect and they were all luke warm.
How Sad that I thought that way. I apologize with my whole heart to my whole family and Christians in general.

I needed someone to talk to. So I talked with my sister who mentioned some tapes at her church. I wanted them, and I wanted them NOW! Sure enough, the next day I watched, “The Mormon Dilemma,” “Joseph Smith and the Temple of Doom“, and the “Temple of the God makers.” Ok. The tapes were overwhelming. I had heard of some of the things they talked about on the tapes throughout my years of being Mormon and when asked different members of the church about them, they all had different answers. It seems that the members of the church don't even know the whole truth. (Like the Adam-God theory. Or Jesus being conceived out of Sexual relations with God the Father and the Virgin Mary.) Now, when I watched these videos, it was a Thursday afternoon when Jim was at work. These videos really made me question the "Religion" that I was in, and our beliefs. But what was to come next was NOTHING that I expected. This story is coming to an end, and here’s why.

After doing some extensive research on the church, we found out that the Temple Rituals were started by the Free Masons and we never realized hidden things like the upside down pentagrams on the "Holy Temples." It turns out that the Temple Ritual is completely surrounded by Satan himself. And I can say this because I HAVE been through the Temple.

Since then we have prayed about our decision to leave the LDS church and have come back to the Lord! We learned that the Mormon God is a different God taught by a different Gospel. And the Mormon Jesus is not the Biblical Jesus as taught by the Disciples in the Holy Scriptures. For some reason Mormons believe that the Book of Mormon is the "most correct book on earth" and that the Holy Bible has been passed down through, "Dirty Hands," as our local Elder told me 2 weeks ago. That was NOT what I EVER believed as a Mormon. I think it is VERY selfish to want to become Gods. In fact, Jesus kicked Satan out of Heaven for wanting to become God. Shouldn't that be a lesson to man? Satan promised Eve that if she ate the fruit, "ye shall be as gods, knowing good and evil." It was Satan's promise! And how arrogant that Man doesn't think that God did it right the first time around. Instead, they said that the church "fell away" and it was "restored" by a prophet named Joseph Smith. But in Galatians 1: [8] But though we, or an angel from heaven, PREACH ANY OTHER GOSPEL unto you than that which we have preached unto you, let him be ACCURSED. God did it right the first time! He sent his only begotten son to fulfill HIS will. If he didn't do it right the first time like the Mormons think, then Christ died in VAIN. What is wrong with this picture?

As a member of the church, you are considered a "Spiritual Baby," and there is always secrets. Things that you learn "Later On," when THEY feel you are ready. They don't want to feed you "meat" before the "milk." I just found out about the planet Kolab 6 months ago from my sister of all people!

Please, if you are Mormon, do some research. I'm here to talk with anyone who has ANY questions. We can pray. We can cry. We can giggle. What ever you want! I'm here!

Where are we know? Who would of thought? Here we are today loving God, and praising HIM! Not a man. Or a Church. Or a "Religion."

Since this all happened, I have rededicated my whole life to Jesus Christ, and we have mailed in our letters to the LDS church to have our names removed. (*UPDATE*- Just today I received a letter from our local Bishop and our names are in the process of being removed. But I might add that we are in “jeopardy” of losing our “eternal salvation,” as well as our children’s eternal salvation. And we are going to suffer extreme consequences.) All this for leaving a CHURCH? Wow. Now that would be a cult my friends.

It seems that after 9 years of being a 'closet Christian' the Lord saved me when he knew that he had lost me. He came in, and swept me out of the hands of Satan and used me as a tool to save my husband as well. I wasn't even asking him to save me for once, I believed that he wanted me in the Church of Jesus Christ of Latter Day Saints.

Below you will find links to my most favorite sites about Mormonism. You will also see that I have linked my Exit letter to the church. I will also post some of those pictures that I was talking about. And just as soon as I receive my Ex Communication letter from the church, I will scan it and post it as well. I cant wait!

If you have any questions about the Church, don't sit there. The time has come my friend for you to do some research. Read your Bible. Not the Book of Mormon. Don't go on a feeling that you 'think' is from God. Even the Missionaries told me that Satan can answer our prayers. I'm not sure if that is true or not, but I know that he was leading me, and I was lost. But Now, I'm found. Thank you Jesus!